Teruntuk Jodohku “Yang Entah”

0
876
jodohku siapa

Oleh : Maharani

Aku ingin bercerita, tentang diriku saat ini. Kau membacanya atau tidak. Aku tak tahu, sebab wujudmu belum terlihat olehku.

Aku hanya seorang gadis desa yang tinggal di sudut negeri ini. Yang sehari-harinya bekerja demi melanjutkan kelangsungan hidup. Tak ada hal yang istimewa dariku, hidupku dalam zona yang pas pasan.

Aku hanya anak dari sepasang insan yang saling mencintai. Yang selalu bekerja agar keluarga kecilnya bisa makan, walau untuk hari itu saja. Tak ada istilah shopping atau berwisata. Cukup melihat anak anaknya tidak kelaparan saja sudah membuat mereka bahagia.

Aku juga bukan gadis yang kenal dengan dunia fashion. Aku hanya gadis yang setiap harinya memakai pakaian biasa. Tanpa merek atau brand terkenal.

Lalu apa yang bisa kau banggakan jika aku menjadi pasanganmu?

Aku memang bukan orang yang terlahir kaya. Karena itulah, jika nanti dalam rumah tangga kita mengalami titik nol. Aku tak takut untuk menjadi miskin. Ah, mungkin kau berfikir aku mau saja diajak hidup susah, bermodal belas kasihan orang. Tentu tidak! Aku tak mau seperti itu. Yang aku maksud, jika nanti kita hidup dalam keterbatasan, aku mau kita saling berusaha, menyemangati, dan saling menopang. Agar kita bisa berdiri mandiri. Tanpa dikasihani!

Aku bisa memasak. Walau sekedar sayur asam dan telur balado. Memang tak seenak masakan resto. Tapi aku bisa menjamin kau tak akan memuntahkan masakan buatanku. Aku juga bisa membuat beberapa camilan untuk teman minum kopi atau teh.

Aku bisa merawat diri. Setidaknya kau tak akan melihatku acak acakan ketika kau pulang kerja. Ya, meskipun dengan bahan alami atau bedak murah. Oh ya, kau harus tau kalau aku tak suka berdandan mencolok dengan sapuan make-up tebal. Aku suka dengan tampilan yang natural. Sebab, kecantikan alami jauh lebih indah. Semoga kaupun setuju.

Aku juga suka belajar tentang apapun. Aku juga sadar, jika pendidikanku tidak tinggi. Tapi aku tak akan membiarkan anak-anak kita malu memiliki ibu sepertiku. Pun aku tak mau malu jika sedang menemaninya belajar, aku tak mampu menjawab soal yang dianggapnya susah. Aku ingin menjadi madrasah untuk anak-anak kita. Betapa bahagianya sebagai orang tua, kita memiliki anak yang cerdas, shalih maupun shalihah. Maka dari itu aku terus belajar memperdalam ilmu dunia dan akhiratku.

Aku tahu beberapa cara menjadi istri pembawa surga suami, tidak semuanya. Aku mengetahuinya dari buku dan dari orang-orang di sekelilingku. Insyaa Allah akan aku amalkan ketika bersamamu kelak.

Mungkin ini terlalu dini untukku mengerti tentang berumah tangga. Tapi bukankah kita harus belajar sejak awal. Toh, kita tidak tahu jodoh kita akan datang kapan. Paling tidak, ketika aku sedang menunggu imamku, sudah seharusnya aku memantaskan diri agar kelak imamku tersenyum bahagia karenaku. Juga, bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri?

Binjai, 21 Februari 2016