Kalau Nantinya Dikerjakan, Mengapa Harus Menunda?

0
216
menunda pekerjaan

Oleh: Arnie Syifannisa

Pintu sudah terbuka lebar sebagai tanda siap menerima siapa saja yang bergegas memasukinya. Namun alangkah lincahnya godaan setan menyergap. “Tunggu dulu! Masih ada banyak waktu untukmu. Jangan tergesa-gesa masuk!”, mungkin itu bisikan yang akan melenakan diri kita. Hingga tanpa disadari pintu itu pun perlahan tetapi pasti, tertutup rapat dan tak ada seorang pun yang mampu membukanya.

Jika sudah demikian, hancur sudah semua harapan. Yang ada hanyalah segurat wajah penuh sesal. Sedang kecewa sudah tiada berguna. Yah, itu akibat dari “menunda”. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

Seringnya kita menunda apa yang akan kita kerjakan membuat sesuatu yang besar terlihat begitu sepele di mata kita. Padahal mungkin itu hal terpenting dalam hidup kita. Apa saja contohnya? Ketika kita mendengar suara adzan berkumandang, bukannya bergegas mengambil wudhu untuk menyegerakan shalat, tetapi bermalas-malasan dengan dalih waktu shalat masih lama. Atau saat seisi rumah sudah kosong, dan sebetulnya ini kesempatan untuk membereskan rumah, tetapi ada acara televisi yang sedang tayang membuat kita terlena hingga menunda kegiatan bersih-bersih tersebut. Memilih menonton acara tv yang tak akan pernah habis jika dilayani terus-menerus. Habis satu tumbuh seribu. Dan itu berlaku juga di setiap alasanmu. Tumbang satu alasan akan ada lagi alasan-alasan menundamu.

Ingatlah pesan lima perkara sebelum lima perkara! Kelimanya merupakan nasehat bagi diri kita agar senantiasa menyegerakan sesuatu apabila sudah waktunya. Lima perkara tersebut, yaitu:

  1. Kaya sebelum Miskin.
  2. Sehat sebelum Sakit.
  3. Muda sebelum Tua.
  4. Lapang sebelum Sempit.
  5. Hidup sebelum Mati.

Sungguh setiap urusan itu mempunyai batas waktu yang tak pernah kita ketahui. Segala sesuatunya Allah-lah yang mengatur. Jadi, apakah pantas jika kita terlalu angkuh seolah-olah waktu ada pada genggaman kita. Bisa jadi sebelum kita melakukan apa yang hendak direncanakan Allah lebih dulu menyampaikan kita pada perkara yang terakhir. Mati. Sudah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Sungguh penyesalan itu datangnya selalu di akhir. Alangkah baiknya kita berusaha untuk tidak menunda-nunda apa yang sudah menjadi kewajiban kita, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Perhatikan nasihat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah aku menyesal melebihi penyesalanku terhadap suatu hari di mana matahari terbit di dalamnya dan berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku (kebaikan)”.

Masih belum terlambat bagi kita memperbaikinya. Kurangi kebiasaan menunda jika pada akhirnya semua itu juga pasti dikerjakan! Kalau kita hanya terpaku pada kesibukan, kemalasan, atau alasan “belum ada waktu”, sampai kapanpun kewajiban kita tidak akan pernah tertunaikan. Mulailah bergegas! Berlomba-lomba dalam kebaikan.