Khadijah R.A. Pebisnis Sukses

0
277
bekerja

Oleh : Bunda Haifa

Siapa yang tidak mengenal kisah wanita terhormat Khadijah Rodliyallahu ‘Anha?, Selain akhlak mulianya,beliau juga terkenal sebagai muslimah yang sukses berbinis di masanya.  Kisah Khadijah Rodliyallahu ‘Anha menjadi contoh bahwa wanita dibolehkan menjalankan bisnis apalagi di zaman sekarang, dimana akses internet kian mudah yang membuat wanita juga mudah menjalankan usaha dari rumah. Artinya, wanita masih bisa menjalankan tugas utamanya yaitu sebagai ibu dan istri karena bisnis dapat dijalankan dari rumah. Meski ada sebagian golongan masih melarang wanita melakukan aktivitas usaha, dengan alasan tugas mencari nafkah adalah tugas suami.

Tentu kita semua sepakat akan hal tersebut tetapi kalau seorang wanita mempunyai potensi untuk bisa berpenghasilan tanpa melalaikan tugas utamanya, kenapa tidak ? Apalagi bila diridhoi dan didukung oleh suaminya serta tidak melanggar syari’at Islam.

Ada satu pengalaman seorang wanita yang selama suaminya masih hidup, beliau tidak ikut campur dalam usaha yang digeluti suaminya. Praktis hanya mengurus anak dan suami. Tentu tidak jelek mengurus anak dan suami karena memang itu tugas utamanya. Namun ada satu hal yang terlewati yaitu tidak mempersiapkan diri jika suatu saat menghadapi kondisi terburuk. Kita memang harus berharap kondisi terbaik namun harus bersiap dengan kondisi terburuk. Suatu hari,suaminya kecelakaan dan meninggal dunia. Beliau tampak gamang sekali menghadapi kehidupan tanpa suaminya. Tidak berpengalaman bekerja, berdagang atau lainnya. Beruntung masih mempunyai seorang kakak ipar yang peduli, jadi kehidupan beliau dan anak-anaknya masih bisa tercukupi.

Namun, beda ceritanya jika beliau sudah bersiap dengan kondisi terburuk, beliau tidak akan bergantung kepada orang lain, bisa lebih mandiri dan tangannya tidak selalu di bawah meski Allah juga bisa berkehendak lain. Bagaimanapun, seorang istri harus bersiap menjadi tulang punggung kedua. Ini sama sekali bukan meragukan mengenai jaminan rezeki dari Allah SWT. Rezeki memang sudah ditetapkan,namun harus tetap dijemput bukan ? Tidak sedikit istri yang kolaps ketika suami sudah tidak mampu lagi memberi nafkah, misalnya karena meninggal atau sakit berkepanjangan. Orang tua pun sudah tidak ada atau kalaupun ada sudah tidak bisa lagi menanggung hidupnya.

Akhirnya keluarga tidak lagi harmonis. Tidak sedikit kasus perceraian, ketidakharmonisan dalam rumah tangga berawal dari masalah ekonomi. Lagipula tidak ada salahnya seorang wanita atau seorang istri belajar berpenghasilan apalagi di zaman sekarang di mana tanpa keluar rumahpun, bisa berpenghasilan.  Andaikan kondisi baik hingga akhirnya, berkecukupan terus menerus, apa yang didapat wanita bisa digunakan untuk kebaikan bagi orang lain. Didedikasikan untuk dakwah misalnya, seperti yang dilakukan oleh Khadijah Rodliyallahu ‘Anha.

Pada 14 abad yang lalu telah ada contoh pebisnis sukses yaitu Khadijah Rodliyallahu ‘Anha. Beliau seorang wanita yang sangat kaya karena pandai menjalankan bisnis. Beliau sudah berbinis sejak bangsa Arab masih dalam masa jahiliyah atau kegelapan. Pada masa itu, perempuan dipandang sebelah mata bahkan praktek membunuh bayi perempuan yang baru lahir adalah lumrah. Perempuan dianggap tidak berharga karena tidak bisa diajak berperang. Namun, di tengah perilaku bar bar bangsa Arab saat itu, Khadijah mampu menunjukkan kemuliaannya sebagai wanita. Beliau menjalankan bisnis dan mampu memberi lapangan pekerjaan untuk kaum laki-laki, termasuk Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Meskipun beliau hidup di masa jahiliyah namun selalu berperilaku lurus. Perilakunya yang lurus itulah salah satu kunci utama kesuksesannya dalam berbisnis. Saat itu tidak hanya beliau saja pedagang wanita yang telah sukses, namun hanya Khadijah yang terkenal berperilaku lurus dalam menjalankan bisnisnya.  Khadijah terlahir di keluarga pedagang yang terhormat, kaya raya, dan disegani. Keluarga Khadijah selalu menghindari praktek-praktek tidak terpuji dalam berbisnis.

Kekayaannya bertambah ketika beliau mendapat warisan dari almarhum suaminya. Namun, beliau tidak seperti wanita Quraisy kebanyakan yang lebih suka menyimpan harta daripada digunakan untuk menjalankan bisnis. Beliau pergunakan harta warisan tersebut agar produktif, yaitu untuk menjalankan bisnis dan pada akhirnya berkembang. Tidak sedikit orang yang mempunyai modal berupa uang, namun tanpa kepandaian mengelolanya mustahil uang tersebut akan berkembang.

Di tangan Khadijah Rodliyallahu ‘Anha, harta kekayaan tersebut bertambah berlipat-lipat karena digunakan untuk menjalankan bisnis. Kesuksesannya dalam dunia bisnis selain disebabkan kekuatan spiritual yang tinggi, memiliki modal, cerdas mengelola modal juga karena dapat memilih karyawan yang tepat. Saat itu ia lebih memilih Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang waktu itu belum menjadi nabi untuk dijadikan karyawannya daripada pemuda quraisy lainnya. Beliau memilih Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam karena reputasi kejujurannya. Setelah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam direkrut menjadi karyawannya, bisnis Khadijah semakin maju.

Di sinilah contoh kecerdasan Khadijah Rodliyallahu ‘Anha dalam memilih karyawan. Pemilihan karyawan yang tepat adalah salah satu kunci kesuksesan KhadijahRodliyallahu ‘Anha .

Ketika menikah dengan Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, Khadijah Rodliyallahu ‘Anha menjadi penyumbang dana dalam misi dakwah Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Khadirah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam adalah penyandang dana utama dalam dakwah pada masa itu, terutama pada masa sulit. Jadi semua hartanya beliau dedikasikan untuk kemuliaan Islam. Kita juga dapat meniru beliau yaitu menjadi pebisnis yang sukses yang digunakan untuk sebesar-besar kemuliaan Islam, membantu sesama, atau untuk membantu suami menafkahi keluarga. Insya Allah hal terssebut bernilai sedekah seperi sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ketika Zainab mendatangi beliau, “Wahai Nabi Allah, pada hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Aku mempunyai perhiasan dan aku ingin sedekahkan tapi aku melihat suamiku (Ibnu Mas’ud) dan anaknya lebih berhak untuk mendapatkan sedekahku.” Nabi SAW bersabda, “Suamimu dan anak lelakimu lebih berhak untuk menerima sedekahmu”. (HR. Bukhori).