Pendosa Yang Masuk Surga

1
3422
pendosa

Oleh : Pipit Era Martina

Dari judulnya saja, pikiran sudah melayang jauh entah ke mana. Seorang pendosa masuk surga, benarkah? Mengapa tidak. Surga milik Allah SWT dan dosa atau tidaknya suatu perbuatan hanya Allah yang Maha Tahu. Kalau kata Ustadz Yusuf Mansur, “Kalo kita ngeliatnya pake kacamata kita, memang banyak nggak mungkinnya. Tapi bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin.”

Terkadang orang mukmin dan rajin ibadahnya butuh banyak sekali proses untuk meraih pengampunan dari Allah SWT untuk bisa menggapai surganya. Namun tanpa kita sadari, pengampunan itu berjalan melalui banyak cara dan datangnya juga lewat jalan yang tak pernah kita sangka, atau bisa saja dari jalan yang tidak kita suka.

Bagi orang beriman, bisa saja pengampunan itu datang lewat banyaknya cobaan dan masalah yang sulit terpecahkan dan tak kunjung ditemukan solusinya. Dapat pula melalui dari doa-doa yang tak kunjung dikabulkan.

Tidak semua manusia mampu dan sanggup menerima cobaan yang bertubi-tubi hadir. Jika ikhlas menyertai diri beserta senantiasa berprasangka baik terhadap Allah SWT, insya Allah pengampunan yang kita nanti akan segera diraih beserta tiket masuk surga.

Begitu pula dengan seorang pendosa seperti pelacur, pencuri, pembunuh dan pelaku dosa lain. Mereka pun sama dengan orang-orang yang senantiasa melaksanakan kewajiban dari Allah. Sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih pengampunan dan tiket masuk surga. Asalkan dengan syarat, menghadapi semua cobaan dan ujian yang diberikan dengan sabar dan ikhlas serta berbaik sangka selalu, maka bukan hanya pengampunan yang diberikan oleh Allah SWT tapi juga kenaikan derajat, perubahan hidup dan juga tiket meraih pintu surga. Masya Allah.

Oleh karena itu, sahabat, janganlah sekali-kali kita menilai perbuatan seseorang dengan pendapat kita sendiri, dengan kacamata kita. Karena kita tak pernah tahu apa dan bagaimana yang akan terjadi pada kita di kemudian hari. Belajarlah untuk berbaik sangka terhadap apapun dan kepada siapapun. Bersabar, juga ikhlas dalam menerima semua ujian dan cobaan yang diberikan.

Pernah suatu ketika saya bertemu dengan seorang ummahat yang memiliki wawasan luas tentang Islam. Beliau berkata, “Belajarlah bersabar mulai dari hal yang kecil atau sepele,” katanya. “Seperti apa itu Ummi?” tanyaku. Di sela ucapannya beliau tersenyum lalu berkata, “Belajar melatih kesabaran dari cara minum air, minumlah seperti sunnah Rasulullah SAW, jangan seperti unta”.

Wah, saya terdiam menantikan beliau melanjutkan ucapannya, karena sebenarnya saya masih kurang memahami ucapan beliau. “Kalau Rasul kan minumnya pelan-pelan, setiap satu-tiga teguk beliau berhenti dan bernafas, tapi kalau unta kan nggak, dia minumnya langsung banyak”. Sejenak berhenti, lalu beliau melanjutkan ucapannya “Maka, dengan perlahan kesabaranpun akan kita miliki, perlahan tapi pasti. Dicoba ya,” pesannya. Ya ampun, jadi ini kiat belajar sabar dari hal yang sepele. Flash back ke belakang, ternyata saya tipe orang yang mirip seperti unta, karena minum tanpa nafas, langsung habis satu gelas. Astaghfirullah, yuk sahaba,t belajar bersabar dari hal yang paling kecil dan sepele.

Kembali tentang pendosa yang masuk surga, saya memiliki satu kisah tentang seorang pendosa (pelacur) yang diperintahkan oleh Allah untuk masuk surga. Kisah ini saya peroleh dari buku karya Nur Kholis Rif’ain.

Pada suatu hari, dalam suatu majelis seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah hanya orang-orang ahli ibadah saja yang akan masuk surga?” Dengan tegas Rasulullah SAW manjawab, “Tidak. Sesungguhnya seseorang itu masuk surga bukan semata-mata karena ibadahnya, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah.”

