Bumipun Tak Ubahnya Butiran Debu Di Alam Semesta

1
1100
alam semesta

Oleh: Pipit Era Martina

Gerhana matahari adalah salah satu fenomena alam yang baru-baru ini menghiasi Indonesia. Antusias manusia yang ingin menyaksikan fenomena langka ini sungguh luar biasa. Tak lepas dari genggaman sebuah benda yang berfungsi untuk mengabadikan fenomena tersebut. Namun tidak sedikit dari mereka yang justru merasakan getaran jiwa yang maha dahsyat, ketakutan yang luar biasa. Tak hentinya hati terus melafadzkan Asma Allah untuk memohon perlindungan-Nya. Mereka terheran-heran dengan ulah manusia lain yang dengan santainya mengabadikan dengan melewatkan sunnah yang dianjurkan Nabi-Nya. Mereka menyia-nyiakan waktu hanya untuk menyaksikan kebesaran Allah tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di tengah berlangsungnya gerhana matahari.

Pernahkah kalian berfikir? Tidakkah ketakutan itu menyerang diri? Ketika diri hanyut dalam kenikmatan menyaksikan fenomena langka dan secara tiba-tiba bulan enggan menyingkir dari hadapan matahari. Allahu Akbar!

Sahabat sekalian, tahukah kalian arti dari gerhana matahari? Dalam ilmu pengetahuan modern, fenomena gerhana matahari adalah sebuah peristiwa astronomi dimana suatu obyek yang menghalangi obyek lainnya. Saat itu terjadi, maka posisi Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus. Akibatnya cahaya Matahari yang biasanya langsung sampai ke permukaan Bumi secara otomatis akan dihalangi oleh Bulan. Hal ini sesuai dengan teori Albert Einsteins, yang menjelaskan bahwa cahaya bisa dibelokkan oleh suatu masa yang besar. Artinya, cahaya matahari yang hilang dipermukaan bumi pada saat terjadinya gerhana, beralih ke suatu masa atau planet yang lebih besar.

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita tentang planet? Sejauh ini kita mengetahui kisah planet hanya dari buku sekolah yang menjelaskan tentang tata surya dan galaksi bima sakti. Urutan planet yang mengelilingi matahari, termasuk bumi. Tak pernah terlintas akan adanya planet lain di luar apa yang kita tahu. Sejenak, kita keluar dari bumi ini dan melihat kearah alam semesta. Betapa kita manusia hanyalah “debunya debunya debunya” alam semesta, dan bumipun tak ubahnya butiran debu di antara planet dan bintang yang bertebaran di alam semesta ini.

Mari kita perhatikan beberapa bintang yang berhasil diketahui oleh manusia yang ada di alam semesta ini berdasarkan diameter dan lingkarnya.

Nama Bintang Diameter Lingkar
1.Bulan 3.475 10.917
2.Merkurius 4.879 15.328
3.Mars 6.792 21.338
4.Venus 12.104 38.026
5.Bumi 12.756 40.074
6.Neptunus 49.528 155.597
7.Saturnus 120.536 378.675
8.Jupiter 142.984 449.197
9.Matahari 1.391.400 4.371.212
10.Sirius A 2.380.685 7.479.144
11.Pollux 12.244.320 38.466.666
12.Arcturus 35.341.560 111.028.785
13.Aldebaran 61.499.880 193.207.571
14.Rigel 108.529.200 340.954.537
15.Pistol Star 425.768.400 1.337.590.878
16.Antares A 1.228.606.200 3.859.780.212
17.Mu Cephei 1.440.099.000 4.524.204.438
18.Uy Scuti 2.376.511.200 ….

Perhatikan ukuran diameter dan lingkar bumi yang jauh lebih kecil dibanding dengan bintang Uy Scuti. Bintang Uy Scuti yang merupakan bintang terakhir yang ditemukan oleh manusia yang masuk kategori terbesar, Red Hyper Giant (bintang raksasa merah). Terletak di konstelaski Scutum, jarak dari bumi 9500 tahun cahaya. Ditemukan oleh astronomi Jerman tahun 1860. Musim panas 2012, tim astronom teleskop VLT di Atacama Chile mengukur bintang UY Scuti, AH Scorpii dan KW Sagittarii. Ketiganya memiliki ukuran 1.000x dari matahari. Tapi yang terbesar adalah UY Scuti. Bila dibanding bintang UY Scuti, ukuran bumi tak ubahnya seperti butiran debu yang melayang di angkasa. Diameter bintang Uy Scuti adalah 186.614 x diameter bumi. Bisa kalian bayangkan seberapa besar ukuran bintang tersebut?

