Siapa yang Akan Membawa Surga Untukmu?

0
209
membawa ke surga

Oleh: Arnie Syifannisa

Tiga tahun berada jauh dari dekapan keluarga membuat puncak kerinduanku semakin memuncak. Setelah aku menamatkan sekolah di jenjang menengah atas, aku memutuskan untuk menunda keinginanku melanjutkan lagi ke jenjang perkuliahan. Aku memilih untuk bekerja terlebih dahulu karena ada beberapa tanggungan yang masih menjadi beban di keluargaku. Kebetulan sekolah yang aku tempuh adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang notabene para siswanya dituntut sudah siap terjun ke dunia kerja tanpa harus menempuh kuliah terlebih dahulu.

Tidak tanggung-tanggung aku memilih tempat kerjaku. Malaysia. Yah… Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang jauh dari rumah. Bukan karena di negeri sendiri kekurangan lapangan pekerjaan, tetapi karena jiwa mudaku yang menggerakkan hatiku untuk mencari pengalaman yang jarang diminati oleh orang kebanyakan. Di luar sana, tidak sedikit dari mereka yang berasumsi negatif dengan status pekerjaan satu ini. Menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dalam benakku ingin sekali kubuktikan bahwa tidak semua yang mereka anggap selama ini benar. Aku yakin masih banyak para TKI yang berada di jalan yang benar, bahkan berhasil pulang ke tanah air dengan kesuksesannya.
Sambil menyelam minum air.

Itu mungkin paribahasa yang tepat untuk perjalanan panjangku selama di negeri Jiran. Selama disana, banyak hal-hal atau kebiasaan yang kutemui. Salah satunya berinteraksi sosial dengan penduduk asli di sana. Dalam satu tempat kerja sering aku bertanya banyak hal tentang adat istiadat mereka, makanan khas, kesenian daerah, keluarga, dan tak luput seputar kehidupan keseharian mereka. Karena keakraban yang sudah terjalin maka tak jarang aku diajak berkunjung ke rumah mereka. Mempererat silaturahim sangat kukagumi dari kebiasaan mereka. Sering mereka mengadakan Open House ketika mereka memperoleh rezeki lebih karena memang Malaysia merupakan salah satu negara muslim di kawasan Asia ini. Silaturahim sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat suku Melayu.

Meskipun begitu, tetap saja ada kebiasaan yang memang kurang indah jika dilakukan dalam keluarga bahkan dianggap sebagai suatu perbuatan wajar. Sering saya melihat mereka dengan lugas membentak anak-anak mereka saat tidak sengaja melakukan kesalahan. Sungguh miris bukan. Kebanyakan dari mereka memang suami istri harus bekerja demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Biaya hidup tidak sedikit terkadang memaksa mereka rela memberikan hak asuh anak kepada para pengasuh bukan dari orang tuanya sendiri. Banyak yang menitipkan anak-anak mereka kepada mertua maupun ibunya sendiri (nenek) dan jasa penitipan anak. Mulai dari pagi hari sampai malam hari baru mereka mengambil anak-anak mereka dari rumah penitipan anak. Ketika anak sudah mulai besar dan bersekolah, mereka sudah mempercayakan kemandirian anaknya. Itu yang berlaku jika seorang ibu lebih mementingkan pekerjaan daripada mengurus buah hatinya.

Sepulangnya dari bekerja pasti orang tua merasa kelelahan dan ingin segera dapat beristirahat. Namun apa jadi jika sampai di rumah mendapati seisi rumah berantakan, belum lagi melihat tingkah manja anak-anak mereka. Bayangkan jika seorang anak dibentak, tentu hatinya terasa hancur dan hanya mampu menangis terisak.

Jika kita kembali ke dunia pekerjaan, ketika kita lelah, penat sepenat apapun atau dalam keadaan marah sekalipun, bagaimana sikap kita terhadap atasan kita? Bagaimana jika rekan bisnis kita melakukan kesalahan fatal? Demi urusan pekerjaan banyak yang rela menahan emosinya. Banyak yang rela tetap mengalah, menyungging senyum walau dalam hati menggerutu. Bukankah ini sebuah ujian kesabaran? Lalu bagaimana sikap kita yang seharusnya terhadap anak-anak kita?

Anak adalah amanah yang harus kita jaga dan rawat dengan penuh kasih sayang. Mereka adalah ujian kesabaran untuk para orang tua. Jika seorang anak bisa mendapatkan surga atas keridhaan orang tua, maka begitupun sebaliknya. Orang tua bisa meraih surga apabila memperoleh doa-doa terindah dari anak-anaknya yang shalih-shalihah.

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, nasehatilah namun jangan sekali-kali memakai bentakan. Justru itu yang akan memberi dampak negatif bagi perkembangan psikologisnya. Didiklah ia dengan penuh kasih sayang. Ketika kita terlepas kontrol hingga membentak mereka, maka segerelah meminta maaf. Itu akan membentuk kepribadian mereka menjadi seorang yang berani bertanggung jawab dan mudah memaafkan.

Ingatlah siapa yang akan membawa surga untukmu kelak? Bukan mereka yang menjadi atasan kerjamu. Bukan pula rekan-rekan bisnismu. Mereka adalah buah hatimu. Anak-anak yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu. Bukan sekedar materi yang dipenuhi oleh orang tua yang mereka inginkan. Sisihkan waktu minimal dua jam untuk bercengkerama dengan mereka.

Sudah adilkah kita selama ini? Kalau kita mampu bersikap manis terhadap orang lain, maka kita juga harus mampu bersikap manis terhadap keluarga sendiri. Terutama kepada anak-anak yang kita kasihi.

Tiba-tiba air mata menganak sungai di pelupuk mata ini. Aku merindukan ayah dan ibu. Banyak sekali pelajaran yang kudapat selama di perantauan ini. Sungguh mereka adalah orang-orang hebat. Pejuang bagi keluarganya. Semoga surga bisa kita raih karena telah menjadi orang tua yang sabar dan adil. Aamiin.