Larangan Mencabut Uban Dalam Islam

0
527
dilarang mencabut uban

Oleh: Aannisah Fauzaania

Allah berfirman, “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar Rum : 54)

Uban, kata ini tentu tak asing lagi bagi masyarakat kita. Uban ialah rambut berwarna putih yang tumbuh di kepala karena turunnya melanin dalam tubuh kita. Biasanya akan muncul saat seseorang memasuki fase dewasa akhir atau lansia dari hidupnya.

Meskipun ada pula di usia yang masih belia seseorang mempunyai uban, namun biasanya populasinya belum terlalu banyak. Kasus ini ditemukan pada seseorang yang pengaruh genetiknya kuat atau pengaruh jenis makanan yang dikonsumsi. Semakin banyak bahan-bahan kimia yang dikonsumsi, maka perubahan warna rambut akan semakin cepat merata.

Uban kerap kali dianggap mengganggu atau merusak keindahan warna rambut. Kebanyakan orang pasti memilih untuk mencabut atau mewarnainya dengan warna lain ketika si putih ini muncul berumpun. Namun tahukah sahabat, ternyata si putih ini dilarang untuk dicabut. Referensi pelarangannya selain dari sisi medis juga dari sisi agama.

Menurut sisi medis, mengapa mencabut uban dilarang?

Alasannya adalah karena mencabut uban bisa merusak kondisi folikel, akar rambut, dan syaraf di kepala. Uban yang dicabut juga akan mengakibatkan berkurangnya kekuatan rambut sehingga komposisi rambut akan berkurang dan menipis. Uban terlihat jadi lebih dominan meskipun sebenarnya jumlahnya masih tetap sama.

Penelitian juga dilakukan oleh seorang dari Museo Museo Nacional de Ciencias Naturales di Spanyol, Ismael Galvan pada tahun 2012 lalu. Dalam studinya, Ismael Galvan telah menemukan bahwa orang yang memiliki uban justru panjang umur dan sehat. Uban muncul karena berkurangnya kadar melanin yang merupakan faktor utama yang menentukan warna kulit dan rambut seseorang. Kebanyakan melanin akan membuat kulit dan rambut tubuh menjadi gelap. Jika melanin berkurang, ini pertanda bahwa tubuh sehat dan kulit menjadi sehat.

Sedangkan dari sisi Islam, uban dilarang untuk dicabut karena ia kelak akan menjadi penerang pemiliknya saat hari kiamat datang. Rasulullah SAW bersabda,
لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة
“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Masyaa Allah, dari hadist rasul di atas bisa kita petik suatu makna bahwa Allah menjadikan kebaikan meskipun dalam perkara sekecil uban. Ketika seseorang menjaganya di dunia, maka seorang itu akan mendapat satu kebaikan baginya, dihapuskan satu kesalahannya, dan ditinggikan satu derajatnya.

Hadist lain menyebutkan, sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab bin Murrah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tumbuh ubannya karena (memikirkan) Islam, maka pada hari kiamat nanti dia akan mendapatkan cahaya.” [Tirmidzi No. 1634 –dan ini lafalnya-, dan Nasa’i 3144 dengan tambahan lafal ‘fii sabilillah’]

Jadi sahabat, peliharalah cahaya itu mulai kini. Sayang sekali jika Allah telah menjanjikan cahaya untuk hamba-Nya, namun dibuang begitu saja ketika satu helai uban dicabut. Wallahu a’lam. Semoga kita semua menjadi hamba yang senantiasa diridhai-Nya.