Mertuaku dan Ujian Kesabaran

0
2094
mertua

Oleh : Ova Yanti

“ Kenapa harus berduanya yang sakit?”

“ Kenapa sakitnya nggak sembuh-sembuh?”

“ Kenapa harus mereka berdua yang kena penyakit ini?

Mungkin Ini adalah pertanyaan atau bisikan setan yang pernah hadir mengisi ruang pikir pada diri ini. Ketika melihat kedua mertua yang terbaring di tempat tidur karena mengidap penyakit stroke. Bapak mertua bahkan sudah tiga kali mengalami stroke. Pertama, sebelum saya menjadi menantu. Kedua, ketika saya mengandung buah hati kami. Dan ini kali ketiga, waktu bapak pulang shalat dzuhur dari masjid. Bapak merasa pening dan terjatuh. Begitu diangkat ke pembaringan,bapak tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang bagian kanan. Lidahnya terlihat menjadi pendek, bibirnya miring ke kanan sehingga tak mampu lagi untuk berbicara. Tangan dan kakinya menjadi kaku. Dan yang paling menyedihkan, memorinya kembali seperti anak usia balita. Bapak hanya mampu tertawa dan menangis

Berbagai macam pengobatan telah kami lakukan, tapi belum menghasilkan apa-apa. Waktu stroke pertama dan kedua masih bisa disembuhkan. Tapi untuk yang ketiga ini kami serahkan semua pada Allah SWT. Karena ini adalah takdir Allah yang Maha penentu.

Setiap ada saudara yang menjenguk, bapak langsung menangis. Tubuhnya digerakkan berusaha untuk bangun. Kalau kami bantu, matanya melotot. ‘jangan bantu, aku bisa,,,’ mungkin itu yang ingin disampaikan bapak. Jika kami tetap membantu, tangan kirinya langsung menepis  dan berkata, “ hep…hep…heppp” terlihat raut mukanya menahan marah.

Kalau sudah seperti itu, kami hanya mampu diam sambil mengawasi. Memang, semangatnya untuk sembuh patut diacungi jempol. Tiap pagi dengan bantuan tongkat, bapak latihan berjalan mengelilingi halaman rumah. Keringatnya bercucuran, muka nya memerah menahan lelah. Ibu mertua selalu setia mendampingi bapak, segala perhatian semua tercurah untuk bapak. Sehingga dia lupa, bahwa dia juga butuh istirahat.

Dan akhirnya, di bulan Ramadhan tahun 2014. Ibu  terkena stroke juga. Semua berawal, ketika bapak mengamuk dan marah-marah pada jam satu dini hari. Mungkin bapak mengeluh pada Allah, kenapa sakitnya tidak sembuh-sembuh. Yang biasanya bapak tidak pernah absen tadarusan, menjadi imam pada shalat taraweh, kini hanya mampu terbaring tak berdaya. Seperti  menenangkan bayi, ibu dengan sabar menjelaskan bahwa kita itu harus sabar, semua ada hikmahnya. Shalawat dan  dzikir ibu lantunkan, sambil menyembunyikan tangisnya dari bapak. Doa penuh harap semoga Allah menyembuhkan bapak. Akhirnya bapak tertidur, tapi tidak bagi ibu. Sulit baginya untuk memejamkan mata. Di sepertiga malam, tak hentinya ibu berdoa. Karena waktu sahur hampir tiba, maka ada baiknya ibu langsung memasak.

Tapi apa yang terjadi? Seluruh tubuhnya merasa lemas, kakinya berat untuk melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Dan paginya sudah sulit untuk digerakkan. Dokter memvonis ibu terkena stroke ringan. Ya allah,,,cobaan apa lagi ini?

Semua anak dan menantu berkumpul. Kami tak dapat menahan tangis, cobaan ini sungguh nikmat. Dengan lembut kami peluk dan cium mereka.

“maafkan ibu,nak,,,maafkan bapakmu” tangis ibu pecah. Walaupun ibu terkena stroke tapi ibu masih bisa bicara dengan jelas.

“ Ya Allah,,,kenapa harus kami berdua yang sakit?” 

“Ibu, jangan bicara seperti itu. Ibu harus sabar,,,semoga dengan sakit ini semua dosa-dosa ibu, bapak menjadi berguguran “ suamiku mencoba menenangkan ibu.

“Tapi dengan sakitnya kami berdua, sudah pasti menyusahkan kalian. Jika kalian mengurus kami berdua, bagaimana dengan pekerjaan kalian?”

“Ibu, jangan berfikir seperti itu. Kami sebagai anak sudah sepatutnya merawat ibu dan bapak. Inilah bakti kami sama ibu, bapak.” Anak-anaknya berusaha meyakinkan.

Kesabaran mutlak diperlukan dalam menjalani kehidupan ini, termasuk ketika kita didera sakit. Dunia ini didesain oleh Allah sebagai gudangnya ujian bagi manusia. Tanpa kesabaran, mustahil kita dapat lulus dari ujian tersebut.

****

Hampir dua tahun berlalu, kedua mertua masih dalam keadaan belum bisa berjalan. Tiap seminggu sekali kami bergantian merawat dan menjaga mereka.  Awalnya saya benar-benar merasa canggung untuk terjun langsung memandikan mertua, tapi karena mereka telah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri jadi tidak ada lagi kata ‘malu’ untuk menampung air kecilnya, membersihkan kotorannya, menyuapinya makan, menyisir rambutnya. Bahkan harus berbesar hati, ketika ibu mertua mengomel-ngomel menganggap semua pekerjaan kami nggak beres. Perbanyak istighfar ketika tiba-tiba ibu merajuk nggak mau makan. Keduanya nggak mau pakai diapers jadinya ya harus siap-siap jika ambal atau Kasur dipipisin kalau kita kalah cepat menampung air kecilnya.

