Jangan Cemburu Pada Rezeki Orang Lain

0
1960
burung

Oleh : Pipit Era Martina

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, sudah begitu jelas bahwa Allah telah membagi rezeki kepada umatnya secara adil. Lantas, mengapa kita harus cemburu dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain? Masih pantaskah kita menyalahkan Allah dengan apa yang kita miliki dan orang lain miliki? Tak jarang dari kita yang merasa tidak adil, merasa bahwa Allah itu pilih kasih. Mengapa dia kaya, saya tidak? Mengapa dia pandai dan saya bodoh? Dia bisa punya anak banyak, mengapa saya tidak bisa hamil lagi? Mengapa dan mengapa, pertanyaan seperti itu terkadang tanpa sengaja terlintas dalam pikiran ketika kita sedang dalam keadaan gundah, merasa bahwa hidup ini tidak berjalan.

Imam Ghazali rahimahullah menyebutkan fawaid dari nasehat Hatim Al-Asham, “Aku melihat manusia saling mencela dan saling membicarakan jelek (ghibah) satu dan lainnya. Aku dapati bahwa itu termasuk hasad (cemburu atau iri) dalam harta, kedudukan dan pengetahuan. Aku kemudian renungkan firman Allah Ta’ala yang artinya, ‘Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’ (QS. Az-Zhukruf:32). Aku sadari bahwa pembagian tersebut sudah ditentukan oleh Allah sejak takdir yang dahulu ada. Mengapa aku mesti hasad (cemburu) pada rezeki orang lain? Itulah yang membuatku tetap ridha pada pembagian Allah.” (dinukil dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Ghazali, hlm. 57)

Sesungguhnya jika kita mau mencoba merenungi jalannya kehidupan, begitu banyak rezeki yang telah Allah berikan kepada kita. Ketahuilah, rezeki bukan hanya berupa materi dan kedudukan atau istri dan anak. Iman, sehat, ilmu bahkan nafaspun merupakan rezeki yang Allah limpahkan kepada manusia, secara cuma-cuma. Semua makhluk yang berjalan di bumi ini memiliki hak atas rezeki mereka masing-masing. Sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud: 6)

Sahabat, jangan pernah merasa cemburu dengan apa yang diperoleh orang lain, karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana jalannya kehidupan yang selanjutnya. Bisa jadi suatu hari kedudukan kita saat ini akan bertukar posisi dengan orang yang tengah dicemburui saat ini. Apa yang dimiliki saat ini, haruslah disyukuri dan dijalani dengan penuh keikhlasan, semakin ikhlas hati menjalani maka tiada menutup kemungkinan bahwa Allah akan meningkatkan rezeki kita.

Meski penjabaran tentang rezeki yang sudah pasti dan jelas, bahwa antara satu manusia dan manusia lainnya memiliki rezeki yang setara, namun tetap saja namanya manusia memiliki rasa penasaran yang tinggi. Masih sering terlintas dalam hati pertanyaan-pertanyaan seputar rezeki yang Allah beri. Seperti, kenapa masih ada yang kelaparan jika Allah telah menjanjikan rezeki kepada semua makhluknya? Kenapa masih ada yang tidak memiliki tempat tinggal, terlunta-lunta hidupnya padahal ia termasuk orang yang ikhlas dalam menjalani hidup dan taat dalam beribadah dan tidak jarang kita melihat mereka yang dalam keadaan susah masih mau menyisihkan sebagian miliknya untuk disedekahkan. Lantas kenapa hal seperti itu masih menjadi pemndangan di muka bumi ini? Bukankah seharusnya tidak lagi kita jumpai orang-orang yang berbalut kesulitan, jika Allah telah menjanjikan rezeki yang setara kepada semua umatnya?

Ketahuilah sahabat, semua itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan apa yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS. An-Nahl: 71)

Sesungguhnya pada setiap kesulitan selalu ada hikmah di baliknya. Allah mengatur rezeki umat-Nya sedemikian rupa untuk suatu hikmah yang Allah ketahui. Bayangkan, jika semua manusia di muka bumi ini setara derajatnya, setara kekayaannya, apakah tidak membigungkan? Tidak ada lagi orang yang mau menerima sedekah kita, tidak ada lagi orang yang berjualan di pasar karena kebutuhan mereka sudah terpenuhi segalanya. Pernahkah kalian berfikir seperti itu? Selalu berpikir positif terhadap Rabb-mu itu lebih baik.

Allah SWT berfirman, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-‘Ankabuut: 62)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankbuut ayat 62 di atas sebagai berikut, “Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah, serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746)

Jadi, janganlah sekali-kali kita mengeluh dengan apa yang kita miliki saat ini, bisa jadi ini merupakan satu jembatan untuk meraih satu kesuksesan ke depan. Teruslah bersyukur dengan apa yang kita dapat, senantiasa ikhlas dalam menghadapi uji dan coba. Percayalah bahwa Allah akan membalas apapun yang kita lakukan detik ini, sekecil apapun itu. Jika kita miskin harta selama di dunia, berdoalah agar Allah melimpahkan harta di akhirat. Jika hidup selalu bergelimang kesusahan hingga ajal, maka berdoalah agar Allah hadiahkan surga dengan kebahagiaannya yang kekal. Oleh karena itu, belajarlah untuk mengulurkan tangan kebaikan, agar Allah pun mengalirkan kebaikan pada kita pula.

Semoga kita semua bisa sedikit lebih memahami tentang makna rezeki dan tidak lagi cemburu pada rezeki orang lain. Jika cemburu dirasa hadir, tataplah mereka yang memerlukan uluran tangan, membutuhkan banyak bantuan dan perbanyaklah memuji Rabb-mu agar diri tak terlena dalam buaian godaan setan yang terkutuk. Sahabat, langit tak selamanya biru dan bumi tak selamanya berputar, begitupun manusia yang tak selamanya berada dipuncak kesuksesan. Akan ada masa di mana kedudukan berputar dari satu manusia ke manusia yang lainnya.

Yuk, mari bersama kita renungkan perjalanan hidup kita. Sejauh ini nafas masih bernyanyi dan denyut jantung masih terus berirama. Pagi masih terlihat di pelupuk mata, bintang pun masih terlihat nyata dalam pandangan. Bukankah itu rezeki yang luar biasa? Allah Maha Kaya akan segala nikmat yang kita rasa. Perbanyaklah mensyukuri apa yang ada, abaikan harta yang mengelilingi orang lain. Kita dan mereka memiliki kisah perjalanan hidup yang berbeda. Fokuskan diri hanya pada Illahi, niscaya hidup serasa lebih berarti.

Lampung, Selasa 23 Februari 2016