Muliakanlah Orang Tuamu Sebelum Datang Penyesalan

0
475
adab

Oleh: Aannisah Fauzaania

Sahabat, jangan mudah lalai pada muasal jiwa. Mengutip dari aksara seorang pujangga,
“Bagaimana mungkin kematian mawar setelah hidup istimewanya diberikan pada yang lain? Padahal ia bisa tumbuh dan berkembang dari tanah tempatnya menanamkan akar, dari tanah yang berusaha memberikan nutrisi, mengalirkan air penghidupan dan bertahan dalam panas maupun hujan agar mawar bisa tetap kokoh dalam tegaknya. Lalu jika kemudian ia harus mati karena kumbang tanpa mengingat lagi tanahnya, bagaimana bisa?”

Maksud dari baris kalimat di atas kira-kira begini, bagaimana bisa sesuatu yang telah diberikan tempat berpijak dan berperan besar dalam menopang kehidupannya lalu akan lupa pada tempatnya menjejakkan kaki, lebih suka mengorbankan hidupnya untuk yang lain. Seperti sengaja mengabaikan pengorbanan orang tua, namun lebih berat berkorban untuk insan yang lain.

Memuliakan orang tua, merupakan hal yang sangat wajib diterapkan dalam pikiran dan tindak tutur seseorang. Apalagi untuk anak yang belum memiliki rumah tangga sendiri dengan beristri atau bersuami. Ayah dan ibu; keduanya memiliki porsi penting masing-masing yang berperan besar dalam proses menjadikan “manusia” sesungguhnya bagi kita. Ketulusan kasih, pengorbanan tak kenal lelah, madrasah pertama, pecinta utama, dan akan selalu menjadi tempat berpulang terbaik setelah Allah Ta’ala.

Allah SWT berfirman, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” [QS. Al-Isra’: 23]

Berbicara mengenai orang tua, topik ini tentu sudah sangat sering diperbincangkan oleh banyak insan di tiap tulisannya. Namun, deretan aksara ini hanya sebagai renungan kembali untuk kita semua. Semoga tak pernah lalai untuk mengingat orang tua yang telah begitu asih menjadikan kita seorang anak yang berbudi baik.

Banyak kasus yang pernah saya perhatikan, seorang anak dengan tega membentak ibu dan ayahnya sendiri hanya karena tak mampu mencukupi kebutuhannya, atau tak menuruti keinginan si anak, atau penyebab lain. Tindakan tersebut tentu saja tak patut diberikan pada orang tua.

Banyak yang merasa bosan di rumah karena harus menuruti aturan-aturan yang distigma kolot oleh anak-anak jaman kini, merasa bosan karena harus mendengar serentetan nasihat dan petuah berfaedah, merasa bosan karena keadaan yang begitu-begitu saja. Dalam kasus di atas, mungkin banyak orang belum terbuka mata hatinya, betapa memiliki orang tua yang lengkap dan mencintai segenap jiwa sungguh beruntung dibanding mereka di luar sana yang tak lagi memiliki tempat bernaung di dunia.

Perjalanan hidup memang tak ada yang sempurna. Ada beberapa insan yang tinggi di bagian tertentu tetapi harus menerima titik rendah di bagian yang lain. Namun jangan lantas hal tersebut dijadikan alasan untuk tak menghormati orang tua lantaran mereka tak mampu memberi penghidupan atau menuruti sesuatu seperti yang kita inginkan.

Tentu banyak sekali hal yang mesti mereka pikirkan dalam mendirikan dan mempertahankan pondasi rumah tangga yang kuat. Jadi sebaiknya, sebagai anak kita pun harus mengerti bagaimana seharusnya memposisikan diri. Bahkan membuat mereka bisa tersenyum karena merasa dihargai dan memiliki arti bagi anak-anaknya. Mereka tak pernah gila hormat. Hanya ingin merasakan hangatnya jiwa ketika melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang mencintainya sepenuh hati, berusaha untuk selalu membahagiakan mereka dengan menjadi pribadi yang berkualitas, dan menganggap mereka sebagai panutan tempat berpulang diri.

