Tipu Daya Iblis Terhadap Para Pemimpin

0
197
tipuan iblis

Oleh : Afdalil Zikri

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasululllah SAW bersabda, “Ketahuilah, setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”

Hadits di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa kita semua adalah pemimpin. Pemimpin di sini bisa dalam arti memimpin rumah tangga, pemimpin institusi atau lembaga, pemimpin daerah atau pemimpin negara, dan paling kecil adalah pemimpin diri sendiri.

Sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah contoh pemimpin yang sangat adil dan bijaksana. Ini bisa dilihat ketika beliau SAW dapat menyatukan kaum Muhajirin dan kaum Ansor ketika hijrah. Dan juga ketika beliau bisa menciptakan tatanan kehidupan masyarakat Madinah yang sangat makmur dan sejahtera. Tatanan masyarakat Madinah inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan tentang konsep masyarakat yang ideal. Untuk diketahui bahwa kata “Madani” yang dicita-citakan manusia sekarang berasal dari kata “Madinah’. Pengambilan kata ini dimaksudkan dengan tujuan bisa menerapkan contoh kepemimpinan yang telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Peradaban yang maju didukung oleh bagaimana seorang pemimpin bisa mengakomodir peradaban itu sendiri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, perubahan peradigma tentang kepemimpinan makin tergerus. Pemimpin dianggap sebagai lambang kekuasaan, simbol sebuah organisasi dan/atau negara. Perubahan konsep kepemimpinan inilah yang menjadikan seseorang rela melakukan hal apapun demi sebuah jabatan pemimpin. Nah, dengan melakukan segala cara inilah membuka peluang manusia untuk digoda oleh Iblis. Tipu daya Iblis dalam mendapatkan jabatan atau ketika menjabat membuat mereka sombong dan lupa akan daratan.

Saya sangat tertarik menulis topik ini karena berangkat dari kegelisahan saya dimana pemimpin yang ada sekarang sebagian besar telah terkena tipu daya Iblis. Pemimpin yang saya maksudkan disini adalah pemimpin bagi suatu negara ataupun daerah. Sangat kecil kemungkinan akan terlihat oleh orang banyak ketika tipu daya Iblis menggoda seorang pemimpin rumah tangga atau lembaga karena konteksnya kecil. Tanda-tanda seorang pemimpin yang telah kena tipu daya Iblis dalam memimpin dapat kita lihat dari ciri-ciri berikut :

PERTAMA, Iblis menunjukkan kepada mereka bahwa Allah menyayangi mereka karena kalau Allah tidak sayang, tidak mungkin mereka mendapat posisi sebagai pemimpin, sehingga mereka menjadi lupa diri. Mereka memimpin dengan menunjukkan sikap yang angkuh, jumawa dan sombong. Allah memberikan kekuasaan kepada mereka, tetapi mereka menggunakan posisi kepemimpinannya untuk ‘menumpas’ golongan yang lemah dan memaksakan kehendak kepada mereka yang tidak mampu melawan dengan alasan demi tegaknya hukum.

Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 178, “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan”

KEDUA, Iblis menyerang dengan tipu dayanya bahwa apapun yang dilakukan adalah karena kewajiban mereka dalam memimpin. Mereka beralasan bahwa yang mereka lakukan adalah untuk menciptakan stabilitas politik, ekonomi dan bidang lainnya. Bahkan mereka tidak tanggung-tanggung dalam membuat kebijakan yang melanggar HAM. Bukan bermaksud menimbulkan hal yang kontroversial, hal-hal seperti dilarangnya kumandang adzan dengan alasan mengganggu kenyamanan, dilarangnya menjual hewan korban di trotoar, merupakan suatu bentuk pelanggaran dalam hal agama. Mereka beranggapan bahwa itu semua untuk alasan kenyamaman. Namun menciptakan kenyamanan bukan berarti mengganggu kenyamanan orang lain. Nabi Muhammad SAW menciptakan kondisi masyarakat Madinah yang aman, adil dan sejahtera. Contohnya saat beliau menghormati ketika ada orang Yahudi yang meninggal dunia dengan berdiri sebagai bentuk rasa hormat.

