Tetaplah Bersyukur Kala Ujian Menyapa

0
316
bersyukurlah

Oleh : Newisha Alifa

Ujian akan terus ada
Selama kita masih diberi nyawa

Lucu ya kita? Mudah mengeluh ketika ujian atau musibah menyapa. Lantas lupa dan terlena ketika nikmat dan anugrah-Nya terus tercurah untuk kita.

Bersyukur ketika Allah memberikan kenikmatan adalah hal yang biasa. Yang tak tahu diri itu adalah, sudah dihujani segala kenikmatan, ehh … lupa untuk bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Namun yang sulit dan luar biasa adalah kita tetap mampu bersyukur ketika hal yang tak mengenakkan, entah itu musibah atau bencana menghadang. Ya… Hanya hamba-hamba pilihan yang mampu melakukannya. Semoga, kita semua termasuk ke dalam hamba-hamba pilihan itu. Insyaa Allah. Aamiin.

#

Setidaknya, saya pernah mengalami dua kejadian tak mengenakkan yang meninggalkan bekas pada kaki dan tangan kanan saya. Kejadian pertama saat kecelakaan motor pada tahun 2006. Kejadian lainnya saat malam takbiran Idul Fitri 1436H lalu, dimana pempek yang saya goreng meletup dan memuncratkan minyak panasnya hingga mengenai beberapa bagian tubuh saya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun …

#

Kecelakaan motor yang membuat saya harus menghadapi dua kali operasi untuk pasang pen pada 2006  dan lepas pen satu tahun setelahnya, cukup sukses menghambat laju kegiatan saya.
Lomba Telling Story pun gagal saya ikuti. Padahal sudah lama saya berharap bisa dipercaya untuk menjadi perwakilan dalam suatu lomba antar sekolah, tingkat kota dan sejenisnya. Karena biasanya, saya hanya menjadi pendamping bagi teman yang dijagokan dalam lomba-lomba semisal Debating English. Dan ketika kesempatan untuk berdiri sebagai diri sendiri itu datang, saya justru mengalami kecelakaan. Ya Allah, saya sudah kalah sebelum sempat berjuang.

Saya merasa bersalah karena telah menjadi sebab kedua orang tua menangis. Teringat betul, bagaimana reaksi Mamah mendapati putri tunggalnya tergeletak tak berdaya di ruang UGD. Pun masih terekam jelas bagaimana air muka Bapak yang nampak begitu pusing saat mendengar pernyataan dokter bahwa saya harus dioperasi dan membutuhkan biaya puluhan juta. Tapi, bukankah kita sebagai muslim tak patut menyalahkan keadaan? Jangankan kejadian seperti ini, sehelai daun yang jatuh saja terjadi atas Kehendak-Nya. Dan kita harus selalu yakin, bahwa pada dasarnya, Allah selalu menginginkan kebaikan bagi setiap hamba-Nya. Ya, sekali pun kebaikan tersebut pada awalnya harus terbungkus derita.

Hari-hari selanjutnya, mulailah komentar para kerabat dan keluarga besar lainnya sering disisipi kata ‘Untung’ …

“Untung aja, kepala kamu nggak kena!”

“Untung aja, saat itu nggak ada polisi. Kamu kan belum punya SIM.”

“Untung aja, jatuhnya ke tengah area putaran. Coba kalau di tengah-tengah jalan raya, kamu bisa disambar sama kendaraan lain!”

“Untung aja, teman yang kamu bonceng nggak kenapa-napa. Biasanya, yang dibonceng lebih parah kondisinya.”

“Untung aja, yang nabrak mau bertanggung jawab.”

Dan masih banyak lagi ‘untung-untung’ lainnya. Hingga saya di titik kesadaran dan rasa syukur yang teramat sangat, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih mengizinkan hamba untuk melanjutkan kehidupan. Tidak serta merta mati konyol karena sedang gandrung naik motor dan menyelisihi orang tua yang sudah melarang hamba untuk tidak naik motor ke sekolah.”

Ketika kaki kanan ini tak bisa diajak berjalan, susahnya bukan main. Mau ke toilet untuk berbagai keperluan pun ribet sekali. Kaki saya harus dibungkus plastik terlebih dahulu, karena perbannya tak boleh basah agar jahitannya cepat kering.

Kita baru menghargai sesuatu manakala, ia sudah tak ada. Saya sempat tak percaya, bahwa kaki ini tak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya! Jangankan berjalan, diajak berdiri untuk ikut menopang tubuh saja, ia sudah tak sanggup! Subhanallah!