Terkadang kita sempat merenung ketika kembali ke rumah setelah bepergian sekian lama. Apakah yang telah bisa aku berikan untuk membahagiakan orang tua? Apalagi untuk anak-anak yang harus menempuh pendidikan jauh dari rumah, menyeberangi selat, menyusuri pulau. Perasaan rindu pada orang tua pasti akan sangat terasa menikam diri di saat-saat sudut ruang terasa begitu sepi. Ketika dalam tiga ratus enam puluh lima hari, waktu di rumah untuk bisa bersama dengan ayah dan ibu atau sekedar membantu meringankan pekerjaan rumah ibu, hanya sekitar beberapa minggu saja.

Bagi yang tinggal dekat dengan keluarga pun, mari kita merenung sejenak, sebanyak apa waktu yang kita berikan untuk kedua orang tua di rumah? Ketika tuntutan sekolah, tugas, kuliah, atau bahkan bagi yang sudah bekerja, ketika pekerjaan menumpuk, terkadang kita banyak melalaikan panggilan ibu di dapur, atau panggilan ayah dari kebun, demi menyelesaikan semua perkara kita dahulu. Padahal sebenarnya kita bisa menyahut sebentar, namun karena merasa tak begitu penting, kita sering mengabaikannya.

Kasus di atas hanya permisalan sederhana. Penekanan di sini, semakin bertambahnya usia kita, pasti akan semakin banyak urusan pribadi yang akan menyibukkan diri. Hal ini yang membuat kita sebagai seorang anak tak lagi memiliki banyak waktu untuk bercengkrama bersama ayah bunda, bahkan untuk hanya sekedar menanyakan kabar kesehatannya.

Sangat sedikit, kan waktu kita sebenarnya? Kita pun tak pernah tahu seberapa lama waktu yang masih Allah berikan untuk orang tua kita. Pekat, memang. Maka dari itu waktu bersama orang tua seharusnya kita manfaatkan sebaik mungkin untuk memuliakan mereka.

Lalu, bagaimanakah caranya? Begitu banyak hal yang bisa menyenangkan hati orang tua, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Misalnya dengan selalu mendoakan kebaikan untuk mereka, seperti yang Allah katakan dalam firmanNya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [QS. Al-Isra’: 24]

Sekali-kali, ingatkan ayah atau ibu agar tak lupa makan. Menelepon sejenak dalam seling aktivitas untuk sekedar menanyakan, “Bu, sedang apa di sana? Sudah makan belum?”

Meskipun hanya dengan seperti itu terkadang sudah membuat ibu merasa diperhatikan, merasa berarti bagi buah hati yang dirawatnya sejak dalam rahim. Kapan lagi kita berlaku demikian jika tak sekarang? Yakinkah kesempatan kita masih banyak Allah sediakan?

Ketika orang tua tengah memberikan nasihat, kita mendengarkan dan menurutinya. Tak membantah perkataan baiknya. Ketika mereka tengah membutuhkan bantuan, kita mengusahakan untuk selalu bisa. Tak malu untuk sekedar memeluk ibu atau ayah sehari-hari di rumah. Menjadi anak yang shalih atau shalihah, banyak membaca Al-qur’an agar kelak orang tua kita mendapat jubah istimewa di surga. Tak perhitungan, tak membuat masalah di lingkungan, dan senantiasa menentramkan hati mereka.

Sahabat yang dicintai Allah SWT, tak habis rasanya jika menuliskan mengenai orang tua yang telah berarti sangat banyak bagi kita, namun semoga tulisan ini bisa sedikit menginspirasi. Ridha Allah adalah ridha orang tua, maka sebaiknya muliakanlah mereka selagi bisa.