Ketika Istrimu Selingkuh

10
7661
kamar

Oleh: Anna Jameela 

Wanita adalah sosok lembut yang Allah ciptakan sebagai fitrahnya. Namun, bukan berarti wanita lemah serta tidak pernah melakukan perbuatan salah seperti yang dilakukan oleh lelaki. Dalam rumah tangga, lelaki adalah pemimpin. Kewajiban memberi nafkah lahir batin adalah tugas utama lelaki, khususnya suami. Nafkah lahir batin mencakup banyak ranah, salah satunya kasih sayang. Banyak kasus rumah tangga berantakan hanya karena masalah yang satu ini.

pasutri

Jika dalam artikel sebelumnya saya menulis artikel berjudul, “Ketika Suamimu Selingkuh“. Maka kali ini saya ingin sedikit mengulas dan membuka sekelumit tabir alasan wanita (istri) selingkuh. Tentunya setelah melihat banyak kejadian hancurnya rumah tangga akibat seorang istri mengkhianati suaminya.

Seperti salah satu kasus, yang baru saja saya temui. Sebuah rumah tangga yang sudah dibangun selama dua belas tahun, kandas di tengah jalan disebabkan istrinya ketahuan selingkuh. Di saat proses perceraian  sedang berjalan, wanita dalam kasus ini silaturahim ke rumah. Tanpa diminta, beliau menceritakan sendiri kronologis kejadian dan apa penyebab ia berani melakukan hal itu.

Sembari berurai airmata, ia memulai cerita, “Mbak, aku tahu pasti di sini aku jadi bahan omongan, bagiku nggak papa, Mbak. Orang lain tidak mengerti masalah rumah tanggaku. Aku yang lebih tahu. Aku sakit hati sama suamiku. Sudah sering aku melihat SMS mesra dia dengan wanita lain, setiap kutanya, ‘SMS orang nyasar’, katanya, Mbak. Sejak anak kedua kami lahir hingga saat ini, dia tidak menafkahiku secara batin. Sudah tiga tahun dia nggak pernah menyentuhku sama sekali. Di rumah, aku diacuhkannya. Uang belanjaku dibatasinya. Kalau ditegur, dia diam dan marah. ”

“Jadi itu alasan Mbak selingkuh?”

“Ya! Aku sakit hati, Mbak. Merasa tidak dihargai. Aku juga butuh kasih sayang, aku juga butuh seks, aku juga berharap dimanja. Dia sudah berubah, nggak seperti dulu lagi.”

Saya mencoba bertanya, “Dimana kenal sama selingkuhanmu, Mbak?”

“Saat rumah tanggaku bermasalah. Mantan pacarku SMS, katanya dapat nomor dari teman sekolahku dulu. Kami janjian ketemu, ternyata dia tinggal nggak jauh dari rumah kami yang lama. Dari situlah awalnya. Aku bertemu dengan mantan pacarku dan menceritakan semua masalahku.”

“Mbak menyesal tidak sekarang, setelah melakukan hal tersebut?”

“Nggak. Mungkin begini sudah jalannya. Toh, pacarku ini lebih sayang sama aku ketimbang suamiku.”

“Ya, tapi saranku, Mbak harus tetap minta maaf kepada suami, biar bagaimanapun juga, terlepas Mbak melakukan ini disebabkan karena suami atau tidak, hal tersebut tidak baik, Mbak. Aku mengerti perasaan Mbak. Sekarang kan kalian sudah berpisah, Mbak juga rugi, anak-anak Mbak kasihan jadi korban, dan Mbak tetap punya tanggungjawab dosa kepada Allah.”

“Iya, Mbak. Aku tahu. Aku sudah taubat.”

Itulah, sekelumit percakapanku dengan salah satu wanita yang selingkuh bermotif dendam. Kurang kasih sayang, tidak terpenuhi hak batinnya, serta merasa tidak dihargai sebagai istri, adalah salah satu faktor pemicu seorang istri berselingkuh.

