Apakah Saudara Kita Aman Dari Lisan Kita?

0
430
lisan setajam silet

Oleh: Aannisah Fauzaania

Sahabat, ucapanmu akan menjadi cermin kepribadianmu. Siapapun peran kita dalam hidup ini, membiasakan berucap yang baik tetaplah harus diterapkan. Karena mungkin kelak ada seseorang yang akan menjadikan tiap kata yang terdengar dari mulut kita sebagai panutan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah orang muslim yang paling baik ?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Dalam sabdanya, Rasulullah menyebutkan orang muslim yang paling baik adalah yang bisa menjaga lisannya hingga selamat dari keburukan. Yang perkataannya bisa bermanfaat dan memberi kebaikan untuk orang lain, tentu saja akan menjadi lebih beruntung.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.”

Artinya, anjuran memilih diam tentu menjadi opsi yang lebih utama daripada berkata tak karuan dan tak memiliki manfaat.

Lalu, peran apa yang dimaksudkan dalam paragraf pertama di atas?
Ya, semua peran yang akan berlaku pada diri kita. Ketika kita tengah menjadi seorang kakak, maka ucapan kita tentu akan menjadi panutan untuk adik-adik. Ketika kita menjadi orangtua, maka ucapan kita akan menjadi panutan untuk anak-anak, ketika kita menjadi seorang kepala desa, maka ucapan kita akan menjadi panutan untuk masyarakat, bahkan akan berpengaruh pada penghidupan mereka, dan masih banyak peran lain yang juga mutlak mesti menerapkan perilaku berkata yang baik dalam kesehariannya.

Karena itu, penanaman kebiasaan tindak tutur yang sopan nan baik juga harus dilatih agar terbiasa mengucapkan yang baik saja dan meninggalkan yang buruk. Jika benar memang tidak terlalu menyukai, maka lebih baiklah diam saja, seperti perkataan seorang bijak, “diam itu emas”.

Mengapa harus membiasakan berkata yang baik?
Sahabat, dari banyak pengalaman yang pernah kita telusuri, kita tentu mengetahui perilaku yang sifatnya telah melekat akan berawal dari kebiasaan. Sesuatu yang kita awali karena terbiasa akan terus mengikuti perkembagan diri meskipun nantinya kita akan berada di lingkungan yang berbeda.

Seseorang yang terbiasa berbuat baik, maka ia sendiri yang akan menjadikan pribadinya sebagai pribadi baik yang berkualitas. Misalnya, seseorang yang terbiasa rajin belajar, maka ia akan menjadi pandai. Seseorang yang terbiasa memberi, akan menjadikannya seorang yang dermawan. Begitupun seorang yang terbiasa bertutur baik, maka ia akan dikenal orang sebagai pribadi yang santun dan terpercaya.

Dalam sisi lain, seseorang yang terbiasa melakukan hal-hal buruk, pun akan menjadikannya pribadi yang tak baik.
Misalnya seseirang yg terbiasa berbohing, maka ia akan sulit menerima kepercayaan dari orang lain. seorang yang tak biasa berbagi, maka ia pun akan sulit mendapat bantuan dari orang lain ketika ia tengah butuh. Begitupun jika kita terbiasa berkata tak baik, maka kita akan dipandang oranglain sebagai pribadi yang tak berkualitas dan diragukan akhlaknya.

Kesan diragukan karena perkataan kita ini terkadang tak bisa kita pandang remeh pun. Sahabat, dalam suatu kala saya pernah mendengar sebuah kisah. Terdapat seorang ibu rumah tangga tengah mencari seorang yang bisa membantunya melakukan pekerjaan rumah, karena ia sendiri bekerja dan baru kembali ke rumah setelah petang. Kala itu ibu tersebut bertemu dnegan dua orang wanita di suatu tempat, keduanya tengah mencari pekerjaan. Si ibu mengajak kedua puan berbincang sebentar, wanita pertama menjawab beberapa pertanyaan dari ibu itu dengan santun dan ramah, sedangkan yang satunya menjawab dengan ketus dan kata-katanya pun kasar.

Setelahnya, tentu saja kita bisa menebak wanita pertama yang akhirnya dipilih si ibu untuk ikut membantu di rumahnya, karena ia merasa kepribadian yang dimiliki wanita pertama lebih baik dan terpercaya. Sedangkan seorang lainnya, telah kehilangan kesempatan karena tak bisa menjaga tuturnya dengan santun.
MasyaaAllah, ternyata pengaruh membiasakan berkaa baik bisa begitu besar pula kan dalam kehidupan kita?

Selain itu, alasan yang kedua mengapa harus berkata baik adalah anjuran untuk menjaga lisan. Sebagaimana dalam sebuah hadits lain Nabi bersabda kepada Mu’adz bin Jabal,
“Bukankah yg menyungkurkan manusia ke dalam Neraka atas wajah mereka adalah karena lisan mereka?” – HR at-Tirmidzi

Rasulullah pun menjamin surga bagi ummatnya yang bisa menjaga lisannya. Seperti dalam sabda rasululullah:
“Barangsiapa yang dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, Aku akan menjamin surga untuknya” (HR. Ahmad)

MasyaAllah, saudariku, begitu banyak faedah dari membiasakan berkata yang baik. Dengan membiasakan berkata yang baik, kita telah menjadikan bening cermin kepribadian diri . Dengan membiasakan berkata yang baik, kita telah mengikuti hadist rasulullah yang tentu akan dibalas kebaikan pun.

Sahabat, semoga catatan ini bisa membuka pintu hati kita, agar tak bosan berhijrah diri, menjadikan pribadi yang lebih baik lagi, aamiin.