Mengelola Asisten Rumah Tangga

0
316
pembantu rumah tangga

Oleh : Sri Bandiyah

“Bibi, bulan ini kan izin lima hari, jadi gaji Bibi saya potong sekian rupiah ya?” Dialog saya tiga tahun yang lalu saat pertama mempunyai asisten rumahtangga.

Istilah potong gaji sebetulnya hanya saya niatkan untuk memotivasi profesionalitas, pada praktiknya akan tetap saya berikan dalam bentuk yang berbeda seperti sabun, minyak, gula dan teh yang memang setiap bulan saya sediakan. Jika ada potongan gaji, jumlah pemberian itu akan saya tambahkan.

Saya mengambil kesimpulan bahwa kata-kata potong gaji itu sepertinya kurang akrab dan lebih terkesan kejam. “Hihihi… Maafin saya ya, Bi.”

Untuk Ibu yang Bekerja

Bunda pasti pernah merasakan ketika bibi atau asisten rumah tangga kita sedang libur. Keadaan rumah sebegitu hebohnya dengan banyak pekerjaan domestik yang menunggu untuk dieksekusi. Padahal pekerjaan dalam profesi lain kita di sekolah, di perusahaan, atau di mana pun, juga tidak memberikan dispensasi bagi totalitas dan profesionalitas kita.

Tiga tahun yang lalu, saat bibi tidak bekerja, ekspresi saya seperti dialog di atas, melakukan pemotongan gaji. Lambat laun, saya menyadari betapa besar jasa bibi bagi keluarga saya. Tidak terbayang betapa repotnya saya jika tidak ada bibi yang menjaga anak saya dan membantu pekerjaan saya di rumah. Apakah saya akan sanggup memeras ASI setiap hari jika sebelum bekerja saya harus membereskan pekerjaan domestik. (Saya memberikan ASI eksklusif tujuh bulan meskipun saya bekerja hingga jam tiga sore).

Apakah saya bisa tetap terjaga, saat si sulung minta ditemani belajar pada malam hari, jika pekerjaan mencuci dan setrika saya lakukan dini hari? Sebelum mempunyai asisten rumah tangga, saya biasa mencuci dan menyetrika jam dua dini hari dan biasanya sehabis Maghrib saya sudah tertidur. Dan apakah saya bisa menyiapkan materi pembelajaran di sekolah, jika menyapu dan mengepel pun saya lakukan ba’da subuh?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang sesuai kondisi saya pada saat itu. Mungkin kondisi bunda sekalian berbeda dengan saya, tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah betapa orang yang kita panggil Bibi, Bude, atau Mbak yang intinya orang itu adalah asisten rumah tangga kita, mempunyai jasa sangat besar bagi keluarga kita.

Ah, terkadang timbul perasaan, “Loh, kan saya sudah gaji sesuai kesepakatan. Bahkan saya kasih bonus.” Atau muncul kesombongan, “Untung bibi kerja sama saya, coba sama orang lain, pasti pekerjaanya lebih berat.” Atau lebih ekstrim muncul su’udzan, “Bibi itu udah dikasih pekerjaan, tapi tidak becus!” Astaghfirullahal adzim… Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang seperti itu dalam memperlakukan asisten rumah tangga kita.

Bunda…

Adakah yang masih mempunyai anak Balita? Anak Balita saya termasuk aktif. Kadang membuat plastisin berserakan di mana-mana. Lain waktu mengambil semua buku yang sudah tertata rapi di rak. Lain hari, ketika saya sibuk menulis, si bungsu sudah sibuk mencuci baju di kamar mandi. Tentu saja mencuci versi si bungsu adalah menuangkan sabun mandi cair ke ember dan memasukkan baju kotor sisa dari mesin cuci, mengisinya dengan air dari kran dan ia masuk ke dalam ember menikmati guyuran air kran. Hal itu tentu akan menambah daftar pekerjaan yang harus dibereskan.

Atau pernahkan anggota keluarga kita sakit? Saat anak sakit atau kita sendiri sakit, tentu kita membutuhkan seseorang yang bisa menggantikan tugas, sementara kita istirahat memulihkan kesehatan. Lalu bagaimana jika asisten rumah tangga kita yang sakit? Tentunya kita akan memberikan kebijaksanaan untuk membawanya ke dokter dan memberinya waktu istirahat untuk memulihkan kesehatannya. Atau bahkan diberi waktu pulang untuk berkumpul dengan keluarga di rumah, karena bisa jadi sakitnya si Bibi karena kangen dengan keluarganya (ini jika asisten rumah tangga ikut bermalam di rumah kita).

Masih dalam bulan awal tahun baru, saya mengajak Bunda…

Mari kita bangun kesadaran, asisten rumah tangga itu membantu pekerjaan kita dengan gaji yang tentu saja lebih kecil dari gaji yang kita dapatkan dari pekerjaan kita atau yang suami dapatkan dari pekerjaanya. Oleh karena itu, memberi bonus akhir tahun atau tunjangan awal bulan, atau apalah namanya mungkin perlu dianggarkan. Juga tentang istilah potong gaji mungkin perlu dihilangkan, diganti dengan tunjangan disiplin atau tunjangan kehadiran jika si Bibi tidak pernah absen dalam satu bulan itu.

Saya sendiri, mengganti potong gaji dengan tunjangan sandang. Jika dalam satu bulan Bibi tidak izin kecuali di hari libur, maka Bibi bisa mendapatkan tunjangan untuk membeli pakaian. Meskipun lebih sering, uang yang saya berikan tidak dipakai untuk membeli pakaian tetapi terpakai untuk keperluan lain. Dengan cara itu, Bibi lebih rajin dan semakin dekat dengan kami layaknya keluarga.

Selain itu, kita bisa mencontoh perlakuan Nabi SAW kepada Anas bin Malik yang membantu beliau selama sembilan tahun. Anas mengatakan, selama itu Nabi SAW tidak pernah menanyakan mengapa ia melakukan ini dan mengapa ia tidak melakukan itu. Tutur kata Nabi SAW lembut dan beliau tidak pernah marah.

Bisakah kita perlakukan asisten rumah tangga kita seperti Nabi SAW memperlakukan Anas?

Ya Allah… Berilah kesehatan kepada para asisten rumah tangga yang bekerja dengan ikhlas. Jagalah keluargannya sebagaimana ia menjaga keluarga kami. Berikan kepada mereka keberkahan rezeki dan keberkahan keturunan. Jadikan kehidupan mereka semakin baik setiap harinya, dan lindungi mereka dan panggil kembali mereka jika mereka mulai menjauhi-Mu. Aamiin ya Allah….

Save