Jilbabku Menyertai Perjalanan Karirku (Part 2)

1
609
akhwat dengan jilbab syar'i

Oleh : Newisha Alifa

Jika dalam part 1, saya bercerita tentang pengalaman test untuk PKL di tahun 2005 dan proses wawancara di suatu perusahaan pada tahun 2011, maka sejatinya saya harus mengajak pembaca flashback ke pengalaman saya di tahun 2007.

Kala itu, saya masih fresh graduated. Tidak sedikit teman seangkatan yang sudah bekerja di berbagai pabrik, namun saya masih menganggur. Tapi ketakutan saya menjalani serangkaian test kesehatan yang berlebihan untuk seorang wanita (menurut cerita teman-teman), membuat saya memilih untuk bersabar sambil terus menyebar lamaran ke berbagai tempat.

Hingga akhirnya pada awal Ramadhan tahun 2007, saya pun diterima di salah satu perusahaan kosmetik melalui jasa outsourcing/yayasan. Saya tentu senang bukan kepalang! Meskipun saat itu saya sudah menjadi freelancer di sebuah Lembaga Kursus Bahasa Inggris, tapi saya menginginkan pekerjaan tetap, bukan hanya weekend saja.

Namun kebahagiaan saya runtuh seketika, saat hari pertama bekerja; diberikan pengarahan juga seragam kerja, harus menerima kenyataan bahwa saya TIDAK DIPERKENANKAN BERJILBAB di area manufakturing! Rasanya langsung ada backsound petir menggelegar di Senin pagi yang cerah.

Refleks, saya complain kepada pihak yayasan, “Kok selama proses rekrutmen, hal ini TIDAK PERNAH DISINGGUNG?”. Kalau dari awal tes dan wawancara saya diberi tahu hal ini, saya nggak mungkin mau melanjutkan prosesnya hingga sejauh ini. Apalagi untuk tahap MCU (Medical Check Up), saya harus bayar biayanya sendiri, bukan ditanggung pihak yayasan atau calon perusahaan.

Saya galau bukan main, hingga saat itu sempat menangis di dalam ruang loker.

Hari pertama, saya langsung mengutarakan keberatan perihal melepas jilbab kepada ibu manager —user— yang dulu mewawancara. Namun baik jawaban beliau maupun pihak HR yayasan, menggantung. “Kamu ikutin aja dulu peraturan di sini.”

Alhasil, saya mencoba bertahan. Karena saat itu saya tidak sepenuhnya membuka aurat. Jadi kepala saya masih tertutup dengan topi khusus yang merupakan bagian dari seragam kerja, namun leher dan tangan dari sikut sampai telapak harus terbuka, sebab memakai kaus manset pun tidak diizinkan.

Saya azzamkan untuk mencari pekerjaan lain. Beberapa kali juga saya mencoba menghadap Bu Manager, namun jawaban beliau —yang saat itu belum berjilbab— tidak berubah, “Ikutin saja peraturan perusahaan.”

Hingga pada Nopember 2008 usaha saya pun membuahkan hasil; saya diterima di sebuah perusahaan yang membolehkan karyawatinya di level apapun, untuk berhijab. Alhamdulillah.

#

Sambil bekerja di perusahaan keempat, pada September 2012, saya dinyatakan lulus kuliah. Karena beberapa pertimbangan, saya memang sudah berniat untuk resign sesegera mungkin dari sana, selepas lulus kuliah.

Lamaran kerja pun saya sebar via email ke beberapa perusahaan, baik yang berada di Jakarta maupun Bekasi. Karena tekad saat itu, perusahaan kelima nanti semoga yang terbaik, sehingga bisa membuat saya betah dan nggak ingin resign-resign lagi, maka saya pun lebih selektif ketika memilih perusahaan yang akan dilamar.

Dari 6 perusahaan yang mengudang wawancara sejak Nopember 2012 hingga Maret 2013, setidaknya saya 3 kali menghadapi wawancara dengan orang asing; ekspatriat.

Yang pertama seorang bule, —entah berkewarganegaraan apa, di sebuah perusahaan arsitektur di bilangan Sudirman, Jakarta.

Di luar dugaan, beliau sangat menghormati keputusan saya untuk tidak menyambut uluran tangannya. Beliau mempersilakan saya untuk menjalani serangkaian fit & proper test, baru kemudian lanjut wawancara bersamanya dan salah seorang direktur perusahaan tersebut.

Saya cukup terkejut ketika perkenalan, saya menyebutkan, “I’m muslim.” Beliau nyeletuk, “Yes, i know that you’re very muslim.” namun disertai dengan mimik wajah yang ramah dan menghargai.

