Karena Sifat Malu Itu Penting

0
426
rasa malu

Oleh: Pipit Era Martina

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungngguhnya di antara kalimat kenabian pertama yang sampai ke tengah-tengah manusia adalah ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu’.” (HR. Bukhari 60, Kitab Al Anbiya)

Tentang sabda Rasulullah SAW tersebut, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat tentang maknanya: Pertama, bahwa sabda Rasulullah SAW tersebut bukanlah bermakna perintah untuk melakukan sesuatu yang disukainya, tetapi bermakna tentang CELAAN dan LARANGAN. Kedua, bahwa sabda Rasulullah SAW tersebut merupakan perintah untuk melakukan apa yang diinginkan, menurut lahiriah perintah itu. Maknanya, jika perbuatan yang dia lakukan itu merupakan perkara yang dia tidak perlu malu terhadap Allah SWT maupun manusia dalam melakukannya, karena perbuatan tersebut termasuk amalan ketaatan atau akhlak terpuji dan adab yang dianggap baik, maka ketika itu lakukanlah apa yang kau inginkan.”

Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu. Kutipan dari sabda Rasulullah SAW ini sangatlah menampar jiwa. Sepenggal kata yang mampu menegaskan setiap tindakan yang akan diperbuat haruslah diiringi dengan rasa malu. Secara tegas Rasulullah SAW memberi peringatan kepada umatnya untuk berbuat sesuka hati dan nantikan akibatnya. Tidakkah kita berfikir mengapa kalimat itu menjadi kalimat pertama yang dihadirkan di tengah-tengah manusia?

Renungkanlah, betapa banyaknya manusia yang ingkar terhadap diri sendiri dan kepada ketentuan-ketentuan Illahi dengan menghempaskan rasa malu. Mereka berfoya-foya, tertawa ria di dalam dekapan Illahi tanpa menghiraukan akan akibat yang akan diterima. Tanpa memikirkan malu kepada para malaikat yang senantiasa menyaksikan perbuatan-perbuatan kejinya. Kepada langit yang senantiasa menyaksikan apa-apa yang kita lakukan. Kepada bumi yang tak pernah luput melihat setiap gerak-gerik kita di dalamnya. Kepada angin yang senantiasa menyaksikan kemaksiatan yang bertaburan di udara.

Tidakkah cukup kehadiran mereka membuat kita merasa malu? Jika tidak lagi ada rasa malu yang menghampiri maka mungkinkah urat malu yang terletak dalam hati telah terputus dari pangkalnya? Hingga dengan bangganya mempertontonkan kemaksiatan tanpa ada rasa malu sedikitpun.

Wahai sahabat, sifat malu itu amatlah penting dan perlu untuk ditanam dan terus dijaga agar tetap bertahan dalam dekapan jiwa, agar nurani senantiasa terjaga. Ingatlah! Bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Dikatakan sempurna karena manusia memiliki banyak ketentuan untuk dilakukan, banyak perintah untuk dipenuhi, banyak kewajiban yang harus dijalani juga karena adanya malu yang menyelimuti. Layaknya sekuntum bunga mawar yang dikatakan sempurna karena dia berduri, seorang wanita shalihah dikatakan sempurna karena sifat malu yang dia miliki.

Bayangkan, jika manusia tak lagi memiliki sifat malu. Mungkinkah Allah tetap akan membiarkan umat-Nya berjalan terlalu jauh dari jalurNya? Sekali-kali tidak akan tentram perjalanan seorang manusia jika senantiasa menjauh dari apa yang telah ditetapkan atas dirinya.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Lima diantara tanda-tanda kecelakaan: kekerasan hati, mata tidak mengeluarkan air mata (tidak dapat menangis), SEDIKITNYA SIFAT MALU, cinta dunia, dan panjang angan-angan.”

Pada hakikatnya malu itu penting karena dapat mendatangkan kebaikan. Mengapa? Karena dengan adanya malu yang lekat tertanam dalam diri, secara otomatis akan mengajak pemiliknya untuk menghias diri dengan segala kebaikan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina, serta mendatangkan kejelekan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya malu adalah salah satu cara manusia untuk menarik diri dari keburukan-keburukan yang telah dipersiapkan setan untuk menjatuhkan martabat manusia di hadapan-Nya.

Sifat malu juga merupakan salah satu cabang keimanan, seperti sabda Rasulullah SAW, “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” (Shahih: HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.598, Muslim no. 35, Abu Dawud no. 4676, an-Nasa-I VIII/110, dan Ibnu Majah no.57 dari sahabat Abu Hurairah)

Malu merupakan satu kata yang menyimpan berbagai makna. Malu tercipta untuk dijadikan sebagai pondasi iman yang melapisi jiwa. Barangsiapa yang menjaga malu dengan sebenar-benarnya malu maka ia akan mendapatkan buah dari rasa malu yang ia tanam. Iffah (menjaga kehormatan) akan berlaku bagi mereka yang senantiasa mewarnai seluruh perbuatannya dengan rasa malu.

Yuk mari, bersama kita menanamkan rasa malu dalam jiwa agar diri senantiasa terjaga dari berbagai macam keburukan yang berkeliaran. Sebagai catatan, malu yang dijelaskan di atas adalah malunya seorang manusia yang berbuat sesuatu yang menjurus kepada pertentangan terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Malu yang mengajarkan manusia untuk melupakan bahwa diri ini tercipta sebagai manusia sempurna bersama ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam jiwa-jiwa manusia. Malu yang dapat mencegah pemiliknya untuk mengikuti perbuatan-perbuatan buruk. Malu yang dapat menuntun pemiliknya pada jalan kebaikan. Bukan malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebaikan. Bukan malu yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perintah-perintah dan kewajiban Islam. Bukan pula malu yang berlawanan, tidak tahu malu (muka tembok) yang bereperangai membawa pemiliknya tenggelam dalam keburukan serta kemasiatan yang ditunjukkan secara terang-terangan.

Semua orang tahu akan hakikat malu dan tahu dimana tempat untuk meletakkan malu. Hanya saja, terkadang buaian setan memalingkan rasa tersebut sehingga tanpa disadari, sedikit demi sedikit kadar malu yang ada berkurang dari jumlah aslinya. Semoga kita semua bisa kembali mengutuhkan malu dalam diri, dapat lebih memahami akan pentingnya tumbuhan malu dalam ladang jiwa.

Lampung, Jum’at 04 Februari 2016