Berapa Lama Bisa Hafal Qur’an?

1
2548
kiat menghafal quran

Oleh : Alya Adzkya

“Ada masanya nanti, di negeri kita Indonesia ini. orang-orang akan malu, bila ia tidak hafal Al-Qur’an.” (Ust. Yusuf Mansyur)

Semangat menghafal dan membumikan Al-Qur’an terus bergaung di seantero negeri kita. Menggembirakan memang. Apalagi saat banyak anak usia dini telah mulai melafalkan ayat-ayat suci lewat bibir mungilnya. Membuat para orang dewasa kagum sekaligus malu pada pencapaian diri yang biasa-biasa saja.

Menjamurnya rumah-rumah tahfidz, lembaga-lembaga serta program yang mendukung, membuat semakin banyak anak dan remaja yang tergugah untuk mulai menghafalkan Al-Qur’an. Seiring dengan banyaknya orang yang tergerak untuk menghafal, semakin banyak pula tanya yang beredar.

Bagaimana metode terbaik agar bisa hafal Qur’an dengan cepat? Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang agar bisa menghafalkan keseluruhan isi Al-Qur’an?
Allah telah berfirman dalam Q.S Al-Qiyamah ayat 16

لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَا نَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

“Jangan engkau gerakkan lidahmu karena hendak cepat-cepat menguasainya.”
Jika kita ingin cepat-cepat hafal, ingin cepat-cepat khatam, ada baiknya kita periksa kembali niat kita. Sudahkah kita niatkan menghafal karena Allah? Atau jangan-jangan kita hanya menghafal agar mendapat julukan atau gelar hafizh.

Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya soal kecerdasan. Secerdas apapun seseorang jika ia tidak punya niat dan keinginan yang kuat untuk hafal Al-Qur’an, mustahil baginya untuk bisa hafal Al-Qur’an. Sepintar apapun seseorang, jika ia tak bersabar pada proses menghafal yang ia jalani, bukan tak mungkin ia akan berhenti di tengah jalan. Enggan menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya.

Hafizh Al-Qur’an itu mulia, bukan saja karena terbawa oleh kemuliaan Al-Qur’an, tetapi lebih pada kesungguhan, cita-cita dan niat tulus yang teruji. Tugas kita sebagai penghafal Al-Qur’an tak selesai begitu saja saat kita selesai menyetorkan hafalan Al-Qur’an kita.

Hakikat menghafal itu lebih pada bagaimana cara kita untuk menjaga ayat-ayat yang telah terpahat rapi dalam hati kita. Lantas mendekapnya erat-erat dalam setiap helaan nafas yang kita miliki. Bukan hanya soal hafalan yang mutqin atau membacanya dengan suara yang indah. Tapi lebih pada bagaimana kita mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Bagaimana kita menggumamkan kalam-kalam Allah dalam setiap detik kehidupan kita.

Ustadz Deden Muhammad Makhyaruddin dalam bukunya Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya menghafal Al-Qur’an itu tidak membutuhkan metode, tetapi yang dibutuhkan hanya niat, mujahadah dan istiqomah.”

Saya tidak mengatakan bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit. Tidak. Hanya saja kalam Allah yang satu ini memang membutuhkan kelurusan niat, kesungguhan serta keistiqomahan dalam hati para penjaganya.

Jika saat ini kita tergesa-gesa ingin cepat menghafalkan Al-Qur’an, ada baiknya kita lihat keadaan generasi terbaik dalam islam. Para sahabat relatif lambat dalam menghafal Al-Qur’an. Sahabat Umar bin Khaththab menghafal surat Al-Baqorah selama dua belas tahun. Abdullah ibnu Umar yang terkenal sebagai pakar Al-Qur’an bahkan menghafal surat Al-Baqoroh dalam waktu delapan tahun.

Cepat atau lambat menghafal Al-Qur’an tak jadi masalah. Karena yang penting adalah bagaimana kita menikmati proses menghafal itu, serta bagaimana cara menjaga hafalan agar tidak lupa.

Menghafal Al-Qur’an adalah proses sepanjang hayat. Hingga helaan nafas terhenti, barulah tugas kita sebagai penghafal Al-Qur’an terselesaikan. Kita juga tak memerlukan metode mutakhir untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an. Cukup luruskan niat, mantapkan kesungguhan, sertai dengan istiqomah. Insya Allah kita bisa menjalani tugas sebagai penjaga kalam Allah dengan baik.