Kunci Keberhasilan yang Sering Dilupakan

0
190
berhasil

Oleh : Pipit Era Martina

Banyak orang yang salah dalam mengartikan kata ‘TAWAKAL’. Sehingga tidak jarang, ketika kita mengingatkan orang akan tawakal, kerap kali tanggapan mereka sinis dengan ucapan, “Tawakal saja tidak akan cukup, kita bukan hidup di zaman nabi. Perlu usaha dan kerja keras untuk menggapai apa yang kita mau.” Ucapan itu sebenarnya tidak salah, hanya saja pemahamannya saja yang belum benar. Karena pada hakikatnya, tawakal merupakan bagian dari usaha untuk memperoleh apa yang kita inginkan.

Tawakal itu sendiri berasal dari bahasa arab yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam Islam, tawakal berarti berserah diri, menyerahkan segala urusan duniawi dengan sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Imam Al-Ghazali merumuskan definisi tawakal sebagai berikut, “Tawakal ialah menyandarkan kepada Allah SWT tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram.

Orang yang beriman yakin dan percaya bahwa tidak ada satu kejadian pun yang terjadi melainkan dengan izin dan kehendak Allah SWT. Semua kejadian yang menimpa kita adalah berdasarkan kehendak dan ketetapan dari Allah SWT. Mustahil, jika sesuatu bisa terjadi tanpa ketetapan dari Illahi. Orang yang beriman juga yakin bahwa Allah-lah yang melindungi seluruh kehidupannya dari kejahatan atau sesuatu yang buruk. Mereka akan senantiasa bertawakal dan menyerahkan seluruh hidup dan urusannya hanya kepada Allah. Mereka tiada ragu sedikitpun akan perlindungan dan pertolongan Allah pada diri mereka.

Seringkali kita salah memahami arti dari tawakal seperti yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa tawakal dilakukan hanya dengan berdoa, berdiam diri tanpa berusaha dalam mengharapkan sesuatu. Ini merupakan pemahaman akan tawakal yang salah kaprah. Bertawakal itu haruslah dibarengi dengan usaha. Berusahalah semaksimal mungkin, kemudian bertawakallah, serahkan semua hasil dari usaha kita kepada Allah SWT. Bertawakal itu di ujung usaha, bukan tawakal tanpa usaha.

Nabi Musa dan pengikutnya ketika dikejar Fir’aun tidaklah berdiam diri begitu saja. Mereka berlari dan terus berlari untuk menghindari bala tentara Fir’aun. Namun, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, tiba-tiba ada kesulitan yang menghadang. Di depan mereka terbentang lautan, sementara di belakang mereka ada pasukan Fir’aun yang siap menangkap dan menyiksa mereka. Mereka buntu pada saat itu, mereka bingung harus bagaimana? Melanjutkan langkah dan masuk ke dalam lautan atau mati ditangan Fir’aun. Akan tetapi, mereka ingat untuk bertawakal kepada Allah, kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan laut. Dan Allahu Akbar, bentangan laut itu tiba-tiba terbelah dan di hadapan mereka terbentang jalan yang begitu luas.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan dan bertakwallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (QS. Al Ahzab: 1-3)

Demikianlah Allah menolong umatnya yang senantiasa memasrahkan diri kepada-Nya. Merekapun lari menyelamatkan diri melalui lorong yang terbentuk di tengah laut itu. Setelah sampai di seberang, nabi Musa as kembali memukulkan tongkatnya dan tiba-tiba lorong tersebut kembali berubah menjadi bentangan laut dan menenggelamkan Fir’aun beserta pengikutnya yang tengah berada dalam lorong. Benar-benar pertolongan Allah yang Maha dahsyat, tiadalah mungkin sesuatu mukjizat akan terjadi tanpa kehendak-Nya.

Sahabat, ketahuilah, sesungguhnya kunci keberhasilan seseorang yang mendatangkan keberkahan adalah usaha yang selalu diiringi dengan tawakal. Berpasrah dengan ketetapan Illahi, senantiasa berdoa di setiap jalannya usaha. Selalu ingat bahwa semua yang terjadi padanya dan apapun yang dimilikinya ialah pemberian dari Allah SWT. Menyadari akan sesuatu yang tidak akan berkah jika diperoleh dari hasil kesombongan, tiada mengikutsertakan tawakal di dalamnya. Itu hanya akan menjerumuskan pada sifat buruk dan menebalkan dinding keangkuhan, merasa diri sudah hebat tanpa bantuan Allah. Semoga kita semua terhindar dari sifat orang-orang yang berbangga diri tanpa menyadari keberkahan tiada mengiringi segala apa yang ia miliki. Yakinilah bahwa hanya dengan bertawakal yang mampu menempatkan kita pada panggung kesuksesan.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Thalaq: 2-3)

Nah, sahabat sekalian, yuk iringi usaha dengan tawakal agar hasil yang dicapai maksimal. Letakkan tawakal pada tempatnya, jangan sampai kita salah dalam memahami arti dari tawakal dan usaha. Ingat! Setelah kita berusaha, berdoalah dengan penuh pengharapan dan keyakinan serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Bertawakallah, supaya apa yang menjadi keinginan kita dikabulkan dan diberi jalan kemudahan dalam meraihnya. Allah tidak pernah sekalipun tidur, apapun yang umat-Nya katakan Allah pasti mendengar. Jika kesungguhan lekat dalam doa, maka akan dengan mudahnya Allah memenuhi permohonan kita. Tapi sebaliknya, jika berdoa hanya ala kadarnya saja maka jangan salahkan siapa jika apa yang diinginkan tidak segera dikabulkan.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa menyetarakan antara tawakal dan usaha. Percayalah, dengan kesungguhan memasrahkan diri pada-Nya, maka Allah SWT akan senantiasa melindungi dan meridhai kita semua. Aamiin

Lampung, Kamis 18 Februari 2016