Memantaskan Diri Saja

0
691
memantaskan diri

Oleh : Rina Perangin-Angin

Pacaran?? Hem, kata ini sudah mendunia. Mulai dari kalangan remaja sampai yang sudah berumur paham artinya. Bahkan saya sendiri pernah terjebak dalam kata “Pacaran”. Tetapi saya bukan pelakunya ya. Bukan!

Pernah suatu hari, Ibu bertanya mengapa sampai kuliah tidak ada satu pacar pun yang saya kenalkan ke Beliau. Padahal tetangga, anak perempuannya sudah beberapa dibawa. Bahkan sempat dikenalkan ke Ibu juga karena kebetulan saat itu Ibu sedang menyapu halaman. Sampai-sampai Ibu menanyakan kenormalanku. Ya, soalnya sejak dulu yang kubawa ke rumah pasti murabbiku yang semuanya wanita.

Jujur saja, pertanyaan itu membuat saya sedih. Bukan karena tidak memiliki pacar, tetapi karena Ibu berulang kali bertanya. Padahal setiap Ibu bertanya, semaksimal mungkin saya menjelaskan bahwa saya tak ingin pacaran. Saya ingin ta’aruf dan segera menikah. Tanpa harus berlama-lama menunda. Takut digoda setan juga.

Kejadian ini sering sekali terjadi, tak hanya pada saya tentunya. Banyak korbannya. Dan ini yang membuat hati kian miris. Kita tentu tak asing lagi mendengar bahwa pacaran itu haram. Ini terdapat dalam surah Al-Isra’ ayat 32 yang isinya, ‘Janganlah kamu mendekati zina…”. Nah loh?? Sudah jelaskan kan? Pacaran memang tak zina dalam hal zina badan, tapi aktivitasnya? Mulai dari tatapan penuh perasaan, pegangan tangan, lanjut pegang yang lain. Itu masih biasa. Yang lebih parahnya ya si wanita bisa kehilangannya mahkotanya, hamil, terus akhirnya?? Ya aborsi. Jadi berlipat kan dosanya?

Eiiitss, ini beneran loh! Sudah banyak korbannya. Kalau nggak percaya, lihat saja di TV. Banyak sekali kasus pasangan yang tertangkap mesum di hotel atau berita tentang aborsi. Memang benar, tak semua pelaku aborsi karena pacaran. Ada juga kok yang korban pemerkosaan, tapi perbandingannya?? Jelas lebih sedikit. Suka atau tidak, aktifitas pacaran nyatanya memberi andil besar dalam kasus aborsi. Astaghfirullah. Aktivitas ini yang haram dilakukan.

Percaya kan bahwa jodoh di tangan Allah. Jodoh sudah Allah tentukan, jadi untuk apa pacaran? Lihat, betapa banyaknya yang pacaran sudah betahun-tahun, eh ternyata putus. Jodoh nggak, sakit hati iya!

Terus bagaimana dong untuk mendapat jodoh? Masa langsung nikah? Kan kayak beli kucing dalam karung. Hem, ya nggak begitu juga. Islam mengharamkan pacaran, tetapi membolehkan ta’aruf. Saat taaruf inilah kedua belah pihak mencari tahu semaksimal mungkin apakah calon pasangannya sudah sesuai atau belum. Bedanya dengan pacaran, dalam ta’aruf ya nggak pakai berdua-duaan, apalagi pegang-pegangan tangan. Selalu ada mahram yang menemani sehingga menjauhkan timbulnya fitnah. Dan yang pasti, orang tua ikut andil di dalamnya.

Coba deh bayangin, kalau orang tua ikut andil dalam penyeleksian insya Allah akan lebih mantap penyaringan jodohnya. Soalnya semua orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Benar, apa benar? Terus bakal terhindar dari fitnah.

Cukuplah dalil Al Qur’an tersebut menjadi pegangan kita untuk tidak pacaran. Terutama yang belum menikah nih. Kudu ekstra hati-hati. Termasuk dalam menjaga mata juga. Jika ada ikhwan atau akhwat yang mengganggu hati, langsung tundukkan pandangan plus minta pada Allah agar kita dikuatkan dalam menjaga hati. Cukuplah hati hanya milik mereka yang sudah halal nantinya.

Jika ada yang bertanya kemana pacarmu atau mengapa kamu tak juga kunjung punya pacar? Katakan saja bahwa saya sedang LDR. LDR itu bukan perkara jarak, tapi juga waktu. Anggaplah saat ini Allah sedang menyimpannya sampai waktu yang tak ditentukan. Allah sengaja simpankan dia agar kita punya waktu lebih banyak dalam memantaskan diri. Tahu kan bahwa jodoh itu cerminan diri? Jika hari ini kita berusaha memantaskan diri menjadi lebih baik, insya Allah dia di sana juga sedang berusaha memantaskan diri. Jika hari ini kita sibuk pacaran, maka dia di sana pun mungkin sedang sibuk pacaran.

Itulah mengapa kita tidak boleh pacaran. Kita harus menjaga hati sebaik mungkin hanya untuk yang halal saja. Dengan begitu dia pun akan menyibukkan diri menjaga hati hanya untuk kita setelah halal nanti. Masya Allah, bukankah itu menjadi lebih indah nantinya?

Daripada pacaran sebaiknya berbakti kepada orang tua. Senangkan hatinya. Ingat, orang tua punya hak atasmu juga. Memang benar, kita punya dunia sendiri, tetapi orang tua menghabiskan sisa dunianya hanya untuk membesarkan kita, hanya untuk merawat kita. Jangan biarkan air matanya mengalir. Jangan biarkan hatinya menjadi sepi karena kita sibuk kuliah atau kerja. Tahu kan kalau ridhanya Allah terletak pada ridha orang tua. Mungkin detik ini kita belum nemuin jodoh karena Allah ingin memberi kita waktu untuk berbakti pada Beliau, atau mungkin juga karena kita belum bisa menyenangkan hati beliau, jadi jodoh kita terhambat.

Jangan takut mikirin jodoh! Bahagiakan saja orang tua. Nanti orang tua yang akan mendoakan kita kepada Allah agar Allah memberi jodoh terbaik. Tahukan bahwa doa orang tua, apalagi doa Ibu cepat banget sampai ke Allah.

Jangan takut jodoh tertukar, sebab sandal saja tidak pernah tertukar, apalagi jodoh. Insya Allah, Allah tidak pernah salah dalam menentukan jodoh hamba-Nya. Tugas kita hanya memantaskan diri kan?