Pengaruh Makanan Terhadap Akhlak

0
784
hidangan makan
Oleh : Rina Perangin-Angin

Sebagai muslim, tentu kita tak asing lagi dengan keharaman beberapa jenis makanan seperti darah, babi, anjing dan juga beberapa jenis minuman seperti arak atau minuman lainnya yang bersifat memabukkan. Tapi tahukah kita bahwa setidaknya ada beberapa alasan kenapa kita tak boleh memakan makanan yang telah Allah haramkan?

Pertama, ketika kita tetap memakan apa yang telah Allah haramkan, itu berarti kita telah secara terang-terangan menantang Allah. Secara terang-terangan melawan perintah Allah dan akibatnya? Sungguh tinggal menunggu murkanya Allah saja. Sebagai orang yang beriman atau yang sedang memperbaiki diri menjadi lebih baik, tunduk kepada perintah Allah adalah mutlak. Ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah : 285 yang berbunyi, “… Kami dengar dan kami taat (Mereka berdoa) : Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Ayat tersebut jelas menegaskan bahwa sebagai hamba, kita wajib untuk  “dengar dan taat” ketika mendengar perintah Allah.

Kedua, ketika kita tetap bersikeras melanggar perintah Allah dan memilih makanan yang Allah haramkan, maka keburukan pasti terjadi pada diri kita baik dunia maupun akhirat. Ketahuilah bahwa segala yang masuk ke dalam tubuh akan memberi dampak pada sifat kita juga. Misalnya jika seseorang suka minum arak atau minuman memabukkan lainnya, maka sifatnya pun akan tertempah menjadi orang yang pemarah atau temperamental. Sulit membedakan yang baik dan buruk.

Begitu juga dengan makanan. Kita ambil contoh sapi. Kita tau bahwa sapi memakan rumput. Dari sini, dapat dilihat bahwa jika memakan sapi maka sifat orang itu sedikit banyak akan terpengaruh yakni menjadi orang yang lembut, tidak buas, cenderung penurut, itu terlihat dari sifat sapi yang selalu menurut pada pengembalanya. Sama halnya bila kita memakan hewan bertaring seperti anjing, maka sifatnya akan lebih buas. Lebih sulit mengontrol emosi. Itu terlihat dari sifat anjing yang memang lebih galak atau lebih buas dari si sapi. Contoh lain adalah babi, seseorang yang memakannya sedikit banyak akan terpengaruh dengan sifat babi tersebut. Lihatlah bagaimana sifatnya yang pemalas, hidup di tempat yang kotor, memakan apa saja yang ditemuinya, dan ini akan memberi efek buruk bagi si pemakannya.

Itu hanya sebagian kecil contoh dari realita yang terjadi di masyarakat. Percaya atau tidak, makanan memang memiliki andil dalam menghasilkan karakter seseorang meskipun tidak bersifat mutlak. Sebab “karakter manusia” tak terbentuk hanya karena faktor internal (dari dalam diri seperti makanan) tapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal (faktor luar seperti pola pengasuhan, pendidikan yang diterima, dll).

Jika masih ingin melihat realita lainnya, lihatlah bagaimana karakter orang di daerah barat seperti Eropa. Mereka terbiasa hidup bebas, melupakan akhlak bahkan ketika berhadapan dengan orangtua sekalipun. Itu juga kenapa di barat, memanggil orangtua dengan nama langsung, bukan hal yang aneh atau tabu lagi. Santun dalam bertatakrama seolah tak berarti bagi mereka.

Lalu lihat pula karakter orang-orang Asia seperti Indonesia dimana akhlak itu sangat penting. Jangan ke orangtua, ke orang yang lebih tua saja, kita dibiasakan untuk memanggil “Kak, Mas, Mbak” atau panggilan lainnya. Tidak boleh menyebut namanya langsung. Ini menunjukkan betapa sopan santun penting. Setelah itu bandingkan keduanya. Bandingkan karakternya. Sangat jelas bedanya bukan? Lalu kenapa bisa terjadi kesenjangan karakter yang sedemikian jauh? Sebab makannya berbeda. Di Indonesia dengan mayoritas Islam yang mengharamkan babi misalnya, jelas karakternya lebih halus, lebih santun dibandingkan dengan daerah yang terbiasa mengonsumsi babi.

Dan ternyata tidak berhenti sampai di situ. Bukan hanya makanan saja yang mempengaruhi, bahkan dari mana makanan itu diperoleh juga harus diperhatikan.

Itu sebabnya dalam memberi makan keluarga misalnya, harus diperhatikan kehalalannya. Sebab bila cara mendapatkannya haram, lalu makanan itu masuk kedalam tubuh dan mendarah daging, perhatikan saja apa yang akan terjadi kemudian.

Intinya, makanan itu memiliki andil dalam karakter manusia. Mungkin itulah kenapa Allah mengharamkan beberapa makanan bagi kita. Sebab sebagai Dzat yang menciptakan, Allah tahu apa yang baik dan buruk untuk kita.

Namun bukan berarti kita menuruti perintah-Nya hanya karena manfaat yang didapat. Seperti tak minum arak karena takut merusak otak. Tetaplah melakukan itu karena tunduk pada-Nya. Persoalan kebaikan yang kemudian kita dapat jadikannya hanya sebagai bonus. Ingat loh, bonus, bukan utama. Yang utama harus karena kita mencari ridho Allah yang salah satu caranya dengan menjauhi larangan-Nya.

Sekian dulu, semoga bermanfaat, Wassalam.

Sumber rujukan:
– Alquran
– Kehidupan Masyarakat