Suami, adalah sosok yang Allah kirim untuk menjaga wanitanya. Tidak hanya sebatas menjaga secara lahiriah, namun juga secara batiniah. Jika pada artikel sebelumnya saya menyebut bahwa suami adalah sosok manja, butuh perhatian, serta kasih sayang dari wanitanya. Pun sebaliknya istri. Apalagi wanita (istri) sudah jelas-jelas diisyaratkan Nabi SAW seperti tulang rusuk yang bengkok. Sudah sepatutnya ia punya hak dijaga, dirawat dan diperhatikan.

Kasih sayang dalam rumah tangga haruslah seimbang. Tidak semestinya seorang suami meminta perhatian, dilayani dengan baik, tetapi lupa pada kewajiban, serta lupa memenuhi hak-hak istrinya.

Ada tipe suami yang dengan memberi nafkah saja dirasa cukup. Tak perlu merayu, tak perlu menggoda istrinya, bahkan merasa tak perlu memanjakan istrinya dengan quality time. “Yang penting kan sudah memberi nafkah, mencukupi keperluan di rumah, itu sudah bukti cinta dan cukup.” Suami semacam ini barangkali lupa, bahwa di luar sana banyak sekali lelaki yang siap kapan saja memberi perhatian lebih pada istrinya apabila hal tersebut tak mampu sang suami lakukan.

Banyak yang lelaki lupakan dari wanitanya. Yakni menjaga. Menjaga perasaan istri, menghargai pengorbanannya, memuji serta merayunya mengingat sifat dasar wanita yang lebih bermain perasaan daripada logika. Kalau seorang istri mendapatkan kebutuhan itu di dalam rumahnya sendiri, insya Allah istri akan selalu setia kepada suaminya.

Bagi seorang istri, pengabdian setelah menikah itu nomor satu. Diajak berjuang bersama pun mereka mau, asalkan sang suami memperlakukannya bak ratu. Ini memang tidak mutlak, tetapi sangat penting untuk direnungkan oleh para lelaki. Tak ada asap jika tak ada api. Itu peribahasa paling lugas dan gampang dicerna.

Istri selingkuh 14% persen dari faktor suami. Ini hasil survey yang sangat akurat. Bahkan rata-rata saat ditanya jawabannya sama seperti wanita yang pada kasus di atas. Hasil survey juga menyatakan bahwa istri yang selingkuh diakibatkan masalah finansial lebih sedikit daripada yang kurang perhatian dan kasih sayang. Itu berarti, hak batin lebih utama daripada sekedar nafkah berupa materi.

Kelak, di yaumul hisab, suami adalah orang yang pertama kali ditanya, “Mengapa istrimu bisa sampai berbuat demikian? Bukankah tugas menjaga istri itu adalah tugas  suami?”

Sangat ganjil apabila seorang istri yang penuh kasih sayang, perhatian, dan kebaikan-kebaikan sang suami, tiba-tiba selingkuh tanpa sebab. Pemimpin lah yang seharusnya mampu mengayomi istri serta membawa rumah tangganya menjadi lebih baik lagi. Seandainya para suami sadar hal ini, tentu mereka akan menjaga istri-istri mereka agar tidak berbuat sesuatu yang jelas-jelas dilarang oleh Allah.

Istri itu tergantung bagaimana suaminya memperlakukannya. Banyak sekali istri yang diam menahan perasaan sendirian akibat ulah suaminya yang acuh dan tidak memedulikan sama sekali. Para suami harus sadar bahwa hal ini sangat menyakiti sang istri. Kasih sayang dalam rumah tangga harus senantiasa dipupuk dijaga dan dibina.

Mengapa banyak para suami yang terkejut ketika mendapati istrinya selingkuh? Intropeksi diri adalah hal paling utama yang harus suami lakukan apabila hal tersebut terjadi. Mengapa? Apa penyebabnya?

Ironisnya, ketika seorang suami mendapati istrinya bersama laki-laki lain, seketika itu juga ia menceraikan istrinya. Perceraian adalah jalan terakhir apabila ketika diberi peringatan sang istri tidak juga mau berubah. Suami wajib marah dan cemburu manakala mendapati istrinya terindikasi selingkuh. Namun apakah tidak lebih bijak jika kedua belah pihak juga saling introspeksi diri masing-masing. Tidak terburu-buru saling menyalahkan, karena itu bukan sikap orang dewasa.

