Orang Ketiga Dalam Rumah Tangga

1
1121
rumah tangga

Oleh: Anna Jameela 

“Aku minta cerai!! Antar pulang ke rumah orangtuaku! Aku nggak sanggup hidup sama kamu! Adik-adikmu tinggal di sini, makannya banyak! Hidup sudah susah begini aku nggak mau!”

“Istighfar, Ma. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?”

“Sampai kapan kita hidup susah begini?  Coba kamu lihat Mbak Eti, tetangga seberang sana. Dia bisa sewa ruko, punya kendaraan pribadi, punya kulkas, punya mesin cuci, nggak pernah kekurangan. Tapi aku? Aku dapat apa dari kamu? Buat makan saja masih susah! Aku maunya seperti Mbak Eti!”

“Astaghfirullah…. Sabar, Ma. Aku ini juga sedang berjuang, jangan silau sama hidup orang lain, kita harus banyak-banyak bersyukur.”

Itulah salah satu potret pernikahan yang pernah saya lihat sembilan tahun silam. Kala itu saya masih gadis. Belum banyak mengerti kehidupan rumah tangga itu seperti apa.
Hanya saja hati kecil ini berbisik, bahwa tidak layak seorang istri menuntut banyak pada suaminya lantaran silau pada kehidupan orang lain.
Sementara suaminya kala itu pagi-pagi buta harus sudah berangkat kerja, tanpa sarapan, dan tanpa senyum hangat dari sang istri karena masih meringkuk di tempat tidur.

Dalam berumah tangga, khususnya wanita (istri), tidak sepatutnya membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Jalani saja takdir yang sudah Allah tetapkan.

Karena, apabila seorang istri, menyibukkan dirinya menoleh serta berharap layak seperti kehidupan orang lain, maka, berkuranglah rasa syukurnya atas nikmat yang Allah beri.

Orang ketiga dalam rumah tangga yang saya ceritakan di sini, tidak mesti harus wanita idaman lain (WIL) atau pun pria idaman lain (PIL), tapi bisa juga eksistensi tetangga yang lebih mapan dari kita, saudara, orangtua/mertua, anak serta orang-orang yang berada di sekita rumah tangga tersebut bisa jadi salah satu pemicu retaknya sebuah ikatan suci pernikahan.

Menjalani rumah tangga, kedua belah pihak harus sama-sama saling memahami, mengerti, dan tidak melulu mengedepankan ego masing-masing.

Jangan mudah terpengaruh pada orang di sekitar. Mengapa? Karena, yang menjalani rumah tangga kita adalah diri kita sendiri. Kita pemegang peranan utama di dalamnya.

Apabila kita tidak mampu menghandle rumah tangga kita sendiri, emosi kita,  ego serta gengsi hidup, maka kita-lah yang akan terseret pada “apa kata” sekitar. Yang lebih mengerti isi rumah kita adalah kita, untuk apa memaksakan diri agar sama seperti orang lain.

Kita hidup dalam alam nyata, bukan alam mimpi. Hadapi saja realita hidup, toh sudah berani mengambil konsekuensi -menikah- berarti sudah berani pula kita menanggung resiko konsekuensi dari apa yang kita ambil.

Menikah. Adalah sesuatu yang amat sakral. Harus benar-benar penuh pertimbangan dan pemikiran dewasa.

Tidak hanya semata-mata urusan ekonomi yang diributkan, tetapi juga “orang ketiga” sebagai salah satu contoh lagi selain tetangga sebut saja keluarga/teman.

Dari contoh kasus di atas, seharusnya orang yang menikah sangat sadar bahwa apabila menikah, berarti bukan menikahi pasangan kita saja, tapi secara sadar berpikirlah bahwa kita juga wajib menyambung silaturahim dengan keluarganya juga. Karena mereka telah menjadi bagian dari keluarga kita.

Apabila ada indikasi penghancur rumah tangga selain WIL atau pun PIL, maka sepatutnya kedua pasangan sadar, serta menguatkan keimanan, ingat  visi misi pernikahan, lalu saling menguatkan satu sama lain.

Banyak sekali kasus pasutri bercerai akibat adanya orang ketiga yang ikut campur  dalam rumah tangga.
Maka, pasutri wajib mewaspadai hal ini.

Kunci keberhasilan rumah tangga itu adalah bersyukur dan bersabar.
Bersyukur menerima nikmat Allah, bersabar pada saat mendapatkan ujian

Kembali pada konflik di awal.
Saat ini, wanita yang saya jadikan sebagai contoh di atas, suaminya sudah sukses.

Maka,
Pesan untuk istri, bersabarlah pada ujian rumah tangga, apabila kini belum kau dapati harapanmu, mungkin nanti atau beberapa tahun kemudian Allah wujudkan keinginan itu. Alangkah malunya, ketika semua harapan itu terwujud, flash back ke belakang ternyata proses yang dilalui beserta keluhan dan makian terhadap suamimu, maka amat sangat rugi kalau kita terlalu banyak.

Berkaca serta sesegera mungkin bisa hidup layak seperti orang lain. Bergaulah, tapi jangan sampai pergaulan itu menyesatkan kita hingga lupa pada hakikat syukur yang sebenarnya.

Hidup ini berproses, jangan terlalu banyak menoleh ke atas hingga lupa menoleh ke bawah.
Masih banyak sekali nikmat Allah yang bisa disyukuri.

Ingat janji dan ancaman Allah dalam Q.S Ibrahim;

“La In Syakartum La Aziidannakum Wa Lain Kafartum Inna ‘Adzaabi La Syadiid”

Berhati-hatilah. Bersyukurlah, lalu Bersabarlah.

Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah limpahkan pada rumah tangga yang selalu membawa nama Allah di dalamnya.

Sebanyak apa pun hadirnya orang ketiga, maka tameng keimanan-lah yang paling mampu mengalahkannya atas seijin-Nya.

Wallahu a’lam bishowab!

Salam Penuh Cinta.