National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang merupakan lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa AS dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang. Yang juga bertanggung jawab atas program penelitian luar angkasa bagi masyarakat sipil, aeronautika, dan program kedirgantaraan, menjelaskan bahwa untuk melintasi permukaan bintang Uy Scuti, dengan mengendarai pesawat penumpang dan dengan kecepatan 1.000km/jam membutuhkan waktu selama lebih dari 851 tahun untuk sekali mengelilinginya. Jika dibandingkan dengan bumi yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 8 hari 14 jam 12 menit 31 untuk sekali mengelilinginya. Allahu Akbar

Bayangkan! Butuh berapa generasi untuk bisa mengelilingi bintang Uy Scuti ini. Sedangkan manusia sendiri tidak bisa memastikan berapa jarak yang harus di tempuh untuk sampai ke permukaan bintang tersebut. Dan jika bumi hanya sekecil itu di alam semesta sana, lantas bagaimana dengan kita? Manusia!

Sahabat, perhatikan pula bintang yang terang benderang menghiasi langit ketika malam hari. Apa yang ada dalam pikiran kita ketika menatap langit yang penuh dengan kerlap kerlip cahaya bintang tersebut? Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa mereka hanyalah butiran cahaya yang menghiasi angkasa, tanpa memiliki peran ataupun makna tersendiri. Padahal, bintang yang bertebaran di langit itu merupakan planet lain yang berada berjauhan dari planet bumi. Mereka beredar pada galaksi masing-masing. Mereka memiliki rotasi berbeda dari bumi. Dengan jarak yang begitu jauh, bahkan beribu-ribu tahun cahaya. Itulah yang menyebabkan planet tersebut nampak begitu kecil jika dilihat dari kacamata bumi.

Jarak antara matahari dengan bintang cerah yang terdekat, yaitu Alpha centauri kurang lebih sekitar 4,37 tahun cahaya atau sekitar 41.343.392.165.178 km. Jika ditempuh dengan menggunakan pesawat ulang alik jenis space shuttle milik NASA, maka membutuhkan waktu lebih dari 8.442 tahun untuk sampai ke bintang terdekat itu. Sedangkan dalam galaksi bima sakti ini terdapat lebih dari 200-400 milyar bintang dan di alam semesa ini ada lebih dari 200 milyar galaksi.

Mampukah kita membayangkan luasnya alam semesta ini dan kecilnya bumi yang kita pijaki ini? Allahu Akbar! Masihkah kita sebagai manusia yang begitu “kecil kecil kecil” sekali di bumi ini menyombongkan apa yang kita raih? Andai semua manusia menyadari akan kecilnya diri di hadapan Illahi, mungkin tidak akan ada manusia yang mempertahankan ego mereka, tidak ada manusia yang menyombongkan apa yang mereka punya dan tak ada satupun manusia yang berani keluar dari jalur ketetatapan Allah. Semoga, kita termasuk orang yang bisa menyadari akan kecilnya diri dihadapan Illahi.

Tulisan ini saya buat berasal dari beberapa sumber, dengan tujuan agar kita semua dapat mengetahui bahwa bumi ini tak ubahnya butiran debu di alam semesta ini. Masih begitu banyak bintang yang ukurannya jauh lebih besar dari bumi yang kita pijaki ini. Pun agar kita dapat menyadari, betapa Allah Maha Agung atas segala apa yang Ia ciptakan di dunia ini. Mari kita merenungi akan kuasa Illahi yang sungguh menakjubkan ini.

Tataplah bintang yang menebarkan cahaya ke seluruh penjuru bumi, dan bayangkan jika suatu hari, lapisan ozon yang melindungi bumi ini mulai terkikis hingga mengakibatkan meteor mampu menembus bumi dan jatuh mengenai tanah bumi. Atau badai matahari menembus dan mengenai bumi. Hancurlah apa yang ada di dalamnya. Dan kita? Akan lenyap seketika tanpa meninggalkan satu katapun. Allahu Akbar.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang mau menyadari serta instropeksi diri terhadap apa yang telah terjadi, baik secara ucap maupun sikap. Serta selalu ingat bahwa Allah tak pernah tidur apalagi lalai. Semoga dengan adanya tulisan ini, akan mendatangkan manfaat bagi penulis juga pembaca.

Lampung, Sabtu, 19 Maret 2016