Jilbabku Menyertai Perjalanan Karirku (Part 1)

1
759
akhwat dengan jilbab syar'i

Oleh : Newisha Alifa

*

Sudah 2016. Dan perkembangan pemahaman Islam di negri ini pun sudah semakin baik —setidaknya menurut pengamatan saya. Hampir di setiap tempat dan kondisi dengan mudah kita temui wanita-wanita yang menutup aurat, dari yang masih terbilang perlu banyak belajar, sampai yang ingin total dengan cara bercadar. Semua usaha itu tentu patut kita apresiasi.

Namun di sisi lain, masih ada saja yang ‘keracunan’ stigma dari zaman dahulu kala. Bahwasanya menutup aurat dengan khimar —atau yang di Indonesia lebih familiar disebut ‘jilbab’— begitu beresiko, hingga seolah-olah membuat pemakainya tidak bisa hidup normal seperti perempuan lain yang tidak menutup aurat. Salah satunya berkaitan dengan masalah karir atau pekerjaan.

Mengapa begitu takut, bahwa dengan berjilbab, rezekimu kan jadi sempit? Di mana logikanya, Allah memberikan rezeki bagi mereka yang mengabaikan aturan-Nya, dan menelantarkan para hamba yang sedang berusaha mematuhi perintah-Nya? Tidak mungkin teori dan kenyataannya begitu!

*

2005, ketika sudah waktunya menjalankan PKL (Praktik Kerja Lapangan), saya bersama belasan teman satu sekolah lainnya mengikuti seleksi penerimaan tenaga PKL di salah satu perusahaan otomotif terkenal di Cikarang. Isu yang sempat beredar saat itu adalah : perusahaan Jepang tersebut TIDAK MEMBOLEHKAN karyawatinya berhijab. Seketika gusar menjalar ke dalam benak saya. Baru setahun lebih mengenakan jilbab, haruskah hanya demi PKL di salah satu perusahaan bonafit, saya menanggalkannya?

Saya diskusikan masalah ini pada imam di rumah kami : Bapak. “Pak, masa katanya di PT itu gak boleh pake jilbab?”

“Kata siapa?” Bapak bertanya balik.

“Kata temen-temen di sekolah. Temen-temen kata Pak Guru,” jawab saya polos.

“Masa sih?”

“Gimana ya, Pak? Masa harus buka jilbab?” Wajah saya pasti sangat menyedihkan saat itu.
“Jalanin aja dulu tesnya. Lihat kondisi sebenarnya gimana …,” jawab Bapak dengan tenang.
Beberapa hari kemudian, kami pun mengikuti tes di pabrik tersebut. Sebagian teman yang di sekolah biasa berjilbab, hari itu nampak melepas jilbabnya. Miris saya melihat kenyataan itu. Anehnya, salah satu teman yang sehari-hari di sekolah tidak berhijab, hari itu justru tampil berhijab!

Usai mengikuti serangkaian tes dari soal matematika dasar, psikotest, hingga tahap wawancara, akhirnya diumumkanlah, siapa saja siswa dari SMK kami yang diterima untuk melaksanakan PKL di sana. Dan atas izin Allah, saya adalah satu di antaranya!

Tak ada satu pun teman saya yang sudah —bela-belain— melepas hijab, diterima di sana! Sebaliknya, teman saya yang baru hari itu memakai hijab, —meskipun sehari-hari di rumahnya belum— justru diterima! Allahu Akbar! Allah menunjukkan Kuasa-Nya.

*

2011. Saya yang sudah menganggur hampir dua bulan, akhirnya dipanggil untuk mengikuti proses rekruitmen di salah satu pabrik alat berat, masih di sekitar Cikarang. Di pabrik itu, tak ada satu pun wanita berhijab!

Setelah mengikuti rangkaian tes dan wawancara bersama pihak HRD dan calon user, kurang lebih 3 hari kemudian, saya pun dijadwalkan untuk bertemu dengan plant manager, yang akan menjadi penentu lolos tidaknya saya bekerja di sana. Yup! Final interview.

Sebut saja nama beliau Pak John, usianya mungkin awal kepala empat. Perawakannya cenderung Chinese. Dan saya cukup takjub ketika pertama kali masuk, beliau tidak menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan saya!

Wawancara kami berjalan lancar dan santai. Beliau tipikal pemimpin yang menyenangkan dan tak pelit berbagi pengalaman. Seorang nonmuslim yang dengan bangga menceritakan, begitu senangnya ia dengan sebuah buku berjudul ‘Quantum Ikhlas’ dan di saat yang sama juga menawarkan untuk meminjamkan buku tersebut pada saya. Tak hanya itu, beliau juga seolah familiar dengan beberapa istilah dalam Islam lainnya. Pun ternyata memang sudah mengerti bahwa biasanya wanita yang berhijab tidak akan mau bersalaman dengan nonmahrom-nya.

Hari itu juga, beliau merasa cocok dengan wawancara kami, dan menerima saya untuk bergabung dengan perusahaannya! Hanya saja di akhir wawancara, beliau mengingatkan,
“Karena sebelumnya di sini nggak ada yang berjilbab. Jadi tolong kamu sesuaikan ya jilbabnya. Jangan pakai warna-warna yang ngejreng. Usahakan masih senada dengan warna seragam kita —biru dongker. Karena tanpa pakai warna-warna yang mencolok saja, kamu pasti sudah akan menarik perhatian yang lain, karena menjadi karyawati pertama yang berjilbab di sini.”

Ah! Ma Syaa Allah! Betapa bahagianya saya, ketika dinilai bukan karena fisik dan tampilan semata, tapi karena dianggap punya kompetensi untuk bergabung dengan mereka. Menjadi pelopor wanita berhijab di suatu lingkungan, bukankah sesuatu hal yang layak dibanggakan? Bukan karena kehebatan saya, tapi sebagai bukti bagi mereka yang masih ragu terhadap pertolongan Allah terhadap mereka yang memperjuangkan syariat-Nya!

*

Hari-hari selanjutnya setelah resmi bekerja di sana, apa yang dikatakan Pak John jadi kenyataan. Saya menjadi pusat perhatian dengan pandangan mata karyawan dan karyawati lainnya yang tampak kebingungan dengan hadirnya seorang perempuan berjilbab di antara mereka.

Salah seorang staf administrasi bertanya pada saya, “Kok, kamu boleh sih pake jilbab? Aneh. Di sini kan nggak pernah boleh sebelumnya ada yang berjilbab.”

“Iya. Aku juga tadinya mau pake jilbab setelah keluar dari PT sebelumnya. Pas tahu di sini nggak ada yang berjilbab, yaa… aku tunda dulu deh berjilbabnya,” timpal seseorang, yang terbilang masih karyawan baru juga di sana. Dia lebih dulu sekitar sebulanan dibanding saya.

Saat itu saya hanya bisa merekahkan senyum di wajah. Seolah ingin membuktikan, bahwa tak ada yang mustahil bagi Allah untuk kita. Bahwa sejatinya, rezeki itu di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Ada pun manusia hanya perantara, atas rezeki manusia lainnya.

#

Perjalanan karir saya dengan keputusan menutup aurat, tak sampai di situ. Sebab pengalaman-pengalaman lain yang tak kalah seru, terjadi di tahun-tahun selanjutnya.

Selamat menyimak part 2-nya yaa, para pembaca 🙂

Bekasi, 29 Jumadil Awal 1437H • 9 Maret 2016

Silahkan lanjut ke part 2