Sedih dan Bahagia Ada Di Dalam Hati

0
362
bahagia

Oleh : Afdalil Zikri

Sering kita bertanya dalam hidup ini, dimanakah letak kebahagiaan dan kesengsaraan hidup? Sebagian orang akan menjawab bahwa kebahagiaan hidup itu terletak pada harta, anak-anak, pangkat, jabatan ataupun ketika mendapat pujian atas prestasi yang mereka raih. Sebenarnya letak kebahagiaan hidup itu ada dalam hati kita masing-masing. Tidak dipungkiri bahwa manusia hanya akan bisa merasakan bahwa hidupnya bahagia kalau dalam hatinya merasakan perasaan itu. Dan sebaliknya, akan merasakan sengsara kalau dalam hatinya terdapat perasaan sengsara tersebut. Semua isi dunia dengan segala macam problematikanya bukanlah sumber kebahagiaan atau kesengsaraan, tetapi tidak lebih dari faktor penyebab bagi timbulnya kedua hal tersebut.
Kita sering beranggapan bahwa kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar dan juga tidak selalu salah. Banyak kasus ditemui dalam hidup ini tentang banyaknya orang kaya yang tidak bahagia dalam hidupnya. Mereka sibuk dengan harta yang dimiliki yang dengan harta tersebut mereka bisa stress, merasa tertekan dan susah mengendalikan harta tersebut. Namun tidak sedikit juga kita temui bahwa orang miskin juga tidak bahagia dan menderita karena kemiskinannya. Posisi tersebut sangat bertentangan dengan naluri manusia yang intinya manusia ingin sekali hidup bahagia dengan harta yang dimilikinya.

Posisi seperti hal di atas mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan tidak menjamin hidup bahagia, namun bahagia atau tidaknya kita tergantung dari kita menyikapi harta tersebut. Dan penyikapan itu sangat ditentukan oleh hati karena hatilah yang sangat berperan dalam menyikapi hal tersebut.

Bahagia dan sengsara didominasi oleh peranan hati dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Sejauh mana kita bisa menyikapi hidup ini beserta segala permasalahannya dengan arif dan bijaksana, sejauh itu pula kebahagiaan dan kesengsaraan ada dalam diri. Di sinilah letaknya peranan kearifan hati. Namun yang jadi pertanyaannya adalah apakah manusia bisa menyikapi persoalan di dunia ini dengan kearifan hati?

Bentuk penerimaan manusia dalam menghadapi masalah berbeda-beda. Sebagian orang menganggap masalah yang kita punya itu ringan dan kita menganggap bahwa masalah orang lain itu sangat berat. Karena apa? Karena manusia mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi masalah. Jadi, hatilah yang berperan. Kunci kebahagiaan dan kesengsaraan adalah di dalam hati ini. Tak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain melatih hati agar bisa berlaku arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah yang ada. Caranya bagaimana?

Setuju atau tidak setuju bahwa untuk melatih hati agar bisa berlaku arif dan bijaksana adalah dengan kembali pada agama. Mengapa? Agama mengajarkan kepada kita bahwa kita harus sabar dalam menerima musibah dan bersyukur dalam menerima nikmat. Agama juga mengajarkan bahwa kita harus qana’ah dalam hidup, yaitu dengan menerima pemberian Allah dengan lapang dada dan tidak ada perasaan keluh kesah. Dan dalam berusaha kita harus optimis lalu bertawakkal kepada Allah.

Konsep agama jelas dalam menyikapi permasalahan hidup ini. Jelaslah bahwa siapa yang berpegang teguh dengan apa yang diajarkan agama, maka hidupnya akan bahagia. Sebaliknya, siapa yang tidak berpegang teguh kepada ajaran agama, hidupnya akan sengsara.

Kunci meraih hidup bahagia itu tidak sulit dan tidak dirahasiakan oleh Allah SWT, bahkan secara terang-terangan Allah memberitahukan hal tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah dengan telah kita ketahui kunci kebahagiaan itu kita akan acuh tak acuh dengan semua ini? Ataukah kita akan berusaha membuka kunci kebahagiaan yang letaknya ada dalam diri kita yaitu hati? Hanya kita masing-masing yang bisa menjawabnya.