Sederhanakan, Jangan Berlebihan

0
651

Oleh: Pipit Era Martina

Rasulullah SAW selama hidupnya adalah seorang pribadi yang sederhana. Meskipun beliau memiliki pengaruh dan kesuksesan yang besar, tidak terbersit sama sekali dalam hati beliau untuk menunjukkan harta yang dimilikinya. Kesederhanaan yang benar itu bukan hanya sebatas tingkah lakunya, akan tetapi juga pada apa yang dimilikinya. Itulah yang dicontohkan beliau pada kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup mewah, serba berlebihan, semua itu menunjukkan kesombongan. Bukan hanya sombong kepada manusia saja, akan tetapi itu sudah termasuk menyombongkan diri kepada Allah SWT. Dia lupa dari mana kemewahan itu didapat dan dari siapa harta yang dimiliki tersebut. Berhati-hatilah, karena sifat menyombongkan perilaku dan apa yang dimiliki dapat mendatangkan su’ul khatimah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang suka hidup mewah (berfoya-foya) di negeri itu agar taat kepada Allah SWT. Namun mereka melakukan kedurhakaan (kefasikan) dalam negeri itu. Maka sepantasnya berlaku pada mereka ketetapan hukum, maka Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16)

Al Qur’an menjelaskan di antara penyebab dimasukkannya seseorang ke dalam neraka adalah mereka yang suka berfoya-foya dan bergembira ria dengan beraneka hiburan dan tontonan yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu belaka. Bersenda gurau bersama mereka yang bukan mahram secara bebas tanpa batas, sementara ibadah dan sedekah yang menjadi kewajiban mereka abaikan.

Sungguh, dalam kehidupan dunia yang serba materialistis saat ini, sikap hidup sederhana merupakan pemandangan yang langka. Banyak orang yang cenderung mengedepankan kemewahan, memperlihatkan kekayaan yang berlebihan. Bahkan sering kita jumpai, mereka yang tidak memiliki banyak harta pun berperilaku mewah. Bagi mereka, hidup mewah sudah menjadi prioritas utama dalam kehidupan dan pergaulan, sehingga sering terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga dengan alasan kebutuhan yang tidak tercukupi.

Ketahuilah, sesungguhnya perilaku seperti itu sering kali menjerumuskan kita kepada perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Sifat iri ketika melihat teman mengenakan pakaian mewah, sifat sombong ketika bertemu dengan mereka yang sederhana. Sadarilah, ketika kita berperilaku berlebihan, sering kali mata kita dibutakan oleh pernak pernik keindahan duniawi, telinga kita tak lagi menerima nasihat tentang kesederhanaan. Bisa jadi, sifat bermegah-megahan dan saling bersaing dalam kemewahan inilah yang memicu datangnya ide untuk melakukan korupsi dan sejenisnya, demi untuk menunjang penampilan dan mengejar kehidupan yang materialistis tersebut.

Riwayat Abu Hurairah r.a menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darina, yaitu dari apa yang telah dilebihkan padanya.” (HR. Muslim No. 5263)

Sebenarnya, esensi hidup sederhana adalah dengan merasa cukup, dan tidak menonjolkan kekayaan yang kita miliki. Bukan berarti kita dilarang untuk menikmati harta hasil jerih payah, bukan berarti pula Islam melarang kita untuk menjauhi trend masa kini. Melainkan hanya mengingatkan kita untuk tidak terlena dalam buaian pernak pernik dunia yang kelak akan menjerumuskan kita pada siksa api neraka.

Bersikaplah secara proporsional (menempatkan sesuatu pada tempatnya).  Jika kita berada pada lingkungan orang yang perekonomiannya rendah, hendaknya kita berperilaku sederhana dan jika berada dalam lingkungan orang yang senantiasa mewah, janganlah berlebihan. Gunakan harta yang kita miliki untuk kemaslahatan umat, senantiasa berinfak dan membayar zakat, serta santun dalam bertindak untuk menimbulkan hal yang baik bagi sesama.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memakai pakaian mewah, Allah akan memakaikan padanya pakaian hina pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah No. 3606).

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menyederhanakan segala sesuatunya melalui teladan pola hidup Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan umat manusia untuk hidup hemat dan sederhana, serta menjauhi glamournya dunia yang boros dan senang menghambur-hamburkan harta. Rasulullah SAW mencontohkan gaya hidup yang sederhana mulai dari kebutuhan pokok makan dan pakaian.

Hidup sederhana tidak akan menjatuhkan martabat kita sebagai manusia. Justru itu berarti kita memiliki sifat qana’ah. Jangan merasa minder atau malu untuk berperilaku dan berpenampilan sederhana. Toh, kalaupun kita mengenakan sesuatu yang berlebihan tidak akan menjamin kita akan masuk surga atau neraka. Oleh karena itu, sederhanakanlah, jangan berlebihan. Karena sesungguhnya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Lampung, Sabtu 20 Februari 2016