Jangan Pelit, Berterimakasihlah Kepada Istrimu!

0
578
dapur
Oleh : Ova Yanti

Wahai para suami, apa yang terpikirkan olehmu melihat gambar di atas? Lihatlah, istrimu bekerja dari terbukanya mata di pagi hari saat kau dan anakmu masih terlelap. Dia telah berperang dengan peralatan dapur untuk memasak sarapan pagi sebelum kau berangkat bekerja. Pekerjaan yang seharusnya bukan kewajibannya, tetapi ia lakukan hanya untuk menyenangkan hatimu. Semua ia lakukan sebagai baktinya, seorang istri yang taat.

Sudahkah Anda berterima kasih pada istri Anda hari ini? Jika belum, silahkan ucapkan kata ‘terima kasih’ itu untuknya. Walaupun sebenarnya dia tidak mengharapkan penghargaan itu, tetapi apakah Anda tahu, ada keajaiban di balik makna ucapan terima kasih tersebut?

Suatu hari, seorang suami melihat adanya senyuman yang terpancar dari wajah istrinya. Dia juga melihat adanya perhatian besar dari sang istri terhadap dirinya. Hal ini mendorong sang suami untuk mencari tau apa sebabnya, maka diapun berkata kepada sang istri.

“Istriku, cerah sekali wajahmu belakangan ini membuat aku merasa bahagia. Aku juga merasakan perubahan besar pada sikapmu terhadapku. Sebenarnya ada apa?”

“Suamiku, ini semua gara-gara kamu. Masih ingat, nggak? Beberapa hari yang lalu aku memasak masakan kesukaanmu, tetapi rasanya tidak enak bahkan sedikit asin. Tetapi apa ucapanmu waktu itu. Kamu berterima kasih atas usahaku guna menyenangkan hatimu, dengan lahap kamu habiskan masakanku walaupun pada akhirnya kamu sakit perut “

“Owww, gitu ceritanya!!!” 

Lalu suami tertawa dan istripun ikut tertawa. Hidup mereka terasa manis dan indah. Nah, lihatlah keajaibannya. Ucapan terima kasih itu dapat menjadi ‘mantera’ kelembutan dan kasih sayang untuknya.

Namun, lihatlah apa yang terjadi jika ada suami yang banyak mengkritik dan mencela istrinya saat melakukan kesalahan apapun. Anda jumpai juga suami yang tidak berterima kasih kepada istrinya ketika ia berbuat baik. Ia tidak pernah mendorong istrinya melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh, sang istri telah menyiapkan makanan yang disenangi suami di atas meja, kemudian dia terburu-buru mengantarkan anak ke sekolah. Jadi tidak sempat membersihkan rumah. Ketika ia pulang dari mengantar anak, sang istri langsung mencuci pakaian kotor sembari bersih-bersih rumah yang sebelumnya tidak sempat dibersihkan. Sorenya, ia menyetrika pakaian dan kembali memasak untuk makan malam. Jadi sang istri tidak sempat mengganti pakaian dan dandan. Ketika suami pulang, istrinya masih sibuk di dapur. Ah, lelah… Itu yang dirasakan, tetapi suami malah mencela.

“Apa sih kerja ibu dari tadi, masa jam segini belum siap masak? Baju ibu belum di ganti. Ih, jadi istri kok bau gini sih. Mana ada suami yang mau nempel?” ucapan suaminya itu telah menyakiti hati. Sang istri merasa terhina. Seharusnya ucapan terima kasih yang dia dapat karena telah membantu kewajiban suami dalam melakukan pekerjaan rumah, tetapi justru penghinaan yang di dapat.

Akhirnya, apa yang terjadi? Pertengkaran. Yaps! Pertengkaran. Istri tidak lagi mau mengurusi rumah dengan senang hati, semua dia lakukan dengan terpaksa. Di hatinya, buat apa bersusah-susah membersihkan rumah, masak yang enak, pakaian rapi dan wangi, tetapi tidak dihargai.

Terkadang suami berdalih  pada dirinya sendiri , khawatir istrinya merasa tersanjung dan terpedaya, jika ia berterima kasih atau memujinya. Ucapan ini tidak benar secara mutlak. Wahai suami yang mulia! Jangan bakhil terhadap sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan untukmu dan istrimu! Jangan lupakan hal-hal kecil seperti ini, karena ia mempunyai manfaat dan pengaruh luar biasa!

Apa ruginya jika memuji istri kerena kecantikan dan kerajinannya? Apa ruginya jika  Anda berterima kasih kepadanya atas suguhan yang ia siapkan untukmu? Apa pula ruginya  jika Anda menyatakan terima kasih karena ia yang  telah mengurus rumah dan anak-anakmu, walaupun itu merupakan tugas suami, tetapi ia melakukannya sebagai kewajiban? Ketahuilah, semua itu dapat memperkuat kasih sayang suami istri.

Jika istri mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, sang istri akan bahagia dan bertambah rajin. Istri makin terdorong untuk melayani suaminya dan bersegera menuju keridhaannya. Istri mendapatkan kasih sayang, belas kasih dan penghargaan.

Jika hatinya sarat dengan berbagai spirit dan dorongan, maka ia akan hidup bersama suaminya dengan penuh kedamaian, ketenteraman. Manfaatnya akan kembali pada suami dengan membawa cinta dan kegembiraan.

Wahai suami yang mulia! Jangan pelit ucapkan TERIMA KASIH kepada istrimu. Gunakanlah ‘mantera’ itu untuk mengikat kasih sayang untuknya.

Takengon, 8/2/2016