Menanggapi Tuduhan “Sok Suci”

0
1792
sok suci

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Nasihat; satu kata yang ringan terucap namun memiliki manfaat yang berlimpah. Banyak hal yang ada dalam kehidupan ini yang dapat kita jadikan sebagai nasihat kehidupan. Tak lupa juga, ucapan-ucapan nasihat yang terlantun dari lisan orang tua, guru, dan orang terdekat kita bisa diambil banyak manfaat darinya.

Tentu saja, semua nasihat itu sangat bagus dan bertujuan agar diri ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak ada nasihat, kecuali agar manusia lebih memperhatikan perilaku yang dikerjakannya di dunia ini. Menjadikannya lebih bermanfaat dan lebih berguna bagi sesama.

Sebuah nasihat, memang sudah diajarkan dalam agama yang mulia ini. Islam, sejak empat belas abad lalu telah mengajarkan segala seuatu tentang perbaikan diri ini dengan jalan saling menasihati. Dalam surat yang sering kita baca, Allah menggambarkan tentang orang-orang yang saling memberi nasihat.

“Watawaa shaw bilhaqqi, watawaa shaw bishshabr.” (Dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati pula dalam kesabaran).

Selain itu, Rasulullah juga pernah mengingatkan kita tentang nasihat dalam sabdanya suatu hari. Dari Tamim Ad Daari Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa saja?” Rasulullah menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam mereka.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i. Dan ini adalah lafal yang diriwayatkan oleh Muslim)

Itulah sebuah nasihat. Selain Allah perintahkan dalam Al Qur’an, diperintahkan pula melalui sabda Nabi-Nya. Itulah indikator yang hendaknya meyakinkan banyak orang bahwa sebuah nasihat itu sangatlah diperlukan.

Lalu, bagaimanakah seharusnya memberi nasihat itu?

Islam telah mengajarkan kepada kita, bahwa sebuah nasihat itu hendaknya dengan bahasa yang sopan dan lemah lembut. Jangan dengan ucapan keras dan kasar. Karena, hal itu hanya akan menyakiti orang yang diberi nasihat, serta nasihat itu nantinya tidak akan dapat diterima oleh orang yang dinasihati.

Saat menyampaikan nasihat tidak selamanya kita akan mendapatkan tanggapan baik. Terkadang, ada saja tanggapan negatif atas nasihat yang kita sampaikan. Mungkin, saat menyampaikan nasihat melalui tulisan akan ada orang yang berkata, “Agama belum bagus kok sudah berani menulis tentang nasihat dan dakwah.”

Atau saat ada yang melakukan hal tidak baik kemudian kita ingatkan, mereka akan berkata, “Jangan sok suci! Memangnya kamu nggak pernah berbuat salah apa?”

Lalu, haruskah kita menghentikan nasihat yang merupakan amar ma’ruf nahi mungkar? Ataukah kita harus menunggu hingga benar-benar bersih tak berdosa untuk menyebarkan nasihat?

Mari kita dengarkan apa kata para ulama salaf tentang hal ini. Sa’id bin Jubair pernah mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar,  kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya.” Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah, “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu.” Mutharrif mengatakan, “Aku khawatir mengatakan yang tidak aku lakukan.” Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu, siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan, sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini, sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi mungkar.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Nah, itulah mengapa ketika ada orang yang berkomentar buruk atas apa yang kita nasihatkan tidak boleh ada kata berhenti bagi diri ini untuk memberikan nasihat. Jadilah seorang mushlih; seorang muslim yang berusaha membuat segala sesuatu yang ada di sekitarnya berubah menjadi baik dan lebih baik lagi.

Sebarkanlah nasihat di manapun dan kapanpun kau mampu. ^^

***

Jakarta, 12 Februari 2016