Ah, benar-benar kami merawat orang tua yang seperti balita. Butuh kesabaran ektra dalam menyikapinya. Sempat bapak marah-marah dan menangis karena rebutan kue dengan cucunya. melihat cucunya menangis, bapak malah tertawa. Membayangkan hal itu, saya jadi tersenyum sendiri.

Dalam salah satu firman-Nya disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS alBaqarah: 153). Diantara faktor yang menjadikan orang bersabar adalah adanya keyakinan bahwa jalan keluar dan pertolongan Allah pasti datang. Setelah kesempitan pasti ada kelapangan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan setelah kesusahan pasti ada kesenangan. Keyakinan ini sedikitnya akan menguatkan ketika kita harus dihadapkan pada urusan merawat orang yang sakit.

Ada satu hal yang membuat saya, anak-anaknya, saudara, tetangga dan semua orang yang kenal kedua mertua merasa heran. Bapak yang ingatannya kembali ke usia balita, yang tidak bisa bicara satu katapun selain dari ‘hep hep hep’ ketika suara adzan berkumandang terdengar suara bapak dengan lancar bisa mengikuti suara adzan tersebut. Masyaa Allah,,, Mendengar suara bapak kala itu, membuat  kami semua menangis. menganggap bapak akhirnya sembuh. Namun ternyata tidak. Bapak hanya bisa mengikuti suara adzan, mengikuti salah satu dari kami mengaji. Jika kita ajarkan mengucapkan kata ‘tidak, iya, mau’ yang terucap hanya “A’  Ya Allah, engkau sangat menyanyangi mertuaku. KAU beri mereka sakit, tapi tak sedikitpun KAU jauh dari mereka.

Di saat waktu shalat tiba, tak pernah sekalipun mereka menunda-nunda shalat. Dengan langkah terseok-seok ibu mertuaku meminta tolong untuk berwudhu. Sementara bapak  benar-benar lupa bagaimana caranya berwudhu. Secara perlahan bapak menyeret badannya menuju sajadah yang telah di gelar. Ketika sujud, terdengar suara buang angin yang keras sekali dari bapak. Ah, ternyata bapak kentut. Tapi dengan santainya dia melanjutkan shalatnya. Pada sujud kedua, bapak buang angin lagi, bahkan lebih lama dan lebih keras suaranya. Kami yang mendengar suara tersebut langsung menahan tawa, takut bapak marah. Bapak tak peduli atau tidak merasakan kalau dia buang angin, dia melanjutkan terus shalatnya.

Lama saya merenung,  kenapa bapak bisa adzan dan mengaji? Sementara mengucapkan hal yang lain belum bisa sama sekali sampai sekarang. Bapak hanya bisa mengayunkan tangannya, mengangguk menyatakan iya. Kenapa bapak yang ingatannya sudah kembali ke anak kecil tapi masih ingat gerakan shalat? Akhirnya saya temukan jawabannya.

Meskipun sakit, pahala tetap mengalir

Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa melakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”

Masyaa allah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit. Apalagi jika kegiatan itu dapat dilakukan walau dalam keadaan sakit. Pahala itu akan terus mengalir.

Nah, bagaimana dengan orang yang menjaga yang sakit? Apakah ia sabar merawat dan menghadapi tingkah laku yang sakit?

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،
فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.”

Jadi, selain kita harus sabar dalam merawat yang sakit, kita juga harus ikhlas menerima cobaan ini. Jika kita sanggup menjalaninya dengan lapang dada maka ini akan menjadi ladang pahala buat kita kelak.

Sungguh, sakitnya kedua mertua telah menjadi cambuk buat saya untuk terus bermuhasabah diri. Banyak hal yang saya pelajari dari sakitnya mertua.

Pertama, saya dilatih untuk bersabar dalam  menghadapi cobaan yang Allah berikan.

Kedua, tetap berprasangka baik terhadap ketetapan Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku, jika ia berprasangka baik, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya. Jika ia berprasangka buruk, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya.”

Kedua mertua saya secara tidak langsung telah mengajarkan, bagaimana seharusnya seorang hamba yang tetap taat dalam beribadah walaupun dalam keadaan sakit. Tepat waktu dalam menunaikan shalat. Dan hal ini yang menjadi cambuk terperih buatku yang terkadang mau menunda waktu shalat karena pekerjaan yang belum siap. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku. Aamiin,,,

Sebagai penutup tulisan ini, berikut jawaban serta jalan keluar dari Allah yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah

–Mengapa saya di uji?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

-Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan ?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

-Mengapa ujian  ini begitu berat?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

-Saya mulai frustasi dengan ujian  ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

-Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

-Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,” (QS. 9:111)

-Kepada siapa Saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. 9:129)

-Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dan menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

Kepada para pembaca yang budiman, saya mohon bantuan doanya untuk kesembuhan kedua mertua saya ya. Semoga atas kerendahan hati saudara yang mau mendoakannya, Allah membalasnya dengan beribu-ribu pahala yang menghantarkan ke jannah-NYA. Dan saya juga tak lupa mengucapkan jazakumullah khairan katsiran.

GAYO_TAKENGON 21/2/2016