Memilih Sahabat Untuk Hidup dan Matimu

1
450
akhwat

Oleh : Newisha Alifa

Ada banyak faktor yang menjadi character building seseorang. Selain latar belakang keluarga dan pendidikan, hal  lain yang tak kalah penting dalam menentukan karakter seseorang adalah LINGKUNGAN. Bicara tentang lingkungan,  berarti erat kaitannya dengan lingkup pergaulan dan pertemanan seseorang.

yuk berteman

Teman terdekat atau terakrab umum kita sebut sebagai ‘sahabat’. Pun istilah sahabat memiliki peran penting dalam perjuangan dakwah pada zaman Rasulullah Saw.  Tentunya sudah tak asing lagi bagi kita, ada 4 sahabat Rasulullah Saw yang kemudian usai beliau wafat menjadi Khulafaur Rasyidin, mereka tak lain adalah; Abu Bakar As-Siddiq RA, Ummar bin Khattab RA, Utsman bin Affan RA dan yang terakhir adalah Ali bin Abi Thalib RA. Catatan sejarah dari perjalanan hidup manusia paling mulia di muka bumi ini seolah mengajarkan kita, bahwa yang namanya sahabat memiliki andil penting dalam kehidupan seorang manusia.

Rasulullah Saw bersabda :
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah, salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad).

Dari Anas, dia menuturkan Rasulullah Saw bersabda :
“Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi. Jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium aroma wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang buruk adalah seperti tukang pandai besi. Jika kamu tidak terkena arangnya (percikannya), maka kamu akan terkena asapnya.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan pentingnya memilih teman yang baik juga sudah ALLAH SWT peringatkan dalam Al-Qur’an, Surat Az-Zukhruf ayat 67 yang berbunyi :
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”

Itu mengapa perkara memilih teman akrab atau sahabat, memiliki andil penting dalam kehidupan seseorang. Kiranya, pola pikir seperti ini sudah harus ditanamkan sejak kecil oleh kedua orangtua. Agar saat si anak beranjak dewasa, ia sudah bisa memfilter sendiri, mana orang yang boleh dijadikan sekadar teman bermain saja. Mana yang pantas untuk dijadikan teman akrab, teman kepercayaan atau sahabat.

Yang perlu digarisbawahi dalam hal memilih sahabat adalah poin akhlak atau agamanya. Bukan dari mana dia berasal, bagaimana kondisi fisiknya, atau termasuk dalam kasta manakah status sosial keluarganya? Bukan! Bukan itu.

Dalam kehidupan ini, selalu ada dua kemungkinan; di- atau me-. Apakah posisi kita sebagai subjek atau objek perubahan? Apakah kita cukup kuat untuk mengubah seseorang menjadi lebih baik, atau sebaliknya, kita terlalu lemah dan berpotensi untuk diwarnai keburukan oleh orang lain. Itulah mengapa, saat memutuskan untuk mengakrabkan diri dengan seseorang, kita perlu tahu kapasitas diri kita. Tujuannya bukan untuk menyombongkan diri karena MERASA SUDAH BAIK, namun karena kita sadar, iman kita masih lemah dan mungkin takkan sanggup menolak pengaruh buruk dari orang lain.

Persahabatan yang indah adalah persahabatan yang dengannya membuat kita selalu mengingat Allah. Bersamanya membuat iman dan wawasan kita tentang Islam semakin dalam dan kuat. Ribuan teman dengan mudah kita cari untuk tertawa bersama, untuk ikut merayakan kebahagiaan saat resepsi pernikahan kita, misalnya. Namun hanya orang-orang tertentu yang bersedia untuk tetap mendampingi di kala musibah datang bertubi-tubi. Bahkan kelak ketika ruh sudah meninggalkan jiwa, kita akan tahu … siapa saja yang hadir menyaksikan jasad kita yang sudah terbujur kaku. Siapa saja yang merasa begitu kehilangan atas kepergian kita. Siapa saja yang tanpa kita minta, bersedia memaafkan kesalahan-kesalahan kita dan mendoakan kebaikan kita di alam kubur.

Tak hanya sampai di situ. Kelak di akhirat … kita akan dikumpulkan oleh sahabat-sahabat kita. Pertanyaannya, akan berkumpul di manakah kita dengan para sahabat kita nanti? Surgakah? Atau justru neraka? Naudzubillahimindzalik.

Cikarang, 3 Pebruari 2016