Kembalikan Surga Mereka

0
233
keluarga bahagia

Oleh : Rina Perangin-angin

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah teman. Sebut saja si A. Dia berasal dari keluarga yang kaya. Memiliki gadget lebih dari satu dan tentunya keluaran terbaru. Sudah difasilitasi mobil sendiri. Jadi kemana-mana ya nyetir sendiri. Rumah besar lengkap dengan asisten rumah tangga yang siap melakukan semua perintahnya. Kuliah di Universitas terpopuler didaerah kami dan masuk jurusan terfavorit juga. Yakni kedokteran.

Sekilas orang memandang kehidupannya sempurna. Tak terkecuali Saya. Saya sempat berpikir bahwa kehidupannya nyaris sempurna. Namun pemikiran itu langsung kandas ketika dia mengatakan kalau dia merindukan keluarganya. Lantas saya bertanya, kemana orangtuaya? Dimana abang dan adiknya? Bukankah dia memiliki dua saudara lagi?

Dia diam sejenak sebelum akhirnya tangisnya pecah. “Orang tuaku sibuk bekerja. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami makan bersama di meja makan. Sedangkan saudaraku juga sibuk keluyuran. Kami seperti memiliki dunia masing-masing, Rin,” katanya menceritakan kehidupannya sambil memelukku.

Saya kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin dalam sebuah keluarga, setiap anggota keluarga memiliki dunianya masing-masing? Bukankah semestinya dalam keluarga harus saling mengisi, saling melengkapi? Saya berusaha menghiburnya karena kami berteman memang sudah sangat lama. Namun baru sekarang, baru sejak kuliah ini, dia mau menceritakan pahitnya kehidupan yang harus dia jalani.

Cerita di atas merupakan satu dari sekian banyak cerita yang benar-benar terjadi. Dimana anak dan orang tua tak lagi saling mengenal. Mereka memang mengenal wajah satu sama lain, tetapi apakah mereka mengenal sampai ke hati?

Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan para orang tua yang sibuk bekerja. Karena bagaimana pun, orang tua bekerja untuk memberi yang terbaik bagi anak. Untuk menyekolahkan anak sampai sekolah tertinggi. Untuk membelikan gadget dengan tujuan anak mampu mengikuti perkembangan zaman. Untuk memberi rumah yang nyaman ditinggali. Kita wajib berterima kasih untuk semua kerja keras para orang tua.

Sayangnya, orang tua kadang lupa, bahwa sebagai orang tua, mereka tidak hanya wajib menafkahi anak secara lahir, tetapi juga batin. Ya, batin berupa kasih sayang, cinta dan perhatian.

Anak memang butuh rumah yang nyaman, sekolah yang bagus, tetapi anak lebih butuh kasih sayang. Setiap anak menginginkan orang tuanya tahu perkembangan sekolahnya. Jangan sampai asisten rumah tangga yang lebih mengetahui perkembangan si anak. Jangan sampai si anak malah lebih dekat dengan asisten rumah tangga dibanding dengan ibunya sendiri.

Jika ada cerita yang menyatakan seorang istri berselingkuh karena kurang kasih sayang dari suami, maka anak akan menjadi liar, terjerumus ke pergaulan bebas karena kurang kasih sayang dari orang tua. Dan itu benar-benar sudah terjadi. Banyak korbannya. Lihatlah di TV, betapa banyak pelaku seks bebas adalah remaja! Berapa banyak pemakai narkoba yang ternyata remaja? Berapa banyak pelaku tindak kriminal lainnya adalah remaja? Berapa banyak pelaku aborsi adalah remaja?

Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa harus remaja? Apa yang membuat mereka senekad itu? Sebab, mereka kurang kasih sayang. Mereka butuh kasih sayang, sehingga mencari di luar.

Buat para orang tua, marilah lebih peduli dengan anak. Bekerja boleh, tetapi utamakan kebahagiaan anak. Buat apa rumah besar bila anak tak bahagia tinggal di dalamnya? Buat apa gadget terbaru bila akhirnya mereka gunakan untuk hal negatif? Apa gunanya mobil mahal bila akhirnya mereka gunakan untuk ajang balapan liar?

Ingatlah, mereka butuh kasih sayang. Mereka butuh cinta. Dan itu kewajiban orang tua untuk memberikannya. Kewajiban orang tua untuk mengontrolnya. Apa salahnya luangkan waktu sejam atau dua jam untuk bercanda dengan anak? Apa salahnya pulang kerja lebih awal supaya memiliki waktu luang sekedar bertanya bagaimana perkembangannya di sekolah?

Anak juga punya hak atas waktu orang tuanya.

Buat para orang tua, mulailah dari sekarang, detik ini juga. Kembalikan tawa mereka, kembalikan kebahagiaan mereka. Kembalikan surga mereka. Jika ada istilah  “Rumahku Syurgaku”, maka orang tualah yang memiliki andil untuk menghadirkan surga itu!