Keinginanmu Belum Tentu Yang Terbaik

0
438
punya keinginan

Oleh: Pipit Era Martina

Pernahkah terlintas dalam pikiran, ketika kita memiliki keinginan dan ternyata apa yang kita inginkan itu bukan yang terbaik dan belum tentu mendatangkan kebaikan? Terkadang, apa yang kita mau untuk dilakukan justru akan menjerumuskan diri ke dalam lubang kehancuran. Tak pernah kita tahu, bahwa keinginan yang terpendam menjadi duri dalam genggaman. Angan-angan melayang akan sebuah keinginan yang akan menjadikan diri sebagai manusia yang paling bahagia karenanya, seketika hanyut ditelan badai keterpurukan.

Orang yang kita lihat sukses bukanlah orang yang benar-benar berhasil dan terpenuhi keinginannya. Akan tetapi, orang dikatakan sukses ketika ia berhasil mendapatkan dan menebarkan benih-benih kebaikan kepada manusia lainnya. Karena sesuatu yang berhasil diraih berdasarkan dari keinginannya belum tentu yang terbaik dan mendatangkan kebaikan.

Belajarlah untuk tidak egois terhadap diri sendiri. Memikirkan apa yang kita ingin tanpa memikirkan kebaikan apa yang akan lahir dari terpenuhinya keinginan tersebut. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia tidak diperintahkan untuk mendahulukan meminta apa yang kita inginkan. Akan tetapi, kita dianjurkan untuk meminta kebaikan dunia akhirat sebelum meminta apa yang kita inginkan di dunia. Kesuksesan yang berselimut kebaikan di dalamnya akan lebih terasa indah daripada kesuksesan yang tanpa makna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebuah doa dalam Al-Qur’an, “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (Qs. Al-Baqarah: 201)

Sahabat, ketahui dan sadari, bahwa apa yang menjadi keinginan terbesar kita belum tentu menjadi yang terbaik dalam hidup kita. Misalnya, kita bercita-cita dan ingin sekali menjadi seorang penulis yang indah bersama karya-karyanya, menjadi terkenal karena keindahan kata-kata yang terlontar, menjadi sosok inspiratif bagi orang lain, serta menjadi obat penumbuh semangat bagi mereka yang berada dalam keterpurukan.

Cita-cita tersebut memang mulia, namun belum tentu hal akan mendatangkan kebaikan bagi diri kita dan orang lain. Meski indah bila dibayangkan, menjadi sosok yang dikagumi dan disegani, tapi hanya Allah yang menentukan skenario umat-Nya. Akankah bahagia dan kebaikan menyelimuti kehidupannya bersama apa yang menjadi keinginannya? Atau bahkan kebaikan justru menjauh darinya dikarenakan tercapainya keinginan-keinginan kita tersebut. Bisa jadi, dengan terpenuhinya keinginan tersebut, justru menumbuhkan banyak masalah yang berakibat tidak baik bagi kita dan keluarga.

Tak ada manusia yang tahu akan apa yang terjadi. Oleh karena itu, mintalah selalu yang terbaik untuk kehidupan di dunia juga kebaikan di akhirat. Kebaikan yang menjadi indah di sisi Allah, kebaikan yang menghantarkan diri pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Mintalah, agar apa yang menjadi keinginan kita ialah keinginan yang akan mendatangkan berjuta kebaikan untuk kita dan manusia lainnya. Berhenti memikirkan kebahagiaan diri sendiri karena faktanya kita tidak bisa berdiri tanpa uluran tangan orang lain.

Hidup bermasyarakat pastilah penuh dengan problematika. Segala bentuk perbedaan hinggap dalam kehidupan. Perbedaan pendapat ketika di dalam pekerjaan, berbeda pemikiran ketika dalam pemusyawarahan, berbeda ide ketika dalam perkumpulan. Semua itu wajar dan bisa diatasi tanpa harus menggunakan emosi. Jangan menjadi orang yang keras kepala dengan tidak mau mendengar apa pendapat orang lain, enggan menerima pemikiran orang lain dan menolak mentah-mentah ide yang diberikan orang lain. Bukankah kita sama-sama manusia yang tak luput dari salah?

Hindari sifat keegoisan yang menguasai diri hanya karena ingin memenuhi apa yang kita ingini tanpa perdulikan keinginan orang lain. Bayangkan, ketika kita berpendapat dan berupaya semaksimal usaha, lalu di tolak dengan mudahnya oleh orang lain. Akankah kita bisa menerima dengan lapang dada? Pikirkanlah perasaan orang lain ketika kita hendak mengemukakan pendapat dan menentukan sikap. Berusahalah untuk menghindari perselisihan kata di tengah perbincangan. Jika kita menginginkan orang lain memenuhi keinginan kita, terlebih dahulu, kita penuhi apa yang menjadi keinginan mereka.

Allah SWT menjelaskan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216).

Belajarlah untuk tidak membenci apa yang tidak disukai, karena bisa jadi apa yang kita benci adalah suatu hal yang akan mendatangkan kebaikan. Pun belajarlah untuk menerima apa yang disampaikan oleh orang lain dengan senyuman, meski tak sesuai dengan harapan, namun tak ada salahnya jika kita mempertimbangkan.

Meski tercipta dengan sempurna, namun manusia tidak pernah bisa mengetahui perkara apa dan bagaimana yang akan mendatangkan kebaikan dan keburukan baginya. Yang manusia tahu ialah, apa yang menjadi keinginan hatinya, panggilan dalam jiwanya, adalah salah satu hal yang akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari. Mengejar mimpi yang telah tertanam dalam hati, tanpa berfikir panjang akan akibat yang akan diterimanya nanti, dan tak pula memikirkan adakah kebaikan yang menghiasi diri ketika apa yang diinginkan berada dalam genggaman. Semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepada kita dan terhadap segala keinginan-keinginan kita. Aamiin

Lampung, Jum’at 18 Maret 2016