Setitik Ilmu dan Semangat Yang Tergesa-gesa

0
781
ilmu manusia

Oleh: Laila Husna

Bismillahirramnanirrahim.

Catatan ini adalah sekelumit dari keprihatinan akan pemahan diri yang masih papa ini. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang Ustadz. Entah siapa, dan di mana beliau hanya Allah-lah yang tahu, termasuk kebenaran cerita tersebut. Namun, kebenaran hikmahnya insya Allah dapat kita rasakan.

setitik ilmu

Diceritakan, ada seorang Ustadz yang sedang menyampaikan ceramah seperti biasanya. Pada kajiannya itu ia mengangkat sebuah hadits yang dianggapnya sahih. Belum selesai ia memaparkan keshahihan hadits tersebut tiba-tiba berdirilah seorang jamaah.

“Afwan Ustadz, sefaham Ana apa yang Ustadz sampaikan itu dhaif,” sanggahnya dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Seketika itu pula para jamaah yang memenuhi ruangan itu meriak. Wajah penuh tanyapun bermunculan. Tak luput pula wajah dari sang Ustadz yang ikut kaget. Segera ia alihkan dengan senyuman dan berucap “Terima kasih Antum sudah mengingatkan saya,” ceramahpun ia lanjutkan meski dengan waktu yang relatif singkat.

Singkat cerita, usai dari kajian tersebut Ustadz tersebut mengajak jamaah tadi bertandang ke rumahnya. Sesampainya dirumah, setelah dijamu dan mengobrol seadanya, tiba-tiba Ustadz tadi mengeluarkan sebuah kitab. “Coba Antum cek keshahihan dan kedhaifan hadits tadi,” ucapnya sambil menyodorkan kitab yang sudah terbuka.

Selang beberapa saat kemudian, “Afwan Ustadz, hadits ini betul-betul sahih. Analah yang salah faham,” ujarnya nampak malu dan merasa bersalah.

“Mengapa tidak Ustadz jelaskan saja langsung tadi kebenarannya,” lanjutnya masih dengan nada yang sama.

“Kalau saya jelaskan langsung tadi, saya khawatir akan mengganggu semangat dan rasa malu antum di hadapan jamaah yang lain,” jawabnya pelan menjelaskan.

Masya Allah, sungguh menenteramkan alasan yang disampaikan oleh Ustadz tadi. Hanya mereka yang berjiwa besar, berhati lapang dan tenanglah yang mampu membawa diri dan menjaga hati.

Terkadang kita pun masih bersikap hal yang sama dengan jamaah tadi. Setitik ilmu yang kita miliki tersulut oleh semangat yang tergesa-gesa. Melalaikan kita dari kapan dan bagaimana seharusnya kita berbuat? Hingga pada akhirnya mengakibatkan kita lupa diri dan malu hati. Tidaklah ada ketenangan dari hati yang pemarah, dan tidaklah ada solusi dari jiwa yang tergesa-gesa. Dua hal inilah yang sering mempermalukan kita, “Pemarah dan Tergesa-gesa”

Benarlah yang dikatakan oleh Al-Hasan al Bashri rahimahullah, “Semoga Allah merahmati seorang hamba. Apabila muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, maka dia pikirkan terlebih dahulu. Dan apabila hal itu murni karena Allah maka dia lanjutkan, namun apabila bukan karena Allah maka ia tunda.” (Lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 470)

Begitulah orang bijak, bertindak dengan menjaga hati dan menjaga diri.
Benar jualah kalimat bijak berucap “Orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijak sudah tentu berilmu”

Semoga Allah menuntun hati dan diri kita. Membantu Mengkhusu’kan dan mentuma’ninahkan ibadah kita. Hingga mampu mewarnai setiap gerak hidup kita. Aamiin..

Wallahu a’lam