Berbisik Seperti Ini Ternyata Dilarang

0
818
dilarang berbisik

Oleh: Aannisah Fauzaania

Sahabat, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan situasi ketika tengah duduk bertiga dengan teman atau dengan saudara. Kemudian dua orang di antaranya berbisik-bisik entah tentang apa tanpa mengajak yang ketiga.

Dilansir dari KBBI, berbisik sendiri memiliki arti; (1) berbisik, berkata dengan suara perlahan-lahan (seakan hanya mendesis dan tidak nyaring), dan (2) berbuat dengan diam-diam (sehingga tidak kedengaran atau ketahuan oleh orang lain).

Berbisik menjadi salah satu hal yang dilarang dalam pandangan Islam. Namun tak seluruhnya, ada kala tertentu yang menjadikannya buruk dan bisa menjadi salah satu pemicu dosa. Kala tersebut adalah ketika kita tengah duduk bertiga, kemudian antara dua orangnya berbisik tanpa mengajak seorang yang terakhir.

Mengapa hal tersebut tak diperbolehkan?

Berbisik sesungguhnya bagian dari setan, ia bermaksud menghasut kita dengan ragam tujuan untuk merusak akhlak dan amalan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal. ” (QS. Al-Mujadilah: 10)

Berbisik berdua pun bisa menjadikan seorang yang ketiga akan memiliki prasangka buruk, menjadikannya sedih, atau berpikir yang tak baik. Tanpa sengaja, kita telah menjadikan orang lain untuk bersikap suudzan padahal sebelumnya ia tak berniat akan berpikiran buruk. Namun karena kita membicarakan sesuatu secara diam-diam, bisa jadi setan di sekeliling lebih hebat membisikkan kata, “Apakah dia membicarakan hal buruk tentangku? Apa yang mereka bicarakan?” Dan kemungkinan lain yang bisa berujung tak baik.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ
“Apabila mereka bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan meninggalkan yang ketiga.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam sabda beliau yang lain,
إِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُوْنَ اْلآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوْا بِالنَّاسِ، مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذلِكَ يُحْزِنُهُ
“Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik tanpa mengajak yang lainnya, hingga mereka bercampur dengan orang-orang, karena hal tersebut akan menyakitinya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Lalu, bagaimana jika lebih dari tiga orang?

Terdapat tambahan dalam Sunan Abu Dawud: Abu Shalih perawi hadits ini berkata kepada Ibnu Umar, “Bagaimana apabila berempat?” Dia menjawab, “Tidak membahayakanmu.” (HR. Abu Dawud dengan isnad yang shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim)

Imam Malik Rahimahullah dalam Al-Muwatha’ meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, ia berkata: “Aku pernah bersama Ibnu Umar di rumah Khalid bin Uqbah yang berada di pasar. Kemudian datang seseorang ingin berbicara lirih (berbisik) dengannya. Tak ada orang lain bersama Ibnu Umar kecuali diriku. Lalu beliau memanggil satu orang lagi sehingga kami berempat. Lalu Ibnu Umar berkata kepadaku dan orang ketiga yang dipanggilnya, “Menjauhlah sedikit, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Janganlah dua orang berbisik-bisik sendiri tanpa melibatkan yang satu’.”

Apabila yang terlibat berjumlah lebih dari tiga orang, maka diperbolehkan untuk berbisik antara dua orang. Dan seorang yang terakhir berkumpul dengan orang keempat seperti kisah sahabat yang telah dipaparkan di atas.

Bagaimanapun, bersikap preventif akan lebih aman ketimbang mengobati yang telah terlanjur bernoda. Berbisik-bisik dengan tujuan tertentu, meskipun kita tak bermaksud menyakiti perasaan seorang yang ketiga tetap akan menjadi sesuatu yang membuat tak nyaman.

Penilaian dan cara bersikap dari masing-masing pribadi tentulah memiliki perbedaan. Ada yang senantiasa berpikir positif dan tak mengambil pusing sesuatu meski membuatnya menimbulkan tanda tanya. Namun ada pula tipe pribadi yang begitu sensitif hingga masalah atau penyebab kecil pun bisa menjadikannya tak bisa tenang hingga berhari-hari. Tipe seperti inilah yang mestinya kita perhatikan dalam hal berbisik agar di kemudian hari tak timbul kesalahpahaman yang bisa berujung pada fitnah.

Dengan pandai menjaga lisan, insyaallah kita telah membantu orang lain untuk berpikir positif. Semoga kita menjadi insan yang tak bosan untuk belajar menjadi pribadi lebih baik lagi. Aamiin.