Wahai Ayah, Apa yang Akan Kau Tinggalkan Untuk Anak-Anakmu?

1
823

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Tanah pekuburan masih memerah, bekas jejak para pelayat masih terasa. Wangi semerbak kamboja masih menyeruak. Namun, siapa sangka, yang di rumah tak dirundung duka. Malah berebut peninggalan harta dan tahta.

Begitulah yang sering menjadi realita, yang sangat disayangkan terjadi pada zaman ini. Anak-anak yang seharusnya menjadi penyambung amalan tak terputus bagi orang tuanya, justru saling berebut peninggalan orang tua mereka tanpa mempedulikan bahwa suasana duka masih menyelimuti keluarga.

Itulah salah satu kesalahan yang dilakukan oleh orang tua saat hidupnya. Orang tua kurang memperhatikan pendidikan agama sang buah hati. Hingga saat ia dewasa, mereka tidak menjadi seperti yang diharapkan. Maka, didiklah anak-anak dengan pendidikan agama yang benar dan sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW ajarkan. Serta, berilah wasiat yang baik kepada mereka. Jangan hanya meninggalkan harta berlimpah, namun hati mereka kosong dari tuntunan Islam.

Jika kita lihat para orang shalih dahulu, mereka tidaklah mewariskan harta yang banyak bagi keturunannya. Ada yang lebih penting daripada itu. Itulah ilmu agama; mengesakan Allah serta tidak menyekutukannya dengan suatu apapun.

Itulah yang Lukman wasiatkan kepada Anaknya. Hal ini telah diabadikan di dalam Al Qur’an, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)

Begitu juga apa yang ditanyakan oleh Nabi Ya’kub kepada anak-anaknya ketika ajal telah mendekat tentang siapa yang akan mereka sembah sepeninggalnya.

“Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” (QS Al Baqarah Ayat 133)

Marilah kita menyimak juga apa yang Ibnu Abdil Hakam tuliskan ketika mengisahkan tentang bagaimana saat-saat terakhir Umar bin Abdul Aziz di dunia ini dalam kitabnya Sirah Umar Ibnu Abdul Aziz. Ketika kematian mendatangi Umar bin Abdul Aziz, Maslamah bin Abdul Malik masuk menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Engkau, Wahai Amirul Mukminin, telah melarang anak-anakmu dari harta ini. Maka, alangkah baiknya bila kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau orang yang engkau kehendaki dari keluargamu.”

Setelah Maslamah selesai dari perkataannya, Umar berkata, “Dudukkanlah Aku.” Mereka kemudian mendudukkannya dan Ia berkata,
“Sesungguhnya aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Adapun perkataanmu, ‘Sesungguhnya aku telah melarang anak-anakku dari harta ini’. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak melarang mereka dari apa yang menjadi hak mereka. Dan aku tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan menjadi haknya. Adapun perkataan ‘Seandainya kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu’, maka, hanyalah yang menjadi penerima wasiatku dan waliku kepada mereka adalah Allah yang telah menurunkan Al Kitab dengan hak. Dan Dialah yang menjaga orang-orang shalih. Ketahuilah, Wahai Maslamah bahwa anak-anakku adalah salah satu dari dua orang lemah; entah orang shalih yang bertakwa, maka Allah akan mencukupkan dengan karunia-Nya dan menjadikan jalan keluar bagi urusannya, dan entah orang yang thalih (jahat dan durhaka), dan gemar melakukan maksiat, maka aku tidak akan menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta atas maksiat kepada Allah.”

Umar kemudian melanjutkan, “Panggilkan anak-anakku.” Maslamah pun memanggil mereka yang berjumlah sekitar sembilan belas orang. Ketika Umar melihat mereka, berlinanglah air matanya. Dia berkata, “Sungguh, aku akan meninggalkan mereka sebagai pemuda yang fakir dan tidak memiliki suatu apapun.”
Ia menangis hingga tak terdengar suaranya. Kemudian menoleh kepada mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kalian. Sesungguhnya, tidaklah kalian melewati seorangpun dari kaum muslimin dan ahlu dzimmah kecuali mereka melihat kalian memiliki hak atas mereka. Wahai anak-anakku, sesungguhnya di depan kalian ada dua pilihan; entah kalian menjadi kaya dan ayah kalian masuk neraka, atau kalian menjadi fakir dan ayah kalian masuk surga. Aku tidak menyangka, kecuali kalian akan mendahulukan untuk menyelamatkan ayah kalian dari neraka daripada kekayaan.”

Kemudian Umar memandang mereka dengan kasih sayang seraya berkata, “Bangkitlah, semoga Allah menjaga kalian. Bangkitlah, semoga Allah memberi rizki pada kalian.”

Maslamah menoleh kepadanya dan berkata, “Aku mempunyai yang lebih baik dari itu wahai Amirul Mukminin.”

Umar bertanya, “Apakah itu?”

Maslamah menjawab, “Aku mempunyai tiga ratus ribu dinar. Dan sesungguhnya, aku menghibahkannya kepadamu, maka bagilah untuk mereka. Atau engkau bersedekah dengannya bila engkau kehendaki.”

Umar berkata kepadanya, “Bukankah ada yang lebih baik dari itu wahai Maslamah?”

“Apakah itu, wahai Amirul Mukminin?” tanya Maslamah.

Umar menjawab, “Engkau mengembalikannya kepada orang yang telah telah kamu ambil darinya, karena sesungguhnya kamu tidak punya hak.”

Kedua mata Maslamah berkaca-kaca, Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, Wahai Amirul Mukminin.”

Orang-orang kemudian mengikuti berita tentang anak-anak Umar sepeninggalnya. Mereka melihat tidak ada seorang pun dari mereka yang fakir dan kehausan uang. Bahkan, semua anak-anak itu termasuk sukses dunia akhirat.

Tinggalkanlah wasiat yang berharga pada anak-anakmu, wahai para ayah. Sebuah wasiat sebagaimana yang diberikan oleh Lukman, Nabi Ya’kub, Umar Ibnu Abdul Aziz, dan orang shalih lainnya kepada anak-anaknya. Bukan hanya meninggalkan harta yang akhirnya hanya menjadi rebutan dan merusak akhirat anak-anakmu.

Jadikanlah anak-anak sebagai penyambung amalan ketika kita sudah tak ada lagi di dunia ini. Anak yang shalih adalah anak yang bisa memberikan kebaikan kepada orang tuanya meski orang tuanya itu telah tiada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)

Wahai Ayah, berilah mereka wasiat terbaik serta nasihat kehidupan yang bermanfaat.

***

Jakarta, 26 Februari 2016