Ketika Galau Menyapa

0
380
sedang galau

Oleh : Pipit Era Martina

GALAU, apa sih arti kata galau bagi kalian? Kata ini sangat populer pada kalangan remaja, sedikit-sedikit bilang, “Aku lagi galau, nih!”. Nah, untuk lebih jelasnya lagi, yuk kita mengulik kata GALAU seluas-luasnya.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata ga-lau atau ber-ga-lau berarti sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak karuan. Nah, itu artinya galau adalah keadaan di mana suasana hati dan pikiran dalam keadaan kacau dan sibuk beramai-ramai menyatakan bahwa ia sedang galau.

Telepas dari definisi KBBI, galau mengandung dua arti. Pertama, galau adalah sebuah perasaan yang mengungkapkan rasa bingung atau bimbang dalam menentukan suatu hal. Seperti menentukan satu hal di antara dua pilihan. Misal, “Aku galau mau pilih ikut tante atau ikut kakak, keduanya sama-sama baik dan sayang sama aku.” Kedua, galau bisa juga diartikan sebagai ungkapan rasa sedih, gundah, di mana keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan.

Pembahasan tentang perasaan galau tidak akan berujung hanya dengan satu kata. Sahabat, ketahuilah satu hal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan makhluk lengkap beserta pernak pernik problematika, termasuk perasaan galau yang sering dirasakan oleh kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kesusahan.” (QS. Al Balad: 4)

Jadi, bukan hanya aku dan kamu yang mengalami dan merasakan kegalauan, akan tetapi semua manusia. Semua insan tanpa terkecuali mengenal galau. Maka, untukmu yang sedang bergalau ria, jangan pernah merasa seolah-olah hanya engkaulah satu-satunya orang yang berteman dengan galau. Kita semua sama, sama-sama mengenal si galau.

Ada tiga macam galau yang penulis temukan dari beberapa sumber di antaranya:
1.Galau yang mulia (humumun ‘aliyah)
Galau model ini adalah galaunya para Nabi, para Rasul, para Ulama, orang-orang shalih, ahlul ilmi dan ahlu ibadah. Ternyata para Nabi dan Rasul bisa terserang galau juga ya? Tapi perlu dilihat dan diketahui, galau seperti apa yang dirasakan mereka. Para Nabi dan orang-orang shalih galau karena melihat fenomena dakwahnya. Mereka merasakan kesedihan dan kegalauan ketika melihat beberapa umatnya secara terang-terangan menolak dakwah kebaikan. Sedangkan galaunya ahli ibadah ialah karena mereka takut ibadahnya kurang atau belum ikhlas sepenuhnya, belum sempurna kebaikannya dan lain sebagainya.

2.Galau yang merusak ketenangan
Nah, galau yang seperti ini merupakan galau yang menyapa para ahli maksiat. Ternyata mereka yang hobby berpesta maksiat juga mengalami kegalauan. Para pelaku maksiat galau ketika pesta mereka kekurangan peminat, galau ketika pesta mereka tidak berjalan sempurna dan galau ketika pesta maksiat mereka mulai tercium oleh oknum pemberantas maksiat. Sesungguhnya galau ini, berada di tingkat paling atas, mengapa? Karena mereka selalu dihantui oleh bayangan rasa bersalah, namun mereka merasa tidak memiliki upaya untuk meninggalkan maksiat. Itulah sebabnya, galau jenis ini merusak ketenangan jiwa dan jika dibiarkan bisa berdampak buruk pada psikologinya.

3.Galau yang perlu arahan dan pembinaan
Galau yang seperti ini nih, yang sering dialami oleh kebanyakan dari kita. Galau yang disebabkan oleh permasalahan dunia yang melanda jiwanya. Galau yang mendatangkan kerugian, kesedihan dan kegundahan. Seperti dipecat dari pekerjaannya, ditolak lamarannya, ditinggal suami atau istri, dan masih banyak lagi jenis kegalauan yang penyebabnya urusan dunia. Dan kegalauan yang seperti ini memerlukan pembinaan serta arahan agar tidak terjerumus pada pintu-pintu kerusakan hati dan jiwa.

Lalu bagaimana cara penanganan para galau-ers tersebut agar tidak berlarut-larut dan menjadi penyakit? Ada beberapa terapi galau menurut pandangan Islam:
1.Taubat dan Istighfar
Allah SWT berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Perbanyaklah mengucap Istighfar ketika merasakan kedatangan galau dan segeralah mengucap taubat. Tinggalkan kesedihan yang melenakanmu, menyempitkan dada dan renungilah akan kesalahan-kesalahan masa lalu. Bisa jadi, kesedihan yang didapat hari ini adalah buah dari kesalahan masa lampau, maka beristighfarlah.

2.Meningkatkan Ketakwaan
Kegalauan yang tiba-tiba datang menyapa, terkadang justru menimbulkan masalah baru. Tidak dipungkiri, bahwa rasa galau dapat menyempitkan pandangan, menghentikan jalannya hati dan merusak ketenangan. Oleh karena itu, obatilah dengan ketakwaan, lampiaskan rasa galau itu pada aktifitas yang mengarah pada ketakwaan, niscaya Allah akan menghapus kegalauan yang menyelimuti hati. Seperti janji Allah dalam firmannya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Qs. Ath-Thalaq: 2)

3.Memperbanyak Dzikir
Daripada melamunkan kegalauan, ada baiknya jika kesedihan diabaikan dengan menggenggam tasbih seraya berdzikir, supaya jiwa sedikit merasakan ketentraman. Allah SWT berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)

4.Memperbanyak Shalat, Sabar dan Selalu Optimis
Percayakan semua yang terjadi hanya kepada Allah semata, tidak ada yang memiliki daya dan upaya untuk menghilangkan kesedihan dalam diri umat-Nya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153).

Hendaknya kita senantiasa optimis serta percaya, bahwa dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan, dibalik kesulitan akan ada kemudahan. Seperti firman Allah dalam kitab-Nya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah: 5).

Jadi, apa lagi yang kita tunggu? Segera lakukan terapi ini, maka virus galau akan lenyap dalam waktu sekejap saja.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a: ‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada ditangan-Mu, telah berlalu padaku hokum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang engkau miliki, yang engkau menamakannya untuk diri-Mu atau yang engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.’ Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan. Tiba-tiba ada ang bertanya: ‘Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).” (HR. Ahmad no.3712 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Itulah beberapa penjelasan tentang kalimat ‘GALAU’ dalam pandangan Islam yang bisa penulis simpulkan. Untuk sahabat semua yang sedang bersama galau karena urusan dunia, karena sebuah perniagaan yang cukup menguras stamina, karena cintanya yang menggebu mendera jiwa, ataupun galau karena jodoh tak kunjung datang menyapa, yuk mari, kita sama-sama mencoba terapi galau di atas. Semoga setelah adanya penjabaran tentang terapi galau, kita bisa mengendalikan diri dan mengontrol hati dalam menghadapi kegalauan yang sering menyapa dalam perjalanan hidup.

Tetap semangat melawan galau, dan terus percaya bahwa galau bukanlah hal yang indah, melainkan suatu hal yang bisa menjerumuskan kita ke jurang masalah yang lebih rumit. Yuk mari, bersama kita berusaha untuk melawan dan memusnahkan kata “GALAU” dalam diri.

Lampung, Kamis 25 Februari 2016