Waspadai Ta’aruf Bodong

2
607
ta'aruf

Oleh : Riska Kencana Putri

Ta’aruf secara bahasa berarti mengenal/perkenalan, sedangkan secara istilah di Indonesia dikhususkan kepada tahap perkenalan antara laki-laki dan perempuan untuk menuju pelaminan. Ta’aruf di masyarakat kita sudah menjadi hal yang akrab di telinga. Seolah menjadi tren mengikuti pamor hijab yang kian hari kian ramai. Bahkan di kalangan selebritis, istilah ta’aruf sering terdengar. Namun, apakah ta’aruf yang digaungkan di masyarakat adalah ta’aruf yang sesuai dengan apa yang di maksud syariat?

Menurut Islam, berta’aruf ada syarat dan ketentuan berlaku. Jangan sampai ta’aruf yang sedang kita jalani menjadi ta’aruf bodong, ta’aruf yang tidak memenuhi standar syariat.

Berta’aruf itu kan mengajak menikah, bukan mengajak pacaran. Jadi bisa dikatakan bahwa ta’aruf adalah salah satu ikhtiar mencari jodoh dengan cara yang halal, dengan harapan pernikahan yang nanti dijalani akan senantiasa dilimpahi barakah dari Allah. Karena ini halal, maka pembaca harus hati-hati dalam berta’aruf, jangan sampai jalan yang sudah diperbolehkan Allah malah jadi jalan maksiat.

KRITERIA TA’ARUF BODONG

Ada beberapa kriteria yang perlu kita ketahui agar tidak terjebak pada modus ta’aruf yang bodong. PERTAMA, menjalani ta’aruf tanpa perantara. Ini sudah jelas bodongnya. Mana ada ta’aruf syar’i tanpa perantara, yang ada nanti orang ketiga adalah setan. Padahal dalam prosesnya, selain bertukar informasi diri, kedua belah pihak juga akan dipertemukan. Istilahnya nadzar, atau melihat, untuk melihat si calon. Pada saat pertemuan inilah yang perlu perantara. Bisa dari pihak keluarga ataupun dari ustadz/ustadzahnya, agar terhindar dari khalwat (berduaan) yang dilarang Allah.

KEDUA, komunikasi yang tidak penting. Ini juga menjadi salah satu indikasi, apakah proses yang kita jalani resmi atau bodong. Syariat sangat membatasi komunikasi antara laki-laki dan perempuan, jadi jika ada hal penting yang perlu dikomunikasikan bisa melalui keluarga ataupun perantara. Tidak seenaknya sms, telepon ataupun chatting berdua, apalagi cuma sekedar menanyakan kabar, sudah makan atau belum, jangan lupa jaga kesehatan. Ah, ini ketahuan modusnya.

KETIGA, mengumbar. Mengumbar apa? Mengumbar informasi jika si A sedang berta’aruf dengan B, mengumbar “kemesraan” dengan kata-kata gombal. Misalnya di akun media sosial, ada yang saya temui menuliskan seperti ini :

“Masya Allah, Mas Ikhwan baik banget, shalih lagi… Semoga ta’aruf kita sampai ke pelaminan…”

atau begini,

“Duhai calon bidadariku, bla bla bla…”

Dan setelah update status terjadilah saling balas komen, lalu berlanjut ke inbox. Ini ta’aruf apa pacaran?

Itu tadi fenomena ta’aruf bodong yang ada di masyarakat kita. Di media malah, public figur yang berta’aruf bisa foto berdua, makan, nonton. Astaghfirullah.

Sebagai seorang muslim, kita harus pandai dalam melihat siasat setan. Sesungguhnya mereka tidak akan pernah berhenti menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan. Bukankah misi mereka menyesatkan kita? Jangankan bermaksiat yang terang-terangan, yang notabene ibadah pun masih disesatkan.

Ta’aruf bodong itu bisa jadi berkaitan dengan ikhwan/akhwat modus, karena muslim yang beriman dan faham tentunya sudah mengtahui pakem yang harus mereka patuhi. Jadi, waspadalah!