Mengukir Tinta Emas Peradaban

1
249
peradaban

Oleh : Alya Adzkya

“Dulunya Islam adalah mercusuar yang menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Saat itu ketika orang membicarakan tentang Islam, maka yang terpikirkan oleh mereka adalah cerdas, pintar, kaya, hebat, keren dan maju.” ( Dikutip dari Khilafah Remake, karya Felix Siauw)

Islam pernah mengukir sejarah dengan tinta emas peradabannya. Saat itu pengaruh muslim mendominasi dunia. Dari tempatnya berasal hingga ke negara-negara Barat, Islam menjadi panutan semua bangsa di dunia. Menjadi ‘role mode’ dan kiblat berkembangnya semua ilmu pengetahuan.

Namun, itu dulu. Kini semua kejayaan dan kegemilangan itu hanya bisa kita lihat lewat buku-buku atau peninggalan sejarah lainnya. Lantas tidakkah kita merasa heran, Saudaraku? Apa yang membuat Islam begitu dihormati pada saat itu, sedangkan di sisi lain begitu terpuruk saat ini?

Secara logika pasti ada sesuatu yang diterapkan ada masa itu, tetapi tidak diterapkan di masa sekarang. Sehingga peradaban islam saat ini tak lagi semaju masa keemasan dulu. Dan apakah itu?

Ummat Islam bisa menjadi begitu hebat pada masa itu, karena mereka lebih mengutamakan agama dari apapun. Semua pencapaian yang mereka dapatkan di dunia bukanlah tujuan akhir. Bagi mereka, semua perbuatan harus diorientasikan pada akhirat. Dunia tak mereka simpan dalam hatinya. Cukup ada di dalam genggaman tangannya, tak lebih.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengejar akhirat, maka dunia mengikutinya. Barangsiapa mengejar dunia, maka akhirat meninggalkannya.”

Pada masa itu, tidaklah sulit untuk mencari anak-anak kecil yang hafal Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah salah satu pelajaran yang wajib dipelajari sebelum mempelajari yang lain. Tak heran. Para ulama pada masa itu, mereka ahli dalam berbagai bidang, tetapi mereka juga hafal Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah sumber segala ilmu. Semua rahasia fenomena yang ada di dunia tersimpan rapi di dalamnya. Wajar saja jika para cendekiawan muslim menjadi begitu cerdas. Kunci segala ilmu telah terpatri kuat dalam hati dan fikiran mereka. Maka, bagaimana caranya agar kita bisa kembali ke masa keemasan itu?

Jawabannya hanyalah satu. Kembali pada Al-Qur’an. Tak hanya dilafazkan di lisan, tetapi juga bertindak nyata dalam perbuatan. Tak hanya sekedar dipelajari, tetapi juga diaplikasikan setiap hari. Tak hanya dijadikan pajangan, tetapi juga tersirat dalam ucapan dan kepribadian.

Saat kita sudah benar-benar kembali pada Al-Qur’an, saat itu jugalah hadir kejayaan yang didambakan. Saat kita melakukan segala sesuatu dengan orientasi akhirat, saat itulah dunia akan bertekuk lutut di hadapan kita.

Marilah kita mengukir kembali sejarah dengan tinta emas peradaban Islam yang beradab. Dominasi kembali dunia dengan cahaya Al-Qur’an.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada rang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan. Dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan jalan yang lurus.” (Q.S Al-Maidah : 15-16)