Karena Lidah Tak Bertulang

0
832
lidah tak bertulang

Oleh: Pipit Era Martina

Lidah memang tak bertulang. Pepatah ini sering kali kita dengar manakala sedang berbicara tentang kelihaian seseorang dalam berbicara. Baik berbicara tentang sesuatu yang bermanfaat ataupun berbicara sesuatu yang mengandung mudharat. Perlu diketahui bahwa salah satu anggota tubuh kita yang tak bertulang ini memiliki banyak pengaruh bagi kehidupan kita dan selanjutnya, yakni di akhirat kelak.

Afatul lisan adalah dua ungkapan yang memiliki arti bahaya lidah. Mengapa dikatakan bahaya? Karena dengan lidah manusia bisa terjerumus dalam jurang dusta, juga bisa membawa mudharat bagi manusia. Sulitnya menjaga lidah untuk tidak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat ataupun berkata yang tidak baik bagi kita dan manusia lainnya, dapat menjadi penyebab jatuhnya diri ke dalam lubang neraka. Sering kita lupa, bahwa dengan sedikit kesilapan lidah dalam berbicara bisa menimbulkan banyak perkara bagi kehidupan. Berhati-hatilah dalam berbicara karena tidak jarang dari kita yang sering tergelincir karena lidahnya dari kata-kata yang tidak diinginkan.

Lidah adalah salah satu nikmat yang Allah SWT berikan kepada manusia untuk melengkapi jalannya kehidupan di dunia. Allah memberikan kemudahan kita untuk berbicara dan Allah menginginkan agar apa yang telah diberi digunakan sesuai pada porsinya, membawa manfaat bagi yang lainnya dan digunakan sebaik-baiknya. Ingat! Lidah merupakan salah satu saksi kehidupan ang akan memberikan kesaksian di hari kiamat nanti, oleh karena itu berhati-hatilah dalam bermain lidah.

Allah SWT berfirman, “Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An Nuur:24)

Melalui lidah, manusia bisa dengan mudah menyebarkan perkataan dari manusia satu ke manusia lainnya. Kebaikan yang terucap melalui kata-katanya akan melahirkan manfaat yang luas bagi masyarakat, mampu menggugah hati mereka yang membatu akan kebaikan, mampu meruntuhkan kemaksiatan yang merajalela, mampu menjatuhkan para pendurhaka dan para pemuja setan. Namun, dengan lidahnya pula manusia bisa mendatangkan kejelekan yang akan membuahkan ekor keburukan yang panjang, menggoyahkan iman yang melekat pada jiwa, menghancurkan pertahanan iman dengan buaian kata yang bermuara pada keindahan maksiat. Karena dia tidak bertulang, maka akan dengan mudah ia bergoyang melantunkan kalimat bermanfaat atau kalimat menjerumuskan. Dia pula merupakan alat yang paling penting dan alat yang bisa dengan mudah dimanfaatkan oleh setan dalam misinya menghancurkan kedamaian manusia.

Dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya jauh antara timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)

Sahabat, mari kita bersama melatih diri ini untuk memikirkan perkataan sebelum lahir di ujung lidah. Jika lidah sudah berbicara dan kata sudah nyata terucap, maka segala kemungkinan akan terjadi dengan cepat. Pikirkan apapun yang ingin dikatakan sebelum benar-benar terhanyut dalam buaian kata, jika memang tidak bermanfaat dan tidak baik maka lebih baik memilih untuk diam, karena sesungguhnya diam itu lebih baik dari seribu kata yang tidak mendatangkan manfaat. Wallahu ‘alam

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Sungguh seorang hamba menucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba menucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lidah memang hanya bagian dari anggota badan yang berukuran kecil jika dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penghuni surga atau neraka. Karena dialah, pelengkap anggota badan yang tak bertulang, penopang tubuh ini ditentukan nasibnya di kemudian hari, akan bahagia di dalam surga atau sengsara dalam api neraka. Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap manusia memperhatikan setiap kata-kata yang akan diucapkan.
Seperti firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (Qs. Al-Isra:36).

Dari ayat tersebut bisa kita simpulkan untuk tidak berkata sesuatu tanpa ilmu. Berkatalah yang baik dan jujur apa adanya. Jangan katakan kalian melihat, padahal kalian tidak melihat. Jangan mengatakan kalian mendengar, padahal kenyataannya kalian tidak mendengar, dan jangan katakan kalian berbicara benar, padahal faktanya ucapan itu dusta.

Marilah sahabat, kita renungkan bersama akan fungsi anggota badan bagi kita. Semua tercipta bukan tanpa alasan. Manusia dicipta untuk mengembangkan kebaikan, menyebarkan kebajikan, mengenalkan Tuhan pada keturunan dan menjadikan dunia sebagai sebaik-baiknya tempat persinggahan menuju rumah abadi. Lidah tercipta untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi, menyebarkan kebaikan melalui perkataan, bukan untuk melahirkan kata yang menjerumuskan.

Mata tercipta untuk menyaksikan kehidupan yang diciptakan oleh Allah, untuk kita mengetahui bahwa Allah Maha Sempurna dengan segala ciptaannya yang terbentang di dunia ini, bukan untuk menyaksikan tontonan yang diciptakan oleh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lubang nista. Telinga diciptakan agar kita bisa menggunakannya unuk mendengarkan tausiyah-tausiyah yang mendatangkan ketentraman jiwa, bukan untuk mendengarkan ocehan-ocehan mereka yang mendendangkan maksiat.

Ingatlah selalu akan Firman Allah SWT yang satu ini, “Tiada satu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf:18)

Semoga Allah senantiasa mengampuni setiap kekhilafan lisan kita yang sering kali tergelincir dalam berkata-kata dan semoga Allah masih mau memberi kita pintu kesempatan untuk terus memperbaiki ucapan.

Lampung, Senin 29 Februari 2016