Menyingkap Rahasia Di Balik Hujan

0
1397
hujan

Oleh : Indri Novia Miranti

“Allah, Dia-lah yang Mengirim angin lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah Membentangkannya di langit menurut yang Dikehendaki-Nya, dan Menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai Hamba-hamba-Nya yang Dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Ruum: 48)

Saat ini musim hujan sedang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Hujan merupakan rezeki dari Allah untuk segenap makhluk hidup di muka bumi. Di saat hujan turun terkadang bisa membawa manfaat, namun ada kalanya dapat berbuah madharat. Oleh karena  itu, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk meminta kepada Allah hujan yang mendatangkan manfaat, seperti yang tersirat di dalam hadits:

Dari Aisyah ra, dia berkata, “Jika Rasulullah SAW melihat hujan, maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).” (HR. Bukhari, no. 1032)

Diantara keterangan yang menunjukkan bahwa hujan terkadang membawa bencana dan siksaan adalah firman Allah Ta’ala, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil…” (QS. Al-Ankabut: 40)

Juga pada firman-Nya, “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” (QS. Saba`: 16)

Sejatinya, hujan diciptakan Allah sebagai rahmat dan karunia-Nya, sebagaimana hadits nabi SAW. Dari Zaid bin Khalid Al Juhaini bahwa dia berkata, “Rasulullah SAW memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah di atas bekas-bekas hujan yang turun pada malam harinya. Setelah selesai shalat beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda, “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?” Orang-orang menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau lalu bersabda, “(Allah berfirman), ‘Subuh hari ini ada hamba-hamba ku yang menjadi mukmin kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Siapa yang berkata, `Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya`, maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, `(Hujan turun disebabkan) bintang ini dan itu`, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang`.” (HR. Bukhari, no. 1038)

Senada pula dengan firman-Nya, “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan Dia menyebarkan Rahmat-Nya…” (QS. Asy-Syuraa: 28)

Secara ilmiah, hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Hujan adalah sebuah presipitasi berwujud cair, berbeda dengan presipitasi non-cair seperti salju, batu es, dan slit. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan bumi. Di bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan)

Menurut KBBI, hujan didefenisikan sebagai titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan. (KBBI online, http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

Menurut Zaghlul an-Najjar dalam bukunya Pembuktian Sains dalam Sunnah, menjelaskan tentang bagaimana proses turunnya hujan dari awan. Di bumi, yang sangat  berperan penting dalam proses penguapan air adalah sinar matahari. Air yang ada di permukaan bumi mulai dari laut, samudera, sungai, danau, air yang tersimpan di bawah permukaan bumi, pernapasan makhluk hidup, dan berbagai sumber air lainnya, dengan bantuan cahaya matahari menguap dan naik ke lapisan atmosfer bumi (troposfer). Troposfer merupakan bagian dari lapisan atmosfer yang paling rendah yaitu sekitar 15 km dari permukaan tanah. Pada lapisan ini terjadi peristiwa cuaca seperti hujan, angin, musim salju, kemarau, dan sebagainya. Biasanya jika ketinggian bertambah, maka tekanan udaranya berkurang. Hal inilah yang membantu proses penggumpalan uap air. Air yang berada di lapisan troposfer berbentuk buliran-buliran air yang menempel dengan udara dengan daya rekat dan kekuatan tensi permukaannya. Meski berada di awan dan digerakkan oleh angin, buliran-buliran ini tidak jatuh ke bumi. Turunnya hujan ke bumi disebabkan karena berpadunya dua awan yang berbeda muatan.

Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 triliun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Ini berarti air senantiasa berputar dalam siklus yang seimbang menurut kadar tertentu. Dengan demikian, siklus hujan yang di dalam kajian ilmiah sering disebut proses hidrologi, senantiasa tetap dan tidak berubah. Air di permukaan bumi yang menguap ternyata jumlahnya sama dengan air yang diturunkan ke bumi melalui hujan.

Peristiwa alam ini membuktikan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menciptakan hujan selain Allah, seperti yang tertuang di dalam firman-Nya, “Katakanlah: Terangkan kepada-Ku jika sumber air kamu menjadi kering maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu,” (QS. Al-Mulk: 30)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang Menurunkan? Kalau Kami Kehendaki niscaya Kami Jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (QS. Al-Waqi’ah:68-70)

Di era kecanggihan teknologi, manusia bisa menciptakan hujan buatan sebagai hasil dari proses berpikir tentang alam ini. Hujan buatan dikenal dengan istilah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), karena pada dasarnya hujan buatan merupakan aplikasi dari suatu teknologi.

Sebenarnya istilah hujan buatan tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai pekerjaan membuat atau menciptakan hujan, karena teknologi ini hanya berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan. Proses ini dilakukan dengan cara penyemaian awan (clouding seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat & selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

TMC merupakan usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang diubah (diberi perlakuan) di dalam awan dapat berupa proses tumbukan dan penggabungan (collision and coalescense) atau proses pembentukan es (ice nucleation). Saat ini TMC menjadi salah satu solusi teknis yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi bencana yang ditimbulkan oleh karena adanya penyimpangan iklim dan cuaca.

Hujan memiliki banyak manfaat dan keutamaan, di antaranya adalah, KESATU, salah satu sebab adanya rezeki. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dia menurunkan air(hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian.” (QS.Al-Baqarah: 22)

“Di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan kebun-kebun, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, yang disirami dengan air yang sama…”  (QS. Ar-Ra’d: 4)

Lihat juga QS. Yunus: 24, QS. Al-A’raf: 57, QS. Ibrahim: 32, QS. An-Naml : 60

KEDUA, menjadi salah satu sebab hidupnya bumi, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya…” (QS. Al-Baqarah: 164)

KETIGA, sebagai penyuci dalam thaharah. Allah SWT berfirman, “… Dan Dia menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu…” (QS. Al-Anfal: 11)

KEEMPAT, untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup di bumi. Allah SWT berfirman, “Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya(menyuburkan)tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian mengembalakan ternak kalian.” (QS. An-Nahl: 10)

Waktu turunnya hujan termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah semata. Tidak ada istilah pawang hujan atau semisalnya karena dikhawatirkan akan jatuh ke lembah kemusyrikan bahkan kekafiran. Na’udzubillah! Hal ini tergambar di dalam  hadits,
“Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorangpun kecuali Allah: Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada satu jiwapun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, tidak ada satu jiwapun yang tahu di bumi mana dia akan mati, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” (HR. Bukhari, no. 1039)

Hujan turun sesuai dengan kehendak Allah. Namun demikian, hujan juga dapat turun sebagai rahmat dengan wasilah amal shalih hamba-hamba Allah. Di antara amal shalih yang dapat menjadi perantara turunnya hujan adalah, SATU, bertakwa kepada Allah. Allah SWT berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

DUA, istighfar dan taubat dari dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh, “Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.” (QS. Nuh: 10-11)

TIGA, istiqamah di atas syariat Allah. Allah SWT berfirman, “Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar.”  (QS. Jin: 16)

EMPAT, istisqa`, baik sekedar berdoa maupun dengan shalat. Wallahu a’lam

Semoga kita sebagai insan bisa senantiasa berusaha mensyukuri salah satu nikmat dari Allah SWT berupa hujan. Ya, karena hujan merupakan diantara bentuk kasih sayang Allah kepada makhluknya. Mudah-mudahan hujan yang turun pun membawa manfaat. Aamiin.