Tak Pernah Ibadah Tapi Hidup Bahagia? Hati-hati Istidraj!

0
4630
rumah mewah

Oleh: Aannisah Fauzaania

Seorang sahabat bertanya kepadaku, “Ukhti, aku merasa ada yang aneh dengan keadilan Allah.” 

“Memangnya apa yang membuat tak adil?”

“Aku punya sepupu, sebut saja namanya A. Setahu aku, dia nggak pernah shalat, puasa Ramadhan banyak yang hilang, setiap hari memakai rok mini mengumbar aurat, sedekahnya juga jarang. Tapi herannya kenapa ya, hidupnya keliatan sempurna banget. Bisa punya uang banyak, masih kuliah tapi bisnisnya lancar, jarang sakit, cantik, katanya juga sebentar lagi mau dilamar entrepreneur sukses dari kota sebelah. Kok bisa sih hidupnya sempurna gitu, padahal ibadahnya kurang? Itu nggak adil, Ti.”

Astaghfirullah. Sahabat, terkadang dalam kehidupan nyata kita sering menemukan kasus seperti percakapan di atas. Penyakit diri yang satu ini disebut juga dengan istidraj.

APA ITU ISTIDRAJ? 

Secara bahasa, istidraj berarti pemberian nikmat dari Allah SWT dimana nikmat tersebut tidak diridhai-Nya. Jika ditelaah lebih dalam, Istidraj adalah suatu keadaan dimana seseorang diberikan kenikmatan terus-menerus meskipun jarang beribadah dan mengingat nama-Nya.

Jadi seorang tersebut seolah terlena karena nikmat yang diberikan Allah tak berputus tadi. Merasa telah benar dan Allah tetap menyayanginya dalam gelimangan dosa-dosa. Padahal jika ditilik kembali, kesenangan tersebut merupakan bentuk ujian yang berwujud nikmat dari Allah SWT.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi SAW bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al An’am: 44).” (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 17311)

APA SAJAKAH BAHAYA ISTIDRAJ?

PERTAMA, Seseorang merasa Allah begitu menyayanginya, padahal ia banyak melakukan maksiat.

Allah SWT berfirman, “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 49)

Tertulis dalam Tafsir Al Muyassar tentang ayat Az-Zumar 49 ini, “Tetapi kebanyakan manusia –karena kebodohan dan buruknya prasangka mereka- tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan istidraj dari Allah dan ujian bagi mereka agar mensyukuri nikmat.” (Tafsir Al Muyassar, 1/464)

KEDUA, ia akan memandang hina orang yang beramal. Akibat ini tentu saja sangat merugi karena bisa menyebabkan hati seseorang menjadi beku. Ia takkan mau lagi belajar melihat bagaimana cara mencintai Allah yang sesungguhnya. Hidupnya akan jauh dari ridha Allah. Astaghfirullah.

Allah SWT berfirman, “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)

KETIGA, Allah memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang banyak itu semata-mata hanya untuk menghancurkannya karena ia tak pernah bersyukur sebagai hamba. Na’udzubillah.

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali ‘Imran: 178)

Firman-Nya pula, “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Alquran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan beransur-ansur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al Qalam: 44)

Sahabat, perilaku istidraj sebenarnya telah ada sejak sebelum zaman Rasullullah SAW.  Tersebutlah diantara mereka:

1. Firaun

Raja Fir’aun merupakan raja yang amat terkenal pada masa kekuasaannya di tengah peradaban masyarakat bani Israil.

Ia diberi jabatan tinggi, kaya raya, hampir tak pernah sakit karena Allah memberikan kesehatan yang banyak, berumur panjang. Pada akhirnya, ia merasa congkak terlewat batas. Dan dalam sekejap segala kemewahan yang dimiliki akhirnya hilang bersamaan dengan jasad beserta bala tentara yang ditenggelamkan Allah di tengah laut merah.

2. Raja Namrud

Siapa yang tak kenal raja namrud? Raja Namrud telah dianugerahi dengan daya intelektual yang tinggi dan menjadi ahli dalam berbagai bidang seperti seni desain, matematika dan ilmu falak. Dia telah menemukan sistem sexagesimal yang membagi lingkaran ke 360 derajat, satu jam ke 60 menit dan 1 menit ke 60 detik.

Sayangnya, anugerah kecerdasan ini disalahgunakan olehnya. Antara lain menggunakan ilmu falak untuk menciptakan berbagai sistem meramal nasib seperti horoskop dan meramal nasib palmistry. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak perlu Tuhan karena manusia mampu memprediksi dan mengubah nasibnya dengan sendiri.

Karena kebanggaan akan dirinya yang tak pernah disyukuri, akhirnya Allah SWT mengirimkan pasukan nyamuk yang sengatannya sangat mematikan. Tidak ada senjaata buatan mausia yang berhasil membasmi nyamuk-nyamuk tersebut. Bahkan gerombolannya dapat masuk ke dalam otak raja Namrud menusuk-nusuk hingga ia begitu tersiksa sampai akhir kematiannya.

3. Qarun

Tidak ada manusia yang memiliki kekayaan sebanyak Qarun. Anak kunci gudangnya saja harus dibawa oleh 40 ekor unta beserta tentara-tentaranya. Ia menjadi terlalu tinggi hingga tak mau lagi mendengar nasihat dari orang lain. Hanya perkataannya yang boleh dibenarkan.

“Harta-harta ini berasal dari penat lelahku, bukan dari siapa siapapun.” Qarun berucap dengan congkaknya. Ia lupa bahwa harta melimpah tersebut hanya titipan dari Allah SWT. Kemudian Allah murka, dan ia benamkan ke dalam tanah beserta seluruh hartanya.

Astaghfirullah. Sahabat, jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang memiliki sikap istidraj ini. Syukurilah setiap nikmat yang diberikan Allah sekecil apapun untuk kita. Mensyukuri nikmat salah satunya adalah dengan ibadah. Jangan merasa ketika kita banyak bermaksiat namun tetap hidup bahagia maka Allah sayang pada kita. Sesungguhnya waktu tengah menunggu, kapan azab akan diturunkan pada waktunya.

Semoga kita semua senantiasa menjadi hamba yang diridhai-Nya