Pagar Mangkok Lebih Kuat Daripada Pagar Tembok

0
5197
pagar mangkok

Oleh : Sri Bandiyah

Belum lama ini, daerah tempat tinggalku dihebohkan peristiwa perampokan. Bukan hanya sekali, tapi perampokan ini sparadis menyerang beberapa rumah dalam waktu satu bulan. Ngeri? Tentu saja. Dari sekian peristiwa perampokan, ada satu peristiwa yang membuat kami, warga satu kampung terkesima.

Malam itu, hujan deras disertai Guntur. Seperti adegan dalam film-film, suasana yang mencekam bertambah karena mati lampu. Suasana tidak aman karena banyaknya perampokan akhir-akhir ini, membuat beberapa orang kaya menyewa jasa satpam. Namun, ada satu rumah yang tampak tenang. Tidak ada satpam atau pun bodyguard. Padahal sang pemilik rumah adalah orang yang terbilang kaya. Si kaya yang sangat tenang itu bernama Pak Prapto. Beliau pemilik toko Mas dan minimarket yang sudah terkenal di seantero Kabupaten Purworejo.

Malam itu, rumah-rumah terkunci rapat. Setiap orang berada di dalam rumah menjaga keluarga dan hartanya. Tepat pukul 01.00 dini hari, terdengar suara gaduh di sekitar rumah Pak Prapto. Ternyata suara gaduh itu, karena tertangkapnya maling dari rumah Pak Prapto. Kebetulan saat itu Pak Prapto sekeluarga sedang berada di luar kota. Rumah tentu saja kosong karena Pak Prapto meliburkan pembantu dan beliau tidak mempunyai satpam. Kalau rumah Pak Prapto kosong dan tidak ada yang menjaga, mengapa malingnya bisa tertangkap? Kejadian ini tentu saja karena pertolongan Allah SWT. Tapi pertolongan Allah itu ada sebabnya.

Pak Prapto adalah salah satu orang kaya di lingkungan tempat tinggal saya dengan toko yang selalu ramai. Beliau mempunyai omset tidak kurang 100 juta setiap harinya. Meskipun orang kaya, Pak Prapto tetap bergaul dengan masyarakat tanpa memandang tingkat ekonomi. Bahkan beberapa tetangga adalah karyawan di tokonya.

Kebiasaan baik yang sering dilakukan Pak Prapto yaitu selalu mengirimi makanan tetangga sekitar rumahnya sebulan sekali di hari Jumat. Ia biasa menyuruh orang untuk masak besar dan membagikan masakan itu kepada tetangga satu RT.

Pak Prapto pernah menyampaikan, pager (pagar – bahasa Indonesia) mangkuk itu lebih kokoh dari pager tembok. Orang-orang kaya lain di kampung kami, sibuk membuat pager tembok yang kokoh, menjulang tinggi bahkan dipasang kawat berduri, tetapi ternyata maling lebih bernyali, harta pun habis dicuri.

Rumah Pak Prapto memang besar, halamannya luas. Berbeda dengan rumah orang kaya yang lain, rumah Pak Prapto hanya dipager tembok setinggi pusar dan tidak diberi pintu gerbang. Alasannya supaya anak-anaknya bisa bebas mengajak temannya bermain di halaman.

Ternyata yang menyebabkan perampok di rumah Pak Prapto tertangkap adalah satpam rumah tetangga yang merasa curiga ketika mendengar bunyi ribut-ribut antara perampok dan Mbah Liwon (Laki-laki tua yang tidak punya keluarga). Awalnya Mbah Liwon berniat berteduh karena hujan. Barangkali Pak Prapto juga berbaik hati mempersilahkannya masuk, menawarkan makan malam dan tentu saja tempat menginap (seperti yang sering Pak Prapto lakukan padanya).

Malam itu, Mbah Liwon kecewa karena ternyata Pak Prapto sekeluarga tidak di rumah. Maka ia putuskan menumpang tidur di kursi kayu yang ada di emperan rumah Pak Prapto. Untung rumahnya tidak berpagar tinggi dan diberi pintu gerbang yang terkunci.

Malam itu, perampok kaget karena mendapat perlawanan dari seseorang secara tiba-tiba. Keributan pun terjadi, satpam rumah sebelah segera menghubungi teman-temannya dan tertangkaplah dua orang perampok yang meresahkan masyarakat.

******

Rasulullah SAW bersabda, “Jika Engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW bersabda,”Bukanlah seorang mukmin yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan” (HR.  Bukhari dalam Adabul Mufrod).

Hadits di atas sekiranya bisa menjadi renungan untuk diri kita, betapa tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar kita mempunyai hak atas diri kita. Bahkan tetanggalah kelak yang akan menjadi orang pertama yang akan membantu kita ketika kita tertimpa kemalangan. Terlebih jika kita tinggal jauh dari keluarga.

Saudaraku….

Jika sekarang sebagian waktumu habis karena sibuk bekerja, pastikan kau mengenal siapa nama tetangga kanan kirimu. Tidak hanya mengenal nama, tetapi tentu saja mengenal kebiasaan dan hal yang tidak disukai tetanggamu. Akan lebih baik, jika saat libur kau siapkan waktu beberapa menit untuk sekedar bertegur sapa dan akan lebih baik lagi jika kau bertamu dan membawa sedikit makanan untuk mereka.

Saudaraku….

Masihkah ingat dengan cerita Imam Hasan Al-Bashri yang menerima tetesan air kamar mandi tetangganya dari lantai dua? Dua puluh tahun beliau menadahi tetesan air itu dengan mangkuk. Beliau tidak ingin mengatakannya karena takut sang tetangga yang beragama Nasrani tersinggung. Dua puluh tahun, Allah menyimpan dan akhirnya sang tetangga mengetahui ketika menjenguk Hasan Al Bashri ketika sakit. Apa yang terjadi? Kesabaran beliau membuat iman masuk ke dalam hati sang tetangga dan akhirnya tetangga tersebut masuk islam. Allahu Akbar! Muliakan tetangga, walaupun ia berlainan agama denganmu.

Saudaraku….

Mari kita belajar bertetangga. Tentu saja bertetangga ala Rasulullah SAW. Bukan bertetangga jika orang di samping rumah kita sakit dan kita tidak tahu. Bukan bertetangga jika orang di depan rumah mendapat rezeki, kita malah sakit kepala. Atau orang di belakang rumah kita membeli sesuatu, kita malah memberi komentar yang tidak baik.

Ya Allah… Mampukanlah kami menjadi tetangga seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dan orang-orang shalih. Mampukanlah kami untuk tidak kikir terhadap tetangga kami. Mampukanlah kami menyimpan aib tetangga kami. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.