Tak terbayang bagaimana perasaan mereka yang kakinya harus diamputasi? Atau yang lebih memilukan, bagaimana dengan mereka yang sejak lahir tak pernah merasakan bisa berpijak dan berjalan dengan sepasang kaki yang normal? Masyaa Allah! Betapa nikmat ini tak pernah saya syukuri sebelumnya.

#

Musibah dan nikmat sering kali datang tak terduga. Terjadi begitu saja, tanpa permisi atau bertanya, bersediakah kita menerimanya?

Di hari terakhir Ramadhan 2015 lalu, menjelang waktu berbuka puasa, saya hendak menggoreng pempek mentah yang dibeli dari teman sekantor. Ini kali kedua saya membeli pempek dari orang yang sama. Kali pertama, tak ada sesuatu yang aneh terjadi. Rasanya pun bikin nagih, harganya juga terjangkau.

Siapa sangka? Detik-detik terakhir saya hendak meniriskan pempek tersebut, tiba-tiba saja satu per satu pempek itu mental! Mungkin terdengar berlebihan, tapi sungguh dia meledak! Bunyinya persis petasan, sampai Bapak segera ke luar. Beliau mengiira yang meledak adalah kompor minyak di teras rumah yang sedang dipakai untuk memasak ketupat. Masalahnya tidak sekadar bermentalan, tetapi minyak panasnya pun ikut bermuncratan kemana-mana.

Wajah saya yang tepat berada di atas penggorengan, mungkin salah satu tempat terdekat minyak panas itu mendarat! Ya Allah! Saya terdiam untuk beberapa saat. Kaget bukan main. Lalu setelah sadar apa yang terjadi, saya segera berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Buru-buru saya usap area wajah yang terkena cipratan minyak panas tadi. Sementara itu, api di kompor gas masih menyala.

Usai memastikan tak ada yang terjadi dengan kompor minyak di teras, Bapak kembali ke dalam rumah lalu berteriak, “Di mana yang meledak?”

“Di sini, Pak! Di dapur!” jawab saya singkat.

Letupan-letupan selanjutnya masih terus terjadi. Hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk segera mematikan kompor. Saya shocked bukan main. Wajah, leher dan beberapa bagian lengan kanan mulai melepuh. Usai adzan magrib berkumandang, saya pun membatalkan puasa sekadarnya saja. Pempek yang masih bisa dimakan, dihidangkan oleh Mamah yang baru saja tiba di rumah. Nafsu makan saya sudah menguap entah kemana. Ketakutan luka ini akan membekas terlanjur menguasai pikiran saya.

Sebelum Isya, saya dibawa Bapak ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Pemilik klinik yang tak lain adalah teman ngaji Bapak, hanya melihat sekilas punggung tangan saya yang melepuh. Lalu beliau memberikan obat luar sejenis gel bening untuk dioleskan ke bagian tubuh yang terkena cipratan minyak panas tadi.

Sekembalinya di rumah, saya merenung. Ya Allah, dosa apa yang hamba perbuat, hingga Engkau  memberikan ujian ini, bahkan di malam takbiran? Besok hari bahagia ummat muslim di seluruh dunia, Ya Allah …

Hamba mohon, jangan biarkan lukanya semakin parah atau membengkak sebangunnya hamba besok pagi. Hamba ingin melaksanakan shalat Id dan berkumpul dengan sanak saudara, Ya Allah ..

Alhamdulilah. Keesokan paginya, kondisi bagian tubuh yang melepuh pun tak sampai bengkak atau lebih mengkhawatirkan. Saya tetap bisa melaksanakan shalat Idul Fitri, lalu berkumpul di rumah nenek bersama anggota keluarga besar lainnya. Lagi-lagi saya bersyukur.

Alhamdulillah, Allah hanya menghendaki minyak panas itu mengenai sebagian wajah, leher dan lengan kanan saya. Bagaimana jika minyak panasnya mengenai mata??? Tentu karena kasih sayang dan pertolongan-Nya, Allah menjaga kedua mata saya dari musibah itu.

Berkaca dari dua kejadian di atas, saya bersyukur. Allah tak pernah ingkar janji. Dia hanya akan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tak pernah lebih dari itu. Betapa sebenarnya, tetap ada CELAH bagi kita untuk tetap bersyukur di tengah ujian yang menyapa.

Alhamdulillah wa syukurillah.

Bekasi, 31 Januari 2016