Asadullah Al Faruq, penulis buku Ketika Keluarga Tak Seindah Surga, menuturkan bahwa seorang istri memiliki hak atas suaminya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “… Dan mereka (istri-istrimu) mempunyai hak atasmu.” Hadits tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan ia menshahihkan. Di antara hak istri (yang tentu menjadi kewajiban suami) adalah memberikan kasih sayang, perhatian atau pergaulan yang baik, sebagaimana Allah berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS An Nisa’ : 19)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Bertutur sapa dengan baiklah kalian kepada mereka, dan berlakulah dengan baik dalam semua perbuatan dan penampilan kalian terhadap mereka dalam batas yang sesuai dengan kemampuan kalian.” Dengan demikian, memberi kasih sayang dan perhatian merupakan kewajiban yang apabila dilalaikan oleh suami, maka ia berdosa. Karena Allah berfirman, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibanmu menurut cara yg ma’ruf.” (QS. Al Baqarah : 228)

Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling kasih sayang terhadap istrinya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).”

Jika suami tidak memberi kasih sayang, perhatian atau perlakuan yang baik terhadap istri, maka ia berdosa. Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan suami agar bertakwa kepada Allah dalam memenuhi hak istri dan tidak boleh mengurangi hak-haknya kecuali yang dibenarkan menurut syariat. Demikian disampaikan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam Kitabul Muntaqa Syaikh Fauzan, 3/244.

Demikian sedikit kutipan dari penuturan Asadullah Al Faruq, penulis buku-buku munakahat, keluarga sakinah dan Islamic Parenthing. Penuturan tersebut menjelaskan betapa pentingnya seorang suami memenuhi hak kasih sayang kepada istrinya. Pemaparan di atas sudah sangat jelas, betapa sesuatu yang tampak kecil dan sering diabaikan oleh suami terhadap istrinya, ternyata merupakan dosa besar yang kelak dipikul, tak hanya oleh istri, tetapi juga dipertanggungjawabkan sang suami.

Bagi para suami, mungkin kasih sayang itu dianggap kurang perlu, sehingga sering disepelekan. Namun kebanyakan dari mereka tidak sadar, sesuatu yang mereka anggap sepele dapat menjerumuskan mereka pada dosa besar yang kelak turut menyeret mereka dalam pertanggungjawaban di yaumul hisab.

Pesan saya kepada seluruh suami :

Jaga istrimu atau kau rela ia dijaga lelaki lain yang tidak halal baginya, tetapi kalian turut andil dalam kemaksiatan tersebut. Tidak dapatkah kalian merenung sejenak, membayangkan apabila datang laki-laki lain mengusap air mata istrimu ketika ia menangis, memeluk dan menenangkannya dikala ia gundah, menawarkan sejuta rayuan berbisa yang ‘mematikan’. Jika hal itu dapat kalian lakukan sendiri, mengapa harus membiarkan “pencuri” lain menyusup dalam rumah tangga kalian? Apakah kalian rela berbagi peran dengan lelaki lain?

Lihat!

Lihatlah wajah istrimu yang melayanimu 1 x 24 jam tanpa henti. Ia layani semua kebutuhanmu dan anak-anakmu, melupakan kepentingannya sendiri. Karena ia butuh surga. Istrimu manusia, bukan malaikat yang senantiasa taat. Hargailah ia sedikiit saja, manjakan, kasihi. Percayalah, ia jadikan kalian raja dalam istana, apabila haknya terpenuhi dengan baik. Fitrah lelaki memiliki ego yang lebih tinggi, tetapi itu bukan alasan kalian tak mampu memenuhi kewajiban sebagai pemberi nafkah lahir batin seperti yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Semoga banyak suami yang sadar bahwa menyanyangi dan memberi perhatian bukan saja tugas sang istri, namun juga tugas suami sebagai pengayom yang baik, imam yang baik, serta lelaki yang selalu mampu dibanggakan di tengah keterbatasannya sebagai manusia. Dengan demikian, insya Allah tidak banyak kasus perceraian yang terjadi akibat istri selingkuh karena ada lelaki tangguh dengan perisai kasih sayang yang senantiasa siap menibas apabila hembusan syaitan mulai masuk ke dalam rumah tangga mereka.

Semoga. Aamiin.