Penasaran, orang itu bertanya lagi, “Apakah itu berarti hanya para aulia dan alim-ulama saja yang akan masuk surga?” Rasulullah kembali menegaskan, “Tidak. Bukan begitu. Karena sesungguhnya telah ada seorang pelacur yang masuk ke surga.” Seketika semua yang hadir di majelis itu kaget dan bertanya-tanya. Maka Rasulullah SAW lalu menceritakan mengenai pelacur itu.

Suatu hari, di tengah musim kemarau yang amat kering, tutur Rasulullah SAW, ada seekor anjing liar hampir mati kehausan. Anjing ini amat buruk rupanya dan penuh kudis di badannya. Karena amat haus, anjing itu sampai menjilat-jilat tanah lembab di depan rumah seorang ulama terkenal. Dan melihat makhluk menjijikan itu, si ulama segera mengusirnya dan bahkan melemparinya dengan batu.

Anjing itu lari ketakutan sampai ke luar desa, dan akhirnya karena lelah dan kehausan hewan malang itu ambruk di pinggir sumur. Nampaknya, tak ada harapan lagi buat anjing itu untuk hidup, dia pasti mati kalau tidak segera mendapatkan minum. Namun, di saat kritis itu, lewatlah seorang pelacur. Ia melihat anjing itu, terbaring putus asa dengan lidah terjulur dan napas tersengal-sengal. Pelacur itu merasa iba. Maka, ia melepas terompahnya (alas kakinya) dan merobek gaunnya. Dengan sobekan gaun dan terompah itu ia lantas membuat timba untuk mengambil air sumur, lalu anjing itu diberinya minum.

Setelah puas minum, anjing itu sehat kembali dan lantas pergi. Si pelacur merasa gembira melihat anjing itu tidak mati kehausan. Melihat apa yang telah diperbuat oleh hamba-Nya itu, Allah mengatakan kepada malaikatnya, “Catatlah hamba-Ku itu. Dia adalah salah satu hamba-Ku yang akan masuk surga pertama.” “Allahu Akbar…!” puji orang-orang yang hadir dalam majelis itu.

Takdirkah itu? Jika ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang kebetulan, mungkin ada benarnya. Dengan kisah di atas, Allah telah memberikan contoh dan gambaran kepada kita untuk saling tolong menolong tanpa melihat siapa dia. Karena kita tidak pernah tahu balasan apa yang akan kita peroleh dari tindakan dan keputusan kita. Meski segala sesuatu sudah digariskan dan tidak ada yang kebetulan, namun tetap saja kita sebagai manusia harus terus berikhtiar seraya berdoa agar Allah SWT senantiasa menjaga kita di dalam perlindungan-Nya. Aamiin.

Ketahuilah para sahabat, sesungguhnya setiap makhluk milik Allah, baik itu orang yang beriman, orang yang mulia, bahkan yang hina dina sekalipun berhak atas surga. Karena surga ialah mutlak milik Allah, jadi ya terserah Allah, siapa yang diridhai-Nya untuk masuk ke dalam surga dan neraka-Nya. Dan Rasulullah SAW telah mengindikasikan bahwa seorang ahli ibadah tidak serta merta mendapat jaminan akan masuk surga, karena surga lebih diutamakan bagi mereka yang mencintai Allah dengan sesungguh-sungguhnya kecintaan.

Kita, manusia biasa saja tidak serta merta memilih seseorang untuk kita percayai masuk ke dalam rumah kita. Terkadang orang yang terlihat buruk justru memiliki hati yang baik dan membuat kita nyaman serta percaya akan kebaikannya. Sedangkan orang yang berpenampilan indah dan terlihat baik tidak melulu memiliki sifat baik terhadap kita dan pun tidak pula kita selalu menyukai orang yang seperti itu.

Begitupun dengan Allah SWT, ia mengijinkan dan meridhai umatnya yang ia sukai, tidak melulu melihat dari perlakuanya terhadap manusia lain, karena kita tak pernah tahu bagaimana cara seseorang mencintai penciptanya.

Yuk, mari para sahabat sekalian, kita perbaiki diri sembari berbagi, berbaik sangka terhadap siapapun. Berhenti menilai seseorang dari penampilan, karena kita tak pernah bisa mengetahui isi hatinya. Fokuskan pada diri sendiri, karena kaca mata kita tak memiliki pencahayaan yang cukup untuk melihat sisi positif dan kebaikan seseorang.

Lampung, Selasa 22 Rabiulakhir 1437 / 02 Februari 2016