Agar Ibadah Kita Mabrur

0
190
ibadah mabrur

Oleh M. Ali Yunus

SEBENARNYA bukan hanya ibadah haji saja yang harus mabrur, tapi semua ibadah yang kita lakukan harus mencapai derajat mabrur. Allah sangat menghargai ibadah hamba-Nya yang mabrur.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga syarat yang harus ditempuh agar ibadah kita mabrur. PERTAMA, ikhlas. Suatu perbuatan ibadah tidak akan diterima Allah, meskipun secara ilmu fikih memenuhi syarat dan rukun ibadah yang sah, manakala tidak disertai dengan niat ikhlas dalam melaksanakannya. Ikhlas sendiri merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai iman yang tertanam kuat dalam hati seorang hamba.

Allah SWT berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).

Ibadah yang dilaksanakan bukan karena Allah hanya akan membuahkan kesia-sian yang berujung kepada datangnya azab Allah. Dalam H. R. Abu Daud disebutkan, “Berlindunglah kalian kepada Allah swt dari Jubb al-Huzn!” Mereka bertanya, “Apakah Jubb al-Huzn itu, ya Rasulallah saw?” Ia menjawab, “Yaitu sebuah lembah di neraka Jahannam, yang neraka Jahannam itu sendiri memohon perlindungan kepada Allah swt darinya seratus kali setiap hari.” Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulallah saw! Siapakah orang yang akan memasuki lembah itu?” Ia menjawab, “Para pembaca Al-Qur’an yang ria dengan perbuatannya. ”

KEDUA, sesuai ketentuan Allah dan Rasulullah SAW. Suatu ibadah yang dalam pelaksanaannnya tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya akan ditolak oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits yang sudah masyhur Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah salat oleh kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan salat.” (HR. Muttafaqun ‘alaih). Sabda Rasulullah saw ini bermakna isyarat bahwa ibadah yang kita lakukan harus sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami jadikan kamu (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu, dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jasiyah:18).

KETIGA, sungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Sungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah merupakan wujud dari keikhlasan dalam beribadah. Allah sangat mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah atau melakukan suatu kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu perbuatan baik.” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani).

Ibadah yang mabrur merupakan ibadah yang paling utama, sebab ibadah yang mabrur merupakan ibadah yang diterima oleh Allah SWT. Ibadah yang diterima oleh Allah SWT berarti ibadah yang menghasilkan pahala berupa rida, ampunan, dan tentunya surga Allah. Seberat apapun tantangan dan godaan yang kita hadapi ketika melaksanakan ibadah kepada Allah, berjuanglah sekeras mungkin agar ketiga persyaratan ibadah yang mabrur mampu kita miliki, dan berlindunglah kepada Allah dari ibadah yang dilaksanakan dengan riya’ dan tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Kaki Gunung Papandayan, Akhir Februari 2016