Mental Orang Kaya

0
417
mental orang kaya
Oleh : Newisha Alifa

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita saat mendengar kata, ‘kaya’? Umumnya yang akan terbayang adalah berlimpahnya harta, rumah mewah, baju bagus, mudah traveling ke sana ke mari, dan berbagai hal yang sering kali dijadikan ukuran kesuksesan seseorang yang bersifat duniawi. Tapi tahukah kita, bahwa sebenarnya mental orang kaya itu bisa dimiliki siapa pun di dunia ini, meskipun secara materi dia bahkan kekurangan?

Kok bisa? Mana mungkin orang yang kekurangan punya mental orang kaya?

Loh, kenapa tidak? Kan yang sedang dibahas di sini adalah ‘mental’, bukan syarat-syarat untuk diakui sebagai orang kaya di mata orang lain?

Penasaran? Silakan baca tulisan ini sampai selesai yaa!

#

Menurut pengamatan penulis, mental orang kaya terbagi menjadi 2 sisi, negatif ataukah positif.

√ MENTAL ORANG KAYA (NEGATIF)

Hobinya pakai barang-barang branded. Nggak perlu yang ori deh, KW super pun dihajar, yang penting kelihatan wow di mata orang lain. Biar nggak kelihatan kudet, selalu update perkembangan gadget termutakhir abad ini. Every weekend kudu banget hangout sama teman-teman ke tempat-tempat terkini, baik dalam maupun luar kota, bahkan luar negri!

Tapi oh tapi … Giliran ke masjid, yang dikeluarkan pecahan rupiah paling minimalis, tapi diusahakan masih wajar lah. Sepuluh ribu rupiah dirasa sudah sangat cukup untuk isi kotak amal yang diedarkan saat jum’atan.

Mendadak bokek maksimal untuk beli hewan kurban ketika mendekati hari raya Idul Adha. Padahal gadget-nya jauh lebih mahal ketimbang harga satu ekor kambing dengan kualitas paling kurus ceking.

Atau di sisi lain… Saat uang berjuta-juta rupiah terasa begitu murah untuk wisata ke berbagai tempat baik di dalam maupun luar negri, maka UMROH KE TANAH SUCI justru luput dari list ‘the next destination to visit’.

Dan yang lebih mengerikan lagi adalah… Jika semua aktivitas keduniawian itu hanya bisa dinikmati dengan menggunakan benda keramat bernama kartu kredit! Atau dengan cara yang merugikan orang lain yakni berhutang!

Nggak sedikit orang yang bercerita, bahkan penulis sempat mengalaminya sendiri, bahwa ada saja orang-orang yang sebenarnya memiliki hutang, tetapi masih bisa update foto atau status lagi makan di restoran mewah, jalan-jalan ke suatu tempat. Padahal! Ada orang lain yang sedang resah menunggu kapan hutangnya dilunasi!

Allah SWT berfirman, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” QS. Al-Baqarah: 268)

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang kebenaran.” (QS. At-Taubah: 76)

Astaghfirullah! Mental seperti ini sungguhlah HARUS KITA HINDARI. Pasalnya, pola pikir
demikian, cepat atau lambat hanya akan membinasakan diri kita sendiri! Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas dalam hal-hal duniawi, hingga akhirnya membuat lupa akan kehidupan akhirat!


√ MENTAL ORANG KAYA (POSITIF)

Penampilannya cenderung sederhana dan bersahaja, namun untuk urusan amal, dia boleh jadi adalah jawaranya! Bertemu orang lain, bawaannya pingin berbagi dan membahagiakan terus, meski hanya lewat sesimpul senyum nan tulus.

Pun tak sedikit kisah nyata yang menceritakan orang-orang kecil yang acap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat, justru sanggup melaksanakan ibadah-ibadah dalam Islam yang membutuhkan kelebihan materi! Dengan pemasukan tak menentu tiap hari hingga tiap bulannya, namun manusia-manusia luar biasa ini tetap sanggup untuk berkurban, bahkan menunaikan ibadah haji!

Mereka cinta berbagi kepada sesama. Tak hanya pada sesama manusia, tapi juga makhluk Allah lainnya semisal hewan dan tumbuhan. Hatinya dipenuhi cinta kasih dan misi untuk MEMBERI SEBANYAK-BANYAKNYA daripada menerima keuntungan sebanyak-banyaknya.

Orang-orang seperti ini berusaha untuk tetap membelanjakan hartanya di jalan Allah, sekalipun kondisi ekonominya sedang pas-pasan, bahkan tengah mengalami kesulitan. Karena mereka sangat yakin, takkan pernah merugi orang yang melakukan ‘transaksi’ dengan Rabb semesta alam! Bagi mereka, berbagi dan memberi itu sudah seperti hobi dan kebiasaan yang menyenangkan. Di samping itu, berbagi kepada sesama diartikan sebagai bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah yang masih bisa dirasakannya.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Masya Allah! Betapa indah dan sejuknya dunia, jika populasi orang-orang dermawan seperti ini semakin banyak.

Mari kita cek ke dalam diri masing-masing, saudara-saudariku! Kira-kira mental orang kaya yang manakah yang masih mendominasi diri kita???

Bekasi, 19 Jumadil Awal 1437H