Singkat cerita, beliau berjanji untuk mengabari hasil interview dan tes saya, seminggu kemudian. Dan benar saja, tepat di tujuh hari berikutnya, saya pun mendapatkan email berisi ucapan selamat dan surat kontrak dari si Mister tersebut.

Ya. Saya muslimah berjilbab dan saya diterima bekerja oleh seorang asing yang bukan muslim.

Namun karena saat itu ternyata penempatannya bukan untuk di Sudirman, tapi untuk cabang mereka di daerah Meruya, maka saya keberatan. Akhirnya saya pun nggak jadi bergabung dengan mereka.

#

Kali kedua, saya juga sempat diinterview masih di salah satu gedung di kawasan Sudirman. Sebuah perusahaan Jepang yang mendistribusikan alat-alat berat seperti crane.

Tak disangka, calon user saya adalah orang Korea yang tidak fasih berbahasa Inggris. Beliau sempat kebingungan ketika saya berkali-kali tidak menyambut uluran tangannya. Selama proses wawancara, saya didampingi oleh seorang HRD wanita berhijab yang bisa berbahasa Inggris dan Jepang. Jadi setelah saya panjang lebar introduction in English, rupanya si calon user belum mengerti dan harus diterjemahkan lagi ke bahasa Jepang —bukan bahasa Korea— oleh ibu HRD cantik tersebut.

Alhamdulillah, yang kedua ini saya tidak diterima. Sungguh tak terbayangkan jika harus memiliki atasan; yang dia nggak ngerti bahasa kita dan sebaliknya kita pun nggak ngerti bahasa dia.

#

Hingga akhirnya jalan takdir membawa saya pada tempat saya bekerja saat ini.

Maret 2013.
Dalam 3 hari, saya mengikuti dua proses rekrutmen di dua perusahaan sekaligus. Yang satu pabrik farmasi, satu lagi produsen elektronik. Kedua perusahaan ini terbilang bonafit —untuk ukuran saya yang sebelumnya 4 kali bekerja di perusahaan yang lebih kecil.

Dalam sholat istikharah, saya minta ditunjukkan mana yang terbaik di antara kedua perusahaan ini. Perusahaan yang membuat saya betah, dan nggak kepikiran untuk resign lagi.

Sampailah pada proses rekrutmen tahap kedua di pabrik elektronik, saya kembali tercengang saat sedang asik interview dengan dua orang calon supervisor, tiba-tiba masuklah seorang Nihon-Jin (orang Jepang) ke dalam ruangan. Beliau mengulurkan tangan untuk bersalaman, namun saya hanya berkali-kali membungkukkan badan seraya berkata, “Sorry, Sir.”

Syukurnya, calon user perempuan pun membantu, “Sorry, Sir. She is muslim woman. No touch.”
Padahal calon user saya juga muslimah, tapi saat itu belum berhijab.

“Oh, okay!” Seru si Mister.

Barulah beliau mengerti dan langsung duduk di atas sofa di antara kedua calon user saya tersebut.

Beliau yang tak lain adalah Vice President di pabrik kami, tak banyak bertanya. Sesekali hanya melempar senyum saja. Tak sampai 5 menit kemudian beliau berkata, “Bagus ya,” dengan aksen jepangnya yang kental, lalu pamit meninggalkan ruangan.

Dan Alhamdulillah, karena perusahaan elektronik ini lebih dulu memberi kepastian untuk menerima saya sebagai karyawannya, saya pun mundur dari proses rekrutmen di pabrik farmasi yang satunya lagi.

#

Hingga detik ini, tak henti-hentinya saya bersyukur dengan rencana dan jalan hidup yang Allah pilihkan untuk saya. “Ketika kau melepaskan sesuatu karena-Nya, maka Dia pun akan memberikanmu ganti yang lebih baik.” Dan semua itu terbukti pada perjalanan karir saya setidaknya selama hampir 9 tahun ini.

Di tempat bekerja yang sekarang, saya bebas berhijab, tersedia masjid besar yang lebih dari layak untuk dijadikan tempat sholat, adanya DKM yang sering mengadakan kegiatan-kegiatan Islami, penghasilan pun bagi saya cukup jauh lebih besar dibanding empat perusahaan sebelumnya, lingkungan kerja, atasan juga rekan satu tim semuanya muslim dan baik-baik, dan seabrek nikmat lainnya yang Allah anugrahkan pada saya lewat pekerjaan ini.

Masihkah saya meragu, bahwa dengan jilbab, dengan mempertahankan identitas saya sebagai seorang muslimah yang INGIN TAAT, justru menjadi penghalang rezeki bagi saya???

Masih ragukah kita bahwa rezeki sejatinya itu mutlak dalam genggaman Allah, bukan perusahaan-perusahaan yang ANTI terhadap aturan Allah?

Bekasi, 3 Jumadil Tsani 1437H