Allah Menjadikan Kaya dan Miskin dengan Adil

0
3024
kaya dan miskin

Oleh : Indri Novia Miranti

Sudah menjadi sunatullah (ketentuan Allah) bahwa keseimbangan di dunia ini diantaranya adalah dengan adanya yang miskin dan yang kaya. Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rezeki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rezeki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin dan serba kekurangan. Namun, terkadang kita masih salah dalam menilai ketetapan-Nya tersebut. Padahal sebenarnya Allah telah mengaturnya begitu adil. Di antara hikmahnya itu adalah seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS.An-Nahl: 71)

Ayat lain menyebutkan, “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra`: 30)

Kedua ayat di atas, pada akhir ayat Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” Ibnu Katsir menjelaskan maksud penggalan ayat terakhir tersebut, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat manakah diantara hamba-Nya yang pantas kaya dan pantas miskin.” Sebelumnya beliau rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kaya dan miskin bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Di balik itu semua ada hikmah.” (Tafsir Al-Qur`an Al Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/479)

Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman Allah: “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-syuraa: 27)

Beliau rahimahullah lantas menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rezeki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan tetapi, Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.
Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur`an Al Azhim, 12/278)

Kaya Bukan Tanda Mulia, Miskin Bukan Tanda Hina

Ketahuilah bahwa kaya dan miskin bukanlah tanda orang itu mulia dan hina. Karena orang kafir saja Allah beri rezeki, begitu pula dengan orang yang bermaksiat pun Allah beri rezeki. Jadi, rezeki tidak dibatasi pada orang beriman saja. Banyaknya harta dan anak bukanlah penentu untuk mendekatkan diri pada Allah, seperti yang digaungkan orang kafir, tetapi melalui iman dan amalan shaleh. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh.” (QS. Saba`: 37).

Penjelasan dalam ayat tersebut senada dengan sabda Nabi SAW. Dari Abu Hurairah ra: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Ibnu Hazm al-Andulisy dalam kitabnya, al-Ushul wa al-Furu’ (1/108) menyinggung tentang kaya dan miskin, mana yang lebih utama? Menurut beliau, bahwa kaya dan miskin tidak menentukan kemuliaan. Kemuliaan orang kaya dan orang miskin ditentukan oleh amal mereka. Jika amal keduanya sama, maka kemuliaannya pun juga sama. Jika yang kaya lebih banyak beramalnya, maka ia lebih mulia dari orang miskin, begitu juga sebaliknya.

Kaya bisa saja sebagai istidraj dari Allah, yaitu hamba yang suka bermaksiat dibuat terus terlena dengan maksiatnya, lantas ia dilapangkan rezeki. Miskin pun bisa jadi sebagai adzab atau siksaan. Semoga kita bisa merenungkan hal ini.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menerangkan firman Allah, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al-Fajr: 15-16);

Beliau rahimahullah berkata, ”Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah dalam hal meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinakannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.

Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur`an Al Azhim, 14/347)

Kaya ataupun miskin, sama-sama berpeluang kufur. Yang kaya, jika tidak bisa bersyukur maka dia bisa saja menjadi kufur nikmat, sebaliknya yang miskin pun bisa mendekati kekufuran. Sebagaimana yang dikhawatirkan nabi, di saat ia mencoba protes dan menganggap semuanya sebagai bentuk ketidakadilan. Padahal sebaiknya kita tidak pasrah dengan keadaan, tetap bersabar dan berupaya untuk ikhtiar serta bangkit agar terhindar dari meminta-minta kepada sesama manusia. Sehingga apabila kita lulus dalam ujian, dengan berupaya ridha akan ketetapan Allah dan tidak sampai lalai dari ketaatan kepada-Nya, maka semoga keberkahan hidup akan kita dapatkan. Karena sejatinya, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum tersebut tidak mau merubah dirinya sendiri.”

Namun yang jelas, kaya dan miskin adalah fitnah (cobaan). Ini berdasarkan sebuah hadits Rasulullah SAW dan merupakan do’a beliau, “Ya Allah, aku mohon perlindungan kepadaMu dari fitnahnya kekayaan dan aku mohon perlindungan (pula) dari fitnahnya kemiskinan.” (HR. Bukhari)

Semoga apapun keadaan kita saat ini, tidak menyurutkan ghiroh untuk tetap taat dan ridha akan segala ketentuan-Nya. Sebab adil bukan berarti mesti sama rata, tetapi juga sama rasa. Ya, meski secara kuantitas jumlahnya berbeda. Namun, secara kualitas sebaiknya disikapi sama, yakni rasa syukur atas setiap rezeki yang diterima, berapapun itu. Karena, suatu kenikmatan akan didapat tatkala kita bisa merasakan berkah dari harta yang diperoleh.