Kerasnya Hukum dan Akibat Minuman Keras

0
405
minuman keras
Ilustrasi

Oleh M. Ali Yunus

Berdasarkan sudut pandang agama Islam, terdapat beberapa hal penting yang berkaitan dengan minuman keras (miras) dan sejenisnya. Pertama, mengonsumsi miras tergolong kepada rijsun. Dalam Al-Qur’an, kata rijsun dipergunakan hanya sepuluh kali dalam tujuh surat, yakni surat Al-Maidah: 90, Al-An’am: 125 dan 145, At-Taubah: 95 dan 125, Yunus : 100, Al-Hajj : 30, dan Al-Ahzab: 33. Dari ketujuh surat tersebut, kata rijsun berarti perbuatan keji, perbuatan dosa, menyesakkan, kotor, kekafiran, dan siksaan. Dengan demikian, kata rijsun berarti perbuatan keji, jahat, menjijikkan yang akan mengantarkan seseorang kepada kekafiran, dan mendapat siksaan Allah. Semua kekejian dan kejahatan yang yang terkandung dalam kata rijsun terkumpul dalam satu perbuatan, yakni ketika seseorang mengonsumsi miras. (Tafsir Fakhrurraji, Juz XII : 84).

Kedua, mengonsumsi miras merupakan perbuatan setan yang mengakibatkan mabuk. Seseorang yang mabuk akan kehilangan akal sehatnya yang berujung kepada tindakan yang banyak menimbulkan permusuhan dan kebencian. “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)!” (Q. S. Al-Maidah : 91).

Ketiga, tidak boleh menghadiahkan miras. Ajaran Islam melarang kita memberikan hadiah miras dan sejenisnya, sekalipun kepada nonmuslim yang suka meminumnya. Keempat, tidak boleh menghadiri suatu acara yang didalamnya disediakan minuman keras, sekalipun kita tidak ikut meminumnya. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia duduk di tengah-tengah suguhan makanan yang di dalamnya disediakan miras” (H.R. Ahmad).

Al-Qur’an telah menjelaskan miras dan sejenisnya memberikan sedikit manfaat, namun mudharat yang ditimbulkannya jauh lebih besar. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah! Pada keduanya terdapat dosa besar dan bermanfaat bagi manusia, tapi mudaratnya lebih besar dari pada manfaatnya.” (QS. Al Baqarah: 219).

Tak dipungkiri, secara ekonomi, banyak orang yang bisa mendapatkan uang dari menjual miras, namun dampak negatifnya lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh. Semua kalangan telah mengakui, banyak tindak kriminalitas, timbulnya berbagai penyakit, bahkan korban jiwa yang sumber awalnya adalah mengonsumsi miras dan sejenisnya.

Kelima, laknat akibat dosa dari mengonsumsi miras bisa berlaku massal. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan, berkenaan dengan minuman keras dan sejenisnya, Rasulullah saw telah melaknat kepada sepuluh golongan, yakni pemasok bahan untuk membuat miras; produsen; konsumen; distributor; pemesan miras; pelayan yang menyajikan miras; penjual miras; orang yang memakan hasil dari penjualan miras; orang yang membeli miras; dan orang yang menyuruh dibelikan miras.

Menurut hukum positif terdapat penggolongan minuman keras berdasarkan kadar alkoholnya. Golongan A adalah minuman keras dengan kadar etanol/alkohol 1%-5% (bir), golongan B adalah minuman keras dengan kadar etanol/alkohol 5%-20% (anggur/wine) dan golongan C adalah minuman keras dengan kadar etanol/alkohol 20%-45% (Whiskey, Vodca, , Manson House, Johny Walker, Kamput, dll).

Ajaran Islam tidak mengenal miras golongan A, B, C, atau apapun namanya. Ajaran Islam hanya memiliki kriteria utama dari miras dan sejenisnya adalah memabukkan dan menutupi akal sehat. Sedikit atau banyak kadar alkohol atau mengonsumsinya, hukumnya tetap haram. “Apa saja yang memabukkan, maka sedikit ataupun banyak, hukumnya tetap haram” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Jika semua kalangan dan pemerintah benar-benar memperhatikan maslahat dan mudharat, dampak negatif dari miras, baik dari aspek religi, spiritual, sosial, dan budaya, akankah kita, pemerintah, dan semua kalangan tetap membiarkan minuman keras bebas beredar di sekitar kita?

Kaki Gunung Papandayan, Maret 2016