Larangan Mencaci Sesama Muslim dan Bahayanya

0
698
jaga lidah

Oleh : Sarah Ufaira

Pernahkah kita menyimak Firman Allah Swt dalam QS. Al-Hujurat: 10
“Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Dalam ayat tersebut Allah Swt secara jelas menerangkan, bahwa orang-orang yang beriman antara yang satu dengan yang lain adalah bersaudara. Namun melihat fenomena yang terjadi saat ini, bahkan disekeliling masyarakat kita sekalipun masih terdapat kejadian-kejadian dimana muslim satu sama lain saling mencaci, mencela dan menyebut dengan sebutan yang tidak sepantasnya. Padahal hal ini juga telah diperingatkan oleh Allah Swt dalam QS. Al Hujurat: 11

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita yang lain (karena) boleh jadi (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita bahkan  sangat mengkhawatirkan, karena tidak hanya mencaci, menuduh, memberi gelar yang sifatnya buruk secara bahasa namun juga menyangkut aqidah ataupun tauhid seseorang. Seperti mengkafirkan, memusyrikkan, membid’ahkan dan lain sebagainya. Hal ini tentunya mengundang keperihatinan kita semua, disatu sisi kita semua adalah saudara seiman yang harus memegang teguh persatuan di satu sisi kita khawatir jika kebiasa-kebiasan seperti itu (pengkafiran, pemusyrikkan, pembid’ahan) terus dilakukan akan memberi akibat yang buruk bagi penuduhnya yang sebenarnya mereka juga saudara kita sendiri. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi Saw:
سياب المسلم فسوق وقلتاله كفر
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran (HR. BUkhori dan Muslim)

لايرمي رجل رجلا بالفسق أو الكفر, الاّ ارتد ت عليه, إن لم يكن صاحبه كذلك
“Tidaklah seorang menuduh oran lain dengan kefasikan atau kekufuran, melainkan akan kembali kepadanya tuduhan tersebut jika yang dituduhnya tidak demikian (HR. Bukhori)

Tentu kefasiqan dan kekafiran adalah dua gelar yang tidak ingin kita dapatkan. Karena dua hal tersebut adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Allah Swt.

Kita tentunya masih ingat dengan kisah Usamah bin Zaid yang ditegur oleh Rasulullah SAW karena membunuh seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat . pada suatu peperangan disuatu daerah, pada saat itu Usamah bin Zaid dan sejumlah sahabat lainya berhasil mengepung  seorang musuh. Ketika akan dibnuh tiba-tiba orang tersebut mengucapkan kalimay syahadat. Mendengar kalimat itu sahabat Anshor tidak jadi membunuhnya, tetapi Usamah bin Zaid menikamnya hingga tewas dengan ujung tombaknya. Ketika mendengar peristiwa tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada Usamah, “apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan “Laa Ilaaha illallah”?. Usamah menyampaikan alasanya kepada Rasulullah SAW mengapa ia tetap membunuh orang tersebut. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan kalimat itu hanya untuk melindungi dirinya dariku.” Tetapi, Rasulullah SAW tetap mengulang-ulangi pertanyaanya berikut :

“Apakah kamu membunhnya setelah dia mengucapkan “tiada tuhan selain Allah?”
Bahkan dalam riwayat Rasulullah SAW bertanya kepada Usamah, “Apakah kau telah membedah dadanya sehingga kau tahu dia telah mengucapkan kalimat itu atau tidak?” (HR.Bukhari,Muslim, dan Ahmad)

Sebagai umat Islam, tentu kita berharap fenomena-fenomena tersebut tidak terjadi. Sebagai muslim dari nurani yang dalam  tentunya kita sangat ingin dan mendambakan umat Islam ini bersatu, karena pada dasarnya kita semua adalah saudara. Kita tidak ingin hidup dalam perpecahan, permusuhan dan juga gesekan-gesekan yang ditimbulkan dari cacian, bahkan ketika meninggalpun semoga kita semua tetap diakui gelar kita oleh Allah Swt sebagai seorang muslim dan juga mukmin. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin