Jangan Kepo dengan Rezeki Orang Lain!

0
866
rezeki tetangga

Oleh : Newisha Alifa

Tidak sedikit manusia yang mendadak meriang ketika melihat orang lain mendapat rezeki yang lebih banyak darinya (baca: iri). Padahal setiap kita sudah diberikan rezeki sesuai takaran masing-masing oleh Allah Swt. Padahal, salah satu kunci kebahagiaan adalah rasa syukur.

Nah, salah satu cara untuk bisa mendapatkan rasa syukur ini adalah dengan TIDAK MEMBANDINGKAN apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Kapan merdekanya dong kita ini, jika terus-menerus nelangsa melihat orang lain bahagia dengan hidupnya?

Bertahun-tahun lalu awal-awal bekerja, saya bersama teman-teman yang masih fresh graduated, tidak sungkan untuk saling memperlihat slip gaji satu sama lain. Hasilnya toh rata-rata sama, sesuai UMR. Nah, sampai di situ belum ada masalah.

Tapi kemudian, ketika di perusahaan selanjutnya, saya support satu dua aktivitas bagian Personalia dan akhirnya jadi tahu nominal gaji beberapa karyawan. Di situlah galau mulai melanda. Pasalnya saya mulai mikirin, “Kok si A yang ‘kelihatannya’ kerjaannya gitu-gitu aja gajinya lebih gede ya dari si B?”

Dan semakin berbahaya ketika mulai membandingkan dengan pendapatan sendiri. “Perasaan udah kerja jungkir balik, kok gaji saya malah lebih kecil yaa dari si dia?”

Nah, nah, nah! Nggak berasa nih, kufur mulai mendekat! Hampir di setiap perusahaan mesti ada aja deh kejadian kaya gitu. Orang lain dapat rezeki lebih, kita yang mendadak panas dingin! Padahal yang ngasih gaji juga bukan kita. Dan dari kelebihan rezekinya pun, sejatinya mereka TIDAK MERUGIKAN kita sama sekali.

Contohnya, di tempat saya bekerja sekarang, tiap menjelang tanggal gajian, index lembur masing-masing karyawan per bagian akan diedarkan. Jadi, satu sama lain bisa saling melihat SIAPA YANG LEMBURANNYA PALING BANYAK BULAN INI?

Bertahun-tahun kerja, tetap saja satu sama lain akan mengomentari pemasukan masing-masing. Walaupun nadanya bercanda, tetap saja kalau disebut-sebut terus akan menganggu perasaan yang mendengarkan juga.

Jangan kepo, jangan usil sama rezeki orang lain! Udah gitu aja.

Sometimes, kita tuh hanya melihat dari luarnya saja, tanpa tahu bahwa Allah punya perhitungan-Nya sendiri. Misalnya rezeki si X sebesar satu juta dan si Y dua juta rupiah. Kalau hanya sekilas, kesannya memang pendapatan si Y lebih besar dari si X. Tapi kalau kita mau lebih rinci lagi, ternyata kebutuhan hidup si Y ini juga lebih besar dari si X. Atau contoh lain, rezeki mereka yang masih melajang dan sudah menikah—apalagi punya anak – pasti hitung-hitungan Allah untuk keduanya berbeda.

Coba deh selalu diingat Ayat Al-Qur’an di bawah ini setiap kita mulai mempertanyakan rezeki kita kepada Allah, “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” (QS. Az-Zumar: 52)

Kalaulah kita sudah berusaha dan berdoa, masalah rezeki terbaik itu sudah tinggal urusan Allah. Dia Yang lebih tahu apa yang kita butuhkan atau sekadar kita inginkan. Dia Yang lebih tahu, apakah jika diberikan rezeki berlimpah, akan menjadi suatu hal yang baik, membuat kita semakin dekat dengan-Nya, atau sebaliknya? Membuat kita jadi kikir dan justru lupa pada kebaikan-Nya.

Jadi, jangan usil, kepo alias mau tahuuuu aja besaran rezeki orang lain. Fokus saja sama apa yang memang Allah takdirkan untuk kita, lalu syukuri! Jangan iseng-iseng mau tahu, ehhh… pada akhirnya kita yang nggak enak hati setelah tahu rezeki seseorang itu lebih besar dari kita.

Wallahu A’lam Bishowab.

Tambun, 19 Jumadil Akhir 1437H • 28 Maret 2016