3 Sekawan Itu Bernama Syukur, Sabar dan Ikhlas

0
2900
sabar syukur ikhlas

Oleh : Newisha Alifa

3 amalan hati yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap kita adalah; syukur, sabar dan ikhlas.

Sebagian orang ada yang mendahulukan syukur dulu baru sabar, atau bersabar dulu kemudian bersyukur. Tapi pada akhirnya saya yakin, kolabolarasi antara keduanyalah yang kelak akan menghasilkan perasaan IKHLAS dalam diri seorang manusia yang mengaku beriman kepada Allah Swt.

Dalam penerapannya, ketiga perasaan ini seakan-akan memiliki pengertian yang berbeda-beda. Namun jika direnungkan lagi, sebenarnya satu sama lain saling berkaitan. Sejatinya, selalu ada benang merah yang tak bisa dipisahkan antara rasa syukur, sabar dan ikhlas, ketika salah satu dari perasaan ini sudah dimiliki seorang hamba.

Dari salah satu kisah utusan Allah Swt di bawah ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran tentang makna dan korelasi antara ketiga perasaan tersebut.

Apa yang dirasakan Nabi Ibrahim As ketika mendapat perintah untuk mengorbankan putra kesayangannya: Nabi Ismail As? Begitu pula sebaliknya, bagaimana perasaan seorang anak ketika mendapati Rabb-nya menyuruh sang bapak untuk menyemblihnya?

Jika menuruti fitrah keduanya sebagai sepasang bapak dan anak, tentu mereka merasa sedih dan tidak rela terhadap perintah Allah itu. Namun karena Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As adalah dua manusia pilihan Allah dengan kadar ketakwaan yang begitu maksimal, jadilah mereka “Sami’na Wa ato’na”, “Kami dengar dan kami taat” terhadap perintah Allah. (QS 37: 101-111)

Dimana letak syukurnya?

Nabi Ibrahim As pun bersyukur memiliki putra yang taat seperti Ismail As. Seorang anak yang rela dikorbankan, demi mendukung ayahnya untuk mematuhi perintah Allah. Pun sebaliknya, Nabi Ismail As merasa sangat bersyukur dianugrahi ayah sehebat Ibrahim As, yang jika beliau sampai diuji seperti itu berarti ayahnya itu pastilah memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Bukankah kadar ujian seorang hamba disesuaikan dengan kadar ketakwaan dan kedekatan dia dengan Allah?

Dimana letak sabarnya?

Perlukah ada penjelasan yang lebih detail lagi, untuk menggambarkan betapa sabarnya sepasang bapak dan anak itu dalam menerima dan menjalankan perintah Allah tersebut?

Hingga pada akhirnya tibalah di puncak kedua rasa itu yakni; ikhlas. Ketika dua hamba Allah yang beriman itu sudah bersyukur lagi sabar terhadap segala Ketatapan Allah, maka ikhlas pun akan lahir dengan sendirinya. Ikhlas lahir dalam diri mereka yang menerima, rela dan ridho akan hakikat hidup ini sejatinya untuk bermuara pada Ridho-Nya Allah. Bahwa ketika semuanya diniatkan karena dan untuk Allah, maka tiada satu pengorbanan pun yang terhitung sia-sia.

Jika kita mau menadaburi Al-Qur’an, mempelajari kisah-kisah para Nabi dan orang-orang beriman lain di dalamnya, maka kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As hanyalah satu dari banyak kisah yang ada di sana.

Masih ada kisah Nabi Ayyub As yang tetap bersyukur, bersabar dan ikhlas ketika diuji dengan sakit menahunnya. Kisah Siti Maryam yang harus mengandung tanpa didampingi suami. Kisah ibu Nabi Musa As yang harus merelakan anaknya diasuh oleh keluarga Fir’aun. Kisah Nabi Yunus As yang tidak bersabar menghadapi kaumnya hingga ia berada di dalam perut ikan paus dan kisah-kisah lainnya yang tak kaya akan hikmah.

Namun, percayalah …
Menerapkan ketiga perasaan kita memang TIDAK SEMUDAH membahasnya. Ketiganya adalah kata-kata yang ringan dalam ucapan, namun berat dalam mengaplikasikannya, KECUALI bagi orang-orang yang memang selalu berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Mulailah dengan ‘menerima’ bahwa segala yang terjadi pasti tak luput dari Kehendak-Nya. Dan segala Kehendak-Nya In Syaa Allah pada akhirnya selalu baik untuk kita yang juga selalu berbaiksangka pada Ketetapan-Nya.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Cikarang, 11 Jumadil Tsani 1437 H • 21 Maret 2016