KETIGA, Iblis menganggap baik sikap toleran yang mereka lakukan terhadap kemaksiatan. Saya bingung sendiri dengan adanya wacana dibuatnya tempat lokalisasi bagi pekerja seks komersial dengan alasan agar tidak terjangkit virus HIV/AIDS bagi yang lainnya dan para pekerja tersebut tidak kehilangan pekerjaan. Aduh, saya bingung dengan wacana semacam ini. Sebagai pemimpin yang baik hendaknya bisa menciptakan situasi yang kondusif dengan mencegah kemungkaran dan menciptakan kebaikan untuk semua.

KEEMPAT, tipu daya Iblis yang membisikkan kepada mereka bahwa “kekuasaan itu perlu wibawa”. Tipu daya inilah yang menjadikan mereka sombong, takabur, suka menang sendiri. Untuk menjaga wibawa mereka ini, mereka menggunakan sarana berupa media yang mendukung kebijakan mereka. Dalam teori konspirasi, uang dan media massa adalah senjata ampuh untuk menumbuhkan wibawa. Media massa dijadikan alat untuk membentuk opini sesat, mengubah paradigma, membungkam kritik dan penggiringan opini publik, atau pengalihan isu jika kebijakan mereka itu adalah yang baik, walaupun dalam kenyataannya tidak pernah terealisasi program tersebut baik. Poin keempat ini adalah hal yang paling ampuh dalam mempertahankan wibawa mereka.

Banyak kalangan menilai bahwa jika hendak menjadi pemimpin yang diagungkan, maka kuasai media. Terlepas dari benar atau tidaknya penilaian ini, tetapi sejauh ini pendapat tersebut ada benarnya. Terlihat dengan mereka menguasai media, mereka leluasa membuat kebijakan yang buruk sekalipun akan tetap terlihat baik. Jiwa-jiwa kritis masyarakat dikekang dalam menyampaikan aspirasi dan menuntut masyarakat menurut saja dengan kebijakannya.

Abu Maryam Al-Asadi meriwayatkan sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang diserahi oleh Allah untuk mengurusi sebagian urusan kaum muslimin lalu dia menutupi diri dari memenuhi keperluan mereka, kebutuhan mereka dan kesusahan mereka, niscaya Allah swt akan menutup dirinya dari keperluannya, kebutuhannya serta kekuasaannya”.

KELIMA, Iblis menggoda mereka dengan mempekerjakan orang yang tidak kapabel atau berkompeten. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda bahwa “pekerjaan yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran”. Proses mempekerjakan mereka yang tidak kapabel ini mungkin titipan dari atasannya, bentuk balas budi, atau yang lainnya. Tak peduli mampu atau tidak yang penting mendapatkan jabatan. Ini bisa kita lihat dari banyaknya kebijakan yang mereka buat tidak sesuai dengan kebutuhan orang banyak. Kebijakan perusakan alam secara masif dan sistemis, mengobrak-abrik sistem politik negara, kebijakan ini dan itu yang intinya jauh dari sistem nilai, baik norma agama, sosial dan budaya.

Itulah beberapa tipu daya Iblis terhadap para pemimpin. Saya membatasi pada lima hal tersebut karena kelimanya merupakan tipu daya yang sangat banyak terjadi. Kami berpesan kepada para pemimpin agar kembali ke jalan yang diridhai oleh Allah. Memimpinlah dengan moral kebijaksanaan dengan menjalin komunikasi ke atas dan ke bawah. Ke atas dengan Allah dan ke bawah dengan rakyat yang dipimpin. Kami ingin negeri kami ini negeri yang aman, tenteram, adil dan makmur.