Bertawakallah Hanya Kepada-Nya

1
393
bertawakkal

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

Dalam kehidupan ini, saat menjalaninya pasti ada sedikit kekhawatiran akan masa depan. Ya, masa depan memanglah sesuatu yang belum terjadi. Dan tentu saja, kita belum bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan itu. Sebagaimana masa lalu yang tak bisa diulang kembali, masa depan juga tak bisa ditebak-tebak. Maka, ketika menghadapi semua kemungkinan di masa depan itu, sebagai seorang muslim selayaknya kita bertawakal hanya kepada Allah. Menyerahkan semua keputusan hanya kepada-Nya serta ridho dengan apa pun yang diberikan nantinya.

Lalu, apakah sebenarnya tawakal itu? Tawakkal adalah bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat dan menolak madharat.

Ibnu Rajab, dalam kitabnya Al Ulum wal Hikam halaman 409 berkata tentang tawakkal, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”

Namun, tawakkal harus disertai juga dengan tindakan. Karena, tawakkal itu berbeda dengan pasrah. Dalam hal ini, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi menjelaskan dalam kitabnya Minhajul Muslim, dengan menyebutkan bahwa tawakal itu harus disertai dengan mengerjakan perbuatan yang bisa menyebabkan terwujudnya hal yang diinginkan itu. Serta, jangan berharap untuk mendapatkan hasil jika tidak mau mengerjakan proses untuk mewujudkannya.

Ada satu hal pasti yang tak boleh kita lupakan dalam bertawakal. Tawakal itu, haruslah ditujukan kepada Allah. Karena hanya Allah tempat bergantung bagi seluruh manusia. Hal ini, telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya. “… dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.” (QS. Al Ma’idah: 11)

Dan juga disebutkan di dalam firman-Nya yang lain, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal : 2)

Dari kedua ayat tersebut, bisa kita ambil kesimpulan bahwasanya tawakal hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika tidak, hal itu bisa menjerumuskan pelakunya pada perbuatan syirik yang jauh dari Islam yang sesungguhnya.

Tawakal itu, berlaku dalam setiap hal. Begitu juga dalam hal rizki, selain berusaha kita juga harus bertawakal kepada Allah. Karena, hanya Allah yang bisa memberikan kita rizki. Hanya saja, perantara yang Allah gunakan untuk memberikan kita rizki berbeda-beda. Rasulullah SAW sudah menjelaskan hal ini dalam sabdanya.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Ini adalah tawakal yang sebenarnya. Tawakal itu memang harus disertai dengan tindakan. Seperti halnya burung yang keluar setiap harinya untuk mencari makan. Ia berusaha terbang ke sana kemari mencari rizki Allah. Namun tetap percaya bahwa berapa banyak rizki yang Allah berikan telah ditentukan.

Jika kita belajar lebih jauh lagi dari perilaku burung, niscaya akan kita dapati pelajaran yang sangat bermanfaat darinya. Coba kita perhatikan, apakah seekor burung menyimpan makanannya untuk dimakan esok hari? Tentu saja tidak. Itulah contoh tawakal. Bahwasanya, seekor burung percaya Allah yang memberi rizki kepadanya. Maka, dia tak mengkhawatirkan apa yang akan dimakannya esok hari. Yang dia tahu, bahwa esok hari ia akan berusaha dan berjuang mendapatkan rizkinya di hari itu.

Mungkin, itulah mengapa Rasulullah membuat permisalan tentang tawakal dengan mencontohkan seekor burung yang mencari rizki. Yang perlu diingat kembali dalam hal tawakal adalah keyakinan kita pada Allah. Bahwa Allah hanyalah satu-satunya tempat kita bergantung dan bertawakal. Maka, mari kita bertawakal hanya kepada-Nya. ^^

***

Jakarta, 13 Maret 2016