Manusia Bukan Malaikat

0
727
jalan

Oleh: Laila Husna

Sering kita jumpai atau mendengar kerap kali orang-orang berucap dengan dalih kalimat ‘Manusia Bukan Malaikat.’ Kalimat ini akan muncul tatkala dirinya merasa terpojokkan dari suatu kesalahan. Seolah-olah kalimat ini akan menjadi senjata yang bisa diandalkan ketika ia berhadapan dengan suatu persoalan.

“Namanya juga manusia tempat khilaf dan salah. Manusiakan bukan malaikat!”merasa bukan malaikat
Lengkapnya kalimat itulah yang sering keluar dari mulut seseorang. Hingga menjadi suatu kebiasaan yang membuatnya nyaman bersalah. Memang benar, tidak ada yang salah dari kalimat itu. Manusia memang tempat khilaf dan salah, manusia memang bukan malaikat. Kesalahannya adalah tatkala kalimat itu dijadikan tameng atau senjata diri dari perbuatan salah.

Jika setiap kali kita berbuat kesalahan lalu berucap kepada orang yang memberi peringatan dengan kalimat demikian. Lalu kapan kita bisa belajar dari kesalahan? Kesalahan selalu kita bela. Bela kesalahan karena membela diri. Biarlah kalimat itu dipakai oleh orang di luar diri kita, bukan kita yang berucap demikian seolah tak ingin disalahkan.

Memang tidak semua komentar dari orang lain itu benar, tetapi juga tidak semuanya salah. Ambillah baiknya, apalagi itu untuk perbaikan diri kita. Berhentilah membela diri dari kalimat ‘Manusia Bukan Malaikat’. Bukankah kita bisa banyak belajar dari kesalahan?

“Khudzil hikmah wa laa yadhurruka min ayyi wia-in kharajat…” Ambillah mutiara hikmah dan jangan merisaukan kamu dari mana hikmah itu keluar. Bukankah begitu agama kita mengajarkan? Bagaimana bisa kita mengambil ‘mutiara’, jika ajaran-Nya saja kita sangkal dengan dalih ‘manusia bukan malaikat’?

Wallahu a’lam…