Jawaban Terbaik

0
258
santri
Ilustrasi

Oleh : Alya Adzkya

“Ridwan! Ajarin kita, dong …”

Pinta salah satu teman yang tengah berkutat dengan materi yang akan diujikan esok hari. Ridwan tersenyum, menghentikan keasyikan belajarnya lalu bergegas menjelaskan. Begitu seterusnya, dari mulai teman seangkatan hingga adik kelas. Jika Ridwan mengerti materi yang ditanyakan, ia selalu berusaha untuk menjawab. Baginya, membagi ilmu adalah wajib.

Meski kelihatannya Ridwan tak memiliki waktu khusus untuk belajar, ia menguasai materi dengan baik. Sebaik-baik belajar adalah dengan mengajarkannya, bukan? Ia tak pernah merasa rugi dengan semua itu. Walau berkali-kali ia harus terjebak dalam tatapan penuh tanda tanya. Tak hanya di benak para guru dan teman-temannya. Bahkan, ia sendiri sering bertanya-tanya. Dengan kemampuan akademik yang mumpuni, kenapa ia tak juga berhasil mendapatkan beasiswa?

Entahlah. Setiap semester bahkan tahun ajaran berganti Ridwan harus puas dengan pencapaiannya yang ‘hampir’ pantas diganjar beasiswa. Menempati posisi kedua teratas di kelas unggulan bukanlah jaminan mendapatkan juara umum. Juara umum hanya diambil dari dua nilai tertinggi di angkatan. Baik putra maupun putri. Selisih nol koma tiga dari beasiswa kedua, sudah biasa. Bagi Ridwan, belajar adalah hobinya. Masalah beasiswa atau bukan, tak jadi soal. Meski asa itu masih saja ia jaga. Terpatri rapi dalam relung hati.

*—*—*

Fajar subuh baru saja akan menampakkan diri. Namun, sosok berkoko putih itu sudah sedari tadi bersimpuh di sudut masjid megah ini. Perlahan, Ridwan membuka secarik kertas yang selalu ia simpan di kantongnya. Kertas berisi doa, harapan dan impiannya itu ia baca kembali dengan seksama. Tak terasa, sebulir bening mengalir pasrah membasahi pipinya.

Allah… Hanya pada Sang Maha Kuasa ia pasrahkan segala sesuatu. Empat tahun terakhirnya di pesantren ini bisa dibilang cukup berat. Ditinggalkan kedua orang tua di tengah studi yang masih panjang, membuat Ridwan sempat gamang, antara bertahan atau keluar demi membantu perekonomian keluarga. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bertahan, menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Dan, di sinilah ia sekarang, berada dalam barisan santri akhir yang dalam hitungan hari akan segera resmi menjadi alumni.

Matanya menelusuri satu persatu doa yang tertulis di kertasnya. Tatapannya berhenti pada sebuah tulisan bercetak tebal. Beasiswa. Sebagai santri dengan prestasi akademik yang lumayan, bukan hal mustahil bagi Ridwan untuk bisa mendapatkan beasiswa. Tapi sayang, denting takdir belum berpihak padanya.

Meski begitu, Ridwan tak pernah absen untuk selalu berdoa. Baginya, doa adalah salah satu penguat yang dapat membuatnya bertahan hingga detik ini. Dalam lirih, ia berdoa agar diizinkan untuk mendapatkan beasiswa. Kali ini saja.

*—*—*

Seisi auditorium terdengar riuh-rendah. Direktur pesantren tengah bersiap untuk membacakan pengumuman yang dinanti oleh para calon alumni. Termasuk Ridwan. Detik waktu terasa melambat. Satu persatu nama disebutkan. Ridwan menghela napas pasrah. Mungkin, ia harus kecewa lagi kali ini.

“Peraih nilai tertinggi kedua, Ridwan Fathurridho …”

Sontak, seluruh mata tertuju pada sosoknya. Berpasang-pasang mata menatapnya penuh kagum. Ridwan mengangkat pandangan. Masih diliputi rasa tak percaya, perlahan ia melangkah menuju panggung besar di depan auditorium. Seperti mimpi, kini ia berdiri sejajar dengan orang-orang cerdas di angkatannya. Suatu hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Direktur pesantren mengalungkan medali seraya berbisik pelan di telinga Ridwan, “Kamu pantas mendapatkan ini, Wan.”

Ridwan hanya membalas ucapan itu dengan senyuman. Berkali-kali kalimat tahmid ia gaungkan di benaknya. Jika Allah sudah berkehendak, siapa pula yang bisa mencegahnya?

Ridwan baru saja ingin duduk di kursinya saat namanya kembali dipanggil sebagai salah satu santri penerima beasiswa dari Departemen Agama. Mata Ridwan kembali mengembun. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Sungguh setiap detik kehidupan adalah anugerah. Yang patut disyukuri hingga helaan napas terhenti.

Lalu, apakah kisah Ridwan berakhir sampai di sini? Tentu tidak. Sebagai Mahasantri yang mendapatkan beasiswa penuh dari Departemen Agama, Ridwan dituntut berprestasi. Bukan masalah besar bagi Ridwan. Ia menikmati setiap mata kuliah yang ia ambil. Kesibukannya bertambah saat mulai serius menekuni dunia tulis-menulis.

Kesibukan baru ini sempat berimbas pada prestasi akademiknya di kampus. Seperti terulang kembali, nilai-nilai Ridwan selama kuliah tak terlalu tinggi. Tapi setidaknya cukup untuk meneruskan beasiswa yang ia peroleh. Tapi, siapa sangka kesibukan barunya itu justru membuat namanya tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi bidang Non Akademik, yaitu penulis produktif.

Laysa kullu ma yatamannal mar’u yudrikuhu. Tidak semua apa yang diimpikan seseorang akan ia dapatkan. Terkadang, tak semua hal berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Apa itu artinya buruk? Tidak juga! Bahkan, terkadang kisah kita bisa jadi jauh lebih indah melebihi apa